I. KE ZAMAN KOMUNISME
Tiap-tiap pergaulan hidup di muka bumi ini, baik di Asia atau
Eropa, baik dulu ataupun sekarang, terdiri oleh klassen atau kasta, yakni kasta
tinggi, rendah. dan tengah.
Menurut pikiran KARL MARX, maka timbulnya kasta tadi, yaitu
disebabkan oleh perkakas mengadakan hasil, seperti cangkul, pahat dan mesin.
Adanya kasta tadi pada sesuatu pergaulan hidup, menyebabkan, maka politik,
Agama dan adat, dalam pergaulan hidup itu bersifat kekastaan atau bertinggi
berendah. Ringkasnya perkara mengadakan hasil, menimbulkan kasta, dan kasta itu
menimbulkan paham politik, agama dan adat yang semuanya bersifat kekastaan.
Oleh sebab itu kata Marx lagi, semua sejarah dari semua bangsa, ialah
pertandingan antara kasta rendah dan tinggi, antara yang terhisap dan yang
menghisap, antara yang terhimpit dan yang menghimpit. Demikianlah pada Zaman
Feodalisme atau Zaman Bangsawan, Kaum Hartawan yang terhimpit itu bertanding
dengan kaum Bangsawan dan Raja yang menghimpitnya. Di Eropa pada tahun 1789
Kaum Hartawan di Prancis bisa mengalahkan Kaum Bangsawan dan mendirikan
Peraturan Kemodalan seperti macam sekarang.
Dalam hal itu pertandingan belum lagi berhenti. Karena pada Zaman
Kemodalan sekarang, pertentangan kasta makin tajam, ialah antara Kaum Buruh
yang terbanyak dan tertindas itu dengan Kaum Hartawan, yang terkecil, tetapi
terkaya dan terkuasa itu.
Berhubung dengan lebar dan dalamnya pertandingan dalam Zaman
Kemodalan ini, maka kelak Kaum Buruh, kalau menang ia tidak saja akan
memerdekakan dirinya sendiri, seperti dulu Kaum Hartawan, melainkan akan
memerdekakan seluruh pergaulan hidup dan sekalian manusia. Dan oleh sebab Kaum
Hartawan di seluruh dunia bersatu, maka haruslah pula Kaum Buruh seluruh dunia
bersatu, buat manghancurkan musuhnya.
1. Watak Zaman-Bangsawan
Pada Zaman-Bangsawan, maka perkakas di sawah dan ladang, hanyalah
cangkul atau bajak. Di tempat pertukangan, pahat atau ketam yang semuanya
diangkat dengan tangan. Hasil sawah, pertukangan dan pertenunan, cuma buat
keperluan masing-masing orang atau masing-masing famili saja. Kalau ada
berlebih dari keperluan itu, barulah dijual, supaya bisa membeli kain, cangkul
atau bajak. Jadi perniagaan baru mulai timbul.
Ringkasnya pada Zaman-Bangsawan perkakas kecil, hasil sedikit dan
buat keperluan masing-masing famili saja. Sisa keperluan satu-satu famili juga
sedikit, sebab itu perniagaan masih lemah.
Beberapa tani, tukang dan saudagar pada Zaman Bangsawan
berkumpullah mendirikan desa atau kota. Buat menjaga keamanan dalam desa tadi
dan mempertahankan desa tadi pada musuh, maka mereka mendirikan Pemerintah
Desa. Anggota biasanya terdiri dari orang yang tua, yang pandai, cerdik, berani
dan mendapat kepercayaan dari orang banyak. Pangkat memerintah negeri akhirnya
jadi turun menurun dari bapak ke anak. Sekarang penduduk desa sudah mulai
terbagi atas kasta: Tani, Tukang, Saudagar dan kasta-memerintah, yaitu
Bangsawan. Apabila desa tadi banyak berperang-perangan, maka makin besar
kuasanya Kaum Bangsawan dan makin dalam kebangsawanan. Kemudian dua desa atau
beberapa desa mulai mangadakan perserikatan buat mempertahankan diri kepada
serangan dari luar. Urusan negeri dan peperangan sekarang jatuh di tangan
seorang Bangsawan yang tetinggi, yang sekarang berpangkat Raja dan berkuasa
lebih dari Bangsawan yang sudah-sudah. Makin banyak peperangan dan
kemenangannya Raja itu, makin besar kekuasaannya turun menurun.
Negeri bertambah besar, kekuasaan makin tertumpuk kepada Raja dan
Bangsawan, kekayaan makin tertumpuk kepada Kaum Hartawan serta kaum Buruh dan
Tani makin terhisap dan tertindas.
Supaya Buruh dan Tani yang terbanyak itu, takluk saja kepada Kaum
Raja dan Bangsawan, maka harus diadakan Agama, Didikan dan Adat yang bersifat
kekastaan atau kebudakan.
Gereja atau mesjid jatuh di tangan Kaum Bangsawan juga, anaknya
Rakyat diajar jongkok dan menyembah, sedangkan anaknya Raja serta Bangsawan
diajar memukul, memaki dan menerjang.
Demikianlah wataknya Zaman-Bangsawan itu di India, di Jawa atau
Tiongkok dan Jepang.
2. Watak Zaman Hartawan
Kira-kira 200 tahun yang lalu, kaum Hartawan di Eropa makin
bertambah kaya. Pertukangan, dan pertenunan yang dulu kecil-kecil, dan buat
keperluan masing-masing famili saja, sekarang sudah terkumpul pada satu pabrik.
yang memakai beratus-ratus kuli. Perniagaan sudah jauh melewati batas desa atau
negeri. Bank sudah meminjamkan kepada atau menerima uang simpanan dari seluruh
penduduk negeri.
Tetapi, walaupun kekayaan Kaum-Hartawan sangat maju, kekuasaannya
masih tinggal seperti dulu. Raja dan Bangsawan masih bisa ambil pajak
sehekendak hatinya. Kemerdekaan Kaum-Hartawan buat mengirim barang dari satu
negeri ke negeri lain sangat terhambat, karena barang-barangnya acap kali
dipajaki oleh Bangsawan atau Raja. Juga Kaum Pendeta, yakni keturunan Bangsawan
tak kecil keganasannya.
Buat merdeka mendirikan pabrik dan kirim mengirim barang, maka
Kaum Hartawan mesti merdeka dalam urusan politik-Negeri.
Dengan pertolongan Tani dan Buruh, maka Kaum Hartawan pada tahun 1789
bisa menghancurkan semua kekuasaan Kaum Bangsawan dan Raja Prancis. Sekarang
urusan ekonomi, dan politik luar serta dalam negeri sama sekali jatuh di bawah
tangan Kaum Hartawan dan Wakilnya.
Sekarang Modal bisa tumbuh dan menjalar kiri kanan dengan leluasa.
Dalam satu pabrik tidak seratus atau dua ratus, melainkan sudah sampai 30 ribu
orang kuli kerja (Inggris, Jerman dan Amerika). Hasilnya dalam satu jam saja
sudah beribu-ribu pikul. Mengangkutnya hasil tidak lagi dengan bahu, kerbau
atau kuda, melainkan dengan kereta atau kapal yang cepatnya seperti petir.
Dengan kelingking saja satu sekerup dibuka, mesin yang kuatnya sejuta kuda
berputar dengan sendirinya saja. Kirim mengirim dan pesan memesan barang ke
empat penjuru alam dijalankan dengan kawat atau radio. Dari Asia dan Afrika
tiap-tiap hari diangkut barang-barang yang mesti dikerjakan dalam pabrik di
Eropa, dan dari Eropa atau Amerika tiap-tiap jam berjalan kapal yang mengangkut
barang-barang pabrik ke Asia dan Afrika. Ringkasnya mesin kerja dengan kuat dan
cepat, Kuli terkumpul pada satu pabrik saja sampai beribu-ribu, pekerjaan
teratur dari satu administrasi-pabrik dan dikerjakan bersama-sama, sedangkan
perniagaan sudah internasional.
Tetapi seperti pada Zaman-Bangsawan ada pertentangan antara Kaum Bangsawan
dan Kaum Hartawan, begitulah juga pada Zaman Hartawan atau Kemodalan ada
pertentangan antara Kaum Hartawan dan Kaum Buruh serta Tani. Seperti ZamanBangsawan
mengandung Benih-Hartawan yang kelak akan menghancurkan Kaum-Bangsawan sendiri,
demikianlah pula Zaman-Hartawan kita ini mengandung Benih Buruh yang kelak akan
menghancurkan Kaum Hartawan.
Keyakinan ini kita Kaum Komunis tidak diperoleh dari limau-purut
atau ujung jari, seperti tukang-tukang ramal, tetapi kita peroleh dari bukti
yang nyata.
Pertentangan-pertentangan yang nyata dan tak bisa didamaikan pada
Zaman-Kapitalisme atau Hartawan, ialah:
I. Hak-Milik. Pada Zaman-Hartawan, seperti
juga pada Zaman-Bangsawan maka perkakas mengadakan hasil itu berpisah dari
orang yang mengadakan hasil, yakni Kaum-Buruh. Sebab perkakas itu bukan
kepunyaan Kaum-Buruh, melainkan satu atau dua orang Hartawan, maka hasil yang
diadakan oleh Kaum-Buruh tidaklah kepunyaan Kaum-Buruh sendiri, melainkan
kepunyaan yang memiliki perkakas, seperti: tanah, pabrik, kereta, kapal dan
lain-lainnya. Kaum Hartawan tak bekerja, tetapi ia memiliki hasil. Kaum Buruh
membanting tulang, tetapi tak memiliki hasil yang diadakannya sendiri.
Sebabnya, maka dunia sampai terbalik begitu, ialah karena hak-Milik, yang pada
semua negeri Bangsawan diaku sah oleh Wet (Bahasa Belanda untuk hukum - catatan
editor) dan agama, sekarang dalam Zaman-Hartawan menjadi racun. Dengan alasan
hak Milik itu, modal kecil menjadi besar, perusahaan kecil terpukul oleh yang
besar dan tani kecil terpukul oleh tani besar, sehingga tukang-tukang kecil dan
tanitani tidak lagi berpunya apa-apa. Kaum yang tidak berpunya ini, terpaksa
menjual tenaganya pada Kaum Hartawan dengan harga seberapanya saja, asal bisa
menolak bahaya lapar dan mati. Jadi sebab hak Milik tadi pergaulan hidup
terbagi dua: l. Kaum Hartawan Sang tersedikit orangnya, tetapi memiliki
Perkakas dan Hasil, dan 2. Kaum Buruh, yang terbanyak orangnya, yang sungguhpun
mengadakan hasil tak memiliki hasil itu, karena ia orang upahan saja.
II. Anarkisme. Sungguhpun dalam satu pabrik
ada teratur banyak dan caranya mengadakan basil, tetapi satu pabrik
berpukul-pukulan dengan yang lain. Kalau satu negeri mempunyai misalnya 100
pabrik kain, maka tiap-tiap pabrik ada mengatur dan menentukan banyak hasil
yang mau diadakan, buat masing-masingnya, tetapi yang 100 pabrik tadi tidak
mengatur banyak hasil buat seluruh negeri, melainkan masing-masing mengadakan
hasil buat memukul yang lain. Makin banyak hasil dapat makin murah harganya barang,
sehingga lawannya terpukul dan jatuh. Kalau hasil tiba-tiba menjadi terlampau
banyak, harga terlampau murah, dan pabrik tertutup, seperti teh, getah dan
minyak di Indonesia baru-baru ini. Walaupun Rakyat perlu memakai hasil itu,
tetapi yang punya tidak akan membagikan pada Rakyat, malah lebih suka membuang
hasil itu, seperti Kapitalis-Gandum di Amerika pada tahun 1922. Jadi hasil yang
diadakan oleh 100 pabrik tadi bukanlah buat negeri dan penduduknya, melainkan
buat perniagaan dan pukul-memukul dalam perniagaan. Demikianlah Kaum Hartawan
mengadakan hasil tidak rasional, yakni menurut keperluan orang banyak,
melainkan anarkistis, yakni sesukanya saja, buat mencari untung.
III.
Mesin. Buat pukul-memukul dalam perniagaan atau concurrensi, Kaum Hartawan
memakai mesin baru. Dengan jalan begitu hasil dengan cepat menjadi berlipat
ganda, sehingga harganya barang itu bisa murah sekali. Tuan pabrik yang masih
memakai mesin tua, tidak bisa menghasilkan begitu banyak dan begitu cepat.
Harga barangnya tinggal mahal, dan akhirnya ia jatuh. Tetapi mesin baru tadi
mengurangkan tangan yang mengangkatnya, karena mesin itu bisa dijalankan dengan
uap atau listrik saja. Berhubung dengan memakai mesin baru, beribu-ribu buruh
dilepas, karena melimpah. Tiap-tiap negeri di Zaman Hartawan penuh dengan
limpahan Buruh, yakni buruh yang dilemparkan dan tidak bisa dapat kerja.
Limpahan Buruh ini, selalu bertambah-tambah, karena mesin baru tiba-tiba
menaikkan hasil, dan tiba-tiba naiknya hasil tiba-tiba pula mendatangkan krisis
yakni jatuh harga barang. Kalau krisis datang beribu, berjuta buruh dilepas.
Ringkasnya Zaman-Hartawan penuh mempunyai perkakas (mesin), dan penuh mempunyai
hasil, tetapi sebaliknya berjuta manusia tanpa pekerjaan dan hidup dalam
kelaparan. Nyatalah sudah Kaum Hartawan tidak bisa mengurus keperluan Rakyat.
IV. Kasta. Pada Zaman-Hartawan satu kongsi
perniagaan bisa maju dengan dua jalan: pertama dengan memukul, kedua dengan
berkawan. Kalau satu kongsi mempunyai modal yang besar, tentu ia dengan
sementara menurunkan harga barangnya, bisa menjatuhkan musuhnya. Tetapi kalau
mereka sama-sama kuat, maka ia mencoba berserikat. Dengan perserikatan mereka
mudah menaikan harga barang dengan sekehendak hatinya, karena tak ada
persaingan lagi. Yang kerugian tentulah Rakyat juga, yang terpaksa membayar.
Dengan jalan berserikat itu dua atau tiga maatschappy (perusahaan) menjadi
sindikat. Sindikat ini kurang teratur lagi, karena masih banyak kepala yang
mengurus, ialah kepala-kepala dari maatschappy (perusahaan) yang berserikat.
Supaya urusan lekas, maka kepala yang banyak tadi ditukar jadi satu, sehingga
perniagaan bertambah kuat, urusan rapi dan lekas, karena urusan
ge-centraliseerd yakni mempunyai satu kepala saja. Inilah namanya trust. Trust
ini bisa berserikat lagi dengan trust lain, seperti trust besi dengan trust
arang, sehingga harga arang dan besi boleh dibikin sekehendak yang punya trust.
Di Jerman umpamanya Stinnes tidak mempunyai satu, melainkan bermacam-macam
trust, seperti arang, besi, kertas, kereta, kapal, Banken, kayu, dan
sebagainya. Jadi pertama harga grondstof atau barang asli, yang perlu
dikerjakan di pabrik bisa rendah sesuka Stinnes saja. Sebaliknya fabriekswaren
atau barang pabrik boleh dia naikkan sesuka hatinya, karena pabrik, kereta, kapal
dan surat kabar buat advertensi sama sekali jatuh ditangannya. Jadi semua
kongsi, maatschappy (perusahaan) dan Sindikat jatuh di bawah
combinatie-trust-Stinnes. Semua urusan ekonomi di Jerman hampir tergenggam di
tangan satu manusia saja. Juga Bank dari kongsi kecil menjadi Sindikat,
Sindikat menjadi trust dan Trust-Combinaties. Jadi semua urusan Bank jatuh di
bawah kekuasaan satu manusia pula (Stinnes). Bank pada tiap-tiap negeri memberi
pinjaman pada industri. Supaya ia dapat untung tetap, maka ia adakan kontrol
pada industri tadi. Akhirnya industri jatuh di bawah kekuasaan Bank. Bank
memberi pinjam uang pada negeri, sebab itu menteri pada suatu negeri kemodalan
harus cocok dengan Direktur Bank. Begitulah semua menteri di Amerika mesti
tunduk pada Bankir Morgan, Jerman pada Stinnes, Prancis pada lauchuer dan
sebagainya. Bank pada suatu negeri acap memberi pinjaman uang kepada negeri
lain. Supaya bunga terus diterima, Menteri luar harus menjaga keperluan itu,
dan kalau perlu haruslah negeri luar itu dijadikan jajahan. Dengan jalan begitu
barang jajahan bisa tetap masuk (kopi, gula, kapas, dll.) orang jajahan tetap
beli barang pabrik (kain, mesin, dll.) dan bayar hutang. Nyatalah sudah, bahwa
kemajuan kapitalisme mengumpulkan kekuasaan pada satu dua orang. Seorang Bankir
menguasai industri negeri, pemerintah negeri dan koloni. Kaum modal pada
sesuatu negeri semakin hari semakin bertambah kaya dan bertambah sedikit, kaum
buruh bertambah banyak dan bertambah miskin. Pertentangan Hartawan dan Buruh
bertambah tajam, sehingga puteran kasta yakni revolusi sosial tak bisa
dihindarkan. Salah satu Hartawan atau Buruh mesti hancur.
V.
Imperialisme. Anarkisme dalam hal
mengadakan menyebabkan Kaum-Hartawan dalam sesuatu negeri satu dengan lainnya
berpukul-pukulan dan hancur- menghancurkan. Walaupun mereka terhadap kepada
negeri lain ada bersatu, tetapi anarkisme tadi juga menyebabkan beberapa negeri
di atas dunia ini satu sama lainnya berpukul pukulan dan hancur-menghancurkan
pula. Tiadalah satu negeri mengadakan hasil buat keperluan seluruh dunia,
melainan buat perniagaan dan persaingan. Satu negeri yang perlu memakai barang
jajahan buat pabriknya seperti kapas, getah, dan sebagainya mau sendiri saja
memiliki barang asli atau grondstof itu. Ia sendiri saja mau memiliki negeri
jajahan itu sebagai pasar barang pabriknya (besi, mesin, kain-kain, kertas
dll.) dan ia sendiri saja mau meminjamkan uang pada jajahan itu, supaya ia
sendiri saja pula mendapat bunga yang tetap. Berhubung dengan keperluan
industri dan perniagaannya, maka ia sendiri pula mau menggenggam politik negeri
jajahan itu. Politik imperialisme ini menyebabkan yang satu negeri
berdengki-dengkian dan bermusuh-musuhan dengan negeri yang lain Hal ini
menaikkan persiapan peperangan pada tiap-tiap negeri imperialisme dan akhirnya
mengadakan peperangan dunia. Demikianlah peperangan dunia yang baru ini, yang
memakan jiwa 10.000.000 manusia dan beribu juta harta disebabkan oleh
pertentangan antara imperialisme Inggris dan Jerman. Sesudah Jerman kalah, maka
timbul lagi sekarang pertentangan antara imperialisme yakni Inggris dan Prancis
di Eropa dan lebih tajam lagi Jepang dan Amerika di Asia Timur. Nyatalah sudah,
bahwa imperialisme tak bisa dibunuh selama kapitalisme dan anarkisme dalam hal
mengadakan hasil masih tetap. Sebab itu peperangan dunia pada tiap-tiap waktu
masih mengancam kita.
Kelima penyakit kemodalan yang kita sebutkan diatas ini tiadalah
bisa sembuh, karena sudah terbawa oleh diri kemodalan sendiri. Penyakit itu lah
yang menyebabkan Kaum Hartawan bertambah penakut dan bertambah sedikit
orangnya dan sebaliknya penyakit itu lah yang menyebabkan Kaum Buruh bertambah
miskin, tetapi bertambah rajin kerja (sebab terpaksa) bertambah tertindas,
tetapi bertambah revolusioner dan bertambah banyak orangnya. Krisis ekonomi dan
politik bertambah dekat, artinya ini cuma revolusi sosial atau putaran-kasta
sajalah yang bisa mengobati krisis itu, dan menghindarkan bala yang bisa
menimpa seluruh manusia diatas dunia ini:
"Kaum Hartawan yang malas dan sedikit itu haruslah turun,
serta Kaum Buruh yang terbanyak dan mengadakan hasil itu, harus memiliki hasil
itu dan membagikan hasil itu buat kastanya sendiri dan sekalian orang yang
kerja. Ringkasnya Kaum Buruh harus merebut kekuasaan ekonomi dan politik dunia".
3. Zaman Diktatur Proletar
Kaum Agama mengambarkan surga persis seperti kehendak nafsunya
sendiri. Begitu juga Kaum Utopis, seperti Thomas More, Saint Simon, Fourier dan
Robert Owen menggambarkan masyarakat yang sempurna di dunia ini persis seperti
nafsunya masing-masing.
Kita Kaum Komunis tidak mengambil gambaran Komunisme itu dari
nafsu seorang tukang mimpi atau ahli nujum saja. Kita tidak disuruh Karl Marx
buat menghapalkan saja sifat-sifat Komunisme dan terus tinggal mendoa saja
supaya Surga Dunia itu datang. Melainkan kita mendapat keterangan yang jelas
dari Marx, bahwa kemajuan Feodalisme di dunia ini membawa kemajuan Kapitalisme,
dan kemajuan Kapitalisme sekarang ini membawa kemajuan Komunisme. Sebagaimana
Kaum Bangsawan sudah terpukul oleh Kaum Hartawan, begitu juga kelak Kaum
Hartawan akan dikalahkan oleh Buruh. Kalahnya itu bukanlah pula oleh
sebab-sebab yang mistik atau gaibgaib melainkan atas sebab-sebab yang nyata,
yang bisa dilihat dan dirasa.
Tidaklah pula datangnya Komunisme itu tiba-tiba saja, seperti
surga akan terkembang sesudah hari kiamat, tetapi berangsur-angsur, yakni
seperti Zaman Kemodalan sendiri yang dulu datangnya juga berangsur-angsur.
Dimana pertentangan sangat dalam, seperti di Rusia, maka putaran kasta Buruh
dengan Hartawan itu akan disertai dengan banjir darah. Dimana pertentangan itu,
selalu dikurang-kurangi, karena Kaum hartawan selalu kasih konsesi atau
kemunduran, seperti bisa terjadi di Inggris, maka putaran kasta tadi, boleh
jadi tidak berapa menuntut jiwa. Tetapi buat seluruh dunia putaran-kasta itu
tiada akan terjadi dengan damai, seperti juga putaran kasta Bangsawan dengan
Hartawan dulunya tiadalah terjadi dengan damai.
Tingkat yang mula-mula mesti kita tempuh di atas Zaman-Kemodalan
ini ialah Dictaturnya-Proletar. Bukanlah pada satu negeri saja seperti Rusia,
tetapi buat di seluruh dunia. Pada tingkat Diktator-Proletar ini, semua
Perkakas Hasil, seperti Pabrik Tambang, Tanah, Kereta, Kapal, Gudang-Gudang
dll. dimiliki oleh Kaum-Buruh dan diserahkan pada negaranya Kaum Buruh. Semua
urusan buat mengadakan hasil, jatuh di bawah pimpinan Kaum-Buruh sendiri, yang
di jalankan oleh Wakil-Wakil yang dipilih oleh Kaum Buruh itu tidak lagi
ditetapkan buat perniagaan dan mencari untung saja, tetapi terutama buat
keperluan Rakyat. Anarkisme dalam hal mengadakan hasil akan hilang dan berganti
dengan rasionalisme, yakni mengadakan hasil menurut keperluan Rakyat. Kaum
buruh berhenti menjadi orang upahan yang dibayar sebagaimana suka si Kapitalis
saja, karena Buruh sekarang sudah memiliki perkakas hasil yang diadakannya
sendiri. Sepadan dengan itu Kasta-Buruh, sebagai Kasta upahan atau budak hilang
dan berganti dengan Kasta Pekerja yang campur mengurus pekerjaannya dan
memiliki hasil yang dikerjakannya. Oleh karena sekarang mengadakan hasil tidak
lagi dengan sesukanya seorang Kapitalis buat perniagaan saja, maka hasil tak
akan melimpah lagi, sehingga bisa mendatangkan krisis atau mesti menimbulkan
politik merebut jajahan buat pasarnya barang limpahan itu. Jadi politik
imperialisme akan hilang dan berganti dengan tukar-menukar barang, seperti
barang Eropa dengan Afrika atau Asia, satu negeri dengan yang lain. Berhubung
dengan hilangnya politik imperialisme, maka akan hilang pula militarisme dan
hilang pula peperangan dunia buat merebut jajahan dan pasar.
Supaya Kaum Buruh aman dan sentosa memiliki perusahaan dan semua
hasilnya perusahaan, maka haruslah ia merebut politik-negeri. Kaum-Hartawan dan
budaknya dari Kasta Tengah atau Kaum Sosial-Demokrat haruslah diusir dari
pemerintahan negeri. Kalau tidak begitu ia akan memogoki (saboteeren) semua
peraturan yang baik buat Kaum-Buruh dan menunggu waktu yang baik, dimana ia
bisa memakai laskar, armada, justisi, polisi dan bui buat menindas peraturan
ekonomi kaum buruh, seperti yang kita rancangkan diatas. Bersama dengan
Pemerintah-negeri, haruslah dengan sekejap Laskar, Armada, Justisi, Polisi dan
Didikan dijadikan merah. Artinya itu, semua anggota ini, haruslah jatuh di
bawah kekuasaan Kaum-Buruh dan seberapa bisa diisi dengan Kasta Kaum Buruh
sendiri.
Dengan Pemerintah Merah, Tentara Merah, Polisi Merah, dan Didikan
Merah, maka Kaum Buruh bisa menjaga peraturan mengadakan hasil dan haknya atas
hasil itu, terhadap kepada musuh baik di dalam atau pun di luar negeri, yang
tak putus akan mencoba merebut kembali kekuasaannya yang hilang itu.
Apabila sesudah bertahun-tahun Kaum Hartawan sama sekali hancur,
seperti dulu juga Kaum Bangsawan sama sekali hancur, maka barulah lambat laum
anggota-anggota Ekonomi Merah, Politik Merah, Didikan Merah dan Justisi Merah
berhenti menjadi perkakas penginjak Kemodalan dan Kaum Hartawan, dan menjadi
perkakas buat mendatangkan Komunisme. Pada Zaman Komunisme, kasta akan hilang,
tindasan dan isapan akan hilang, kekayaan, kepintaran, pengetahuan, kesenian,
dan literatur akan menjadi miliknya orang bersama.
Jadi Komunisme itu bukanlah ilmu batin, yang datangnya sesudah
habis dibakar kemenyan sepikul, melainkan suatu peraturan buat pergaulan hidup
yang sudah terkandung sendiri oleh pergaulan hidup yang sekarang ini. Lekas
datangnya itu bergantung sebagian besar dari cakap dan kuatnya Kaum-Buruh
Dunia, mendatangkan Diktatur Proletar, yakni memerahkan peraturan ekonomi dan
politiknya Kaum Hartawan yang ada sekarang.
4. Taktik
Pada Zaman-Feodalisme, maka Taktik buat mendatangkan pemerintah
baru itu, yakni dengan ramal dan kemenyan. Seorang guru atau Kiyai, tahu
membaca dalam buku atau di ujung jarinya, kapan Ratu Adil atau Imam Madhi akan
datang. Dengan jimat dan kemenyan, maka Kaum Revolusioner-feodal bisa
mengalahkan musuh. Psikologi atau semangat semacam ini lahir dari keadaan cara
mengadakan hasil juga. Pada Zaman-Feodalisme itu mengadakan hasil terutama
dengan cangkul. Kalau tanahpun subur, si Tani rajin mencangkul, tetapi hujan
tak turun-turun tentu padi tak dapat. Apa itu hujan, buat si Tani, yang belum
pernah dengar Natuurkunde atau ilmu-alam adalah perkara kasih atau bencinya
Tuhan. Dia bergantung kepada Tuhan itu, dan cara mendapatkan hujan tidak lain
dari membakar kemenyan. Bukanlah seperti buruh-pabrik, yang sama sekali tak
tergantung pada alam, malah memakai alam itu uap dan elektris kapan ia suka dan
berapa ia suka. Sebab itu si Tani pasif atau penerima dan si Buruh aktif atau
jalan. Sifat itu terbawa-bawa dan juga buat mendatangkan pemerintah baru, tak
lain akal buat si Tani melainkan nujjum, jimat dan kemenyan.
Di antara Kaum-Buruh industri adalah tiga taktik yang terutama
dimajukan: Anarkisme, Reformisme dan Revolusioner.
Taktik Anarkisme lahirnya pada pertengahan Abad yang lalu. Kaum
Anarkis, percaya, bahwa kalau tiap-tiap pembesar Kaum-Hartawan di bom, diracun
atau ditikam, maka mereka akan takut memerintah. Si Penindas akan hilang, dan
Komunisme akan datang sendirinya saja. Jadi mereka tidak memakai tingkat
Diktatur Proletar seperti kaum Komunis, dan.tidak memperdulikan organisasi
massa-aksi atau aksi ramai-ramai yang teratur. Bahwa semuanya itu mimpi tak
perlu dibentangkan disini. Kaum Hartawan dengan polisi, justisi dan tentaranya
adalah sangat teratur dan mempunyai disiplin yang sangat keras. Dan kalau satu
pembesar terbunuh, maka seribu lagi gantinya. Sebab itu, kalau Kaum-Buruh tak
berkelahi teratur dan mempunyai disiplin yang keras ia mesti kalah. Anarkisme
belum pernah menang. Cuma pada waktu Bakunin masih ada, disana sini di negeri
yang achterlyk atau mundur kapitalismenya seperti di Selatan Jerman, di Balkan
ia bisa bikin huru hara. Tetapi di negeri yang sudah maju kapitalismenya pada
masa itu (tahun 1850) seperti Inggris, Bakuninisme sama sekali tak bisa
dijalankan. Di Rusia sendiri pada tahun 1917 dan sekarang di Jerman Anarkisme
sama sekali tak berarti. Sebab kaum anarkis tak mau mengakui aturan dan
disiplin itu, maka ia tak bisa membikin perserikatan, malah mudah
berpecah-pecahan, dan bertengkar-tengkaran. Sebab ia mengukur kemarahan Rakyat
yang tertindas itu kepada yang menindas bukan dengan alasan ekonomi, melainkan
dengan kemarahannya personal, maka ia mudah kena provokasi, dan terdorong,
sehingga ia terisolasi dari orang banyak, dan akhirnya kalah.
Taktik Kaum Sindikalis, yang juga beralaskan Anarckisme yang
terutama berpengaruh di sebelah Selatan Eropa dan Amerika Selatan pun tak bisa
mencukupi kekuatan buat memerangi kemodalan zaman sekarang. Kaum Syndicalist
itu anti-parlemen dan anti-politik. Sebab itu Kaum Syndicalist tak mau mengirim
wakil ke parlemennya kaum Hartawan. Sebaliknya ia menyangka, bahwa Serikat
Buruh itulah yang tertinggi. Sudahlah tentu dasar anti-politik dan
anti-parlemen itu salah sekali. Dengan sikap begitu, Kaum-Buruh tak tahu akan
politiknya Kaum-hartawan, sedangkan politik dan ekonomi itu bersanak sudara.
Politik tidak lain dari geconcentreerde ekonomi, artinya itu, politik ialah
pusatnya urusan ekonomi. Apabila Kaum-Buruh akan menyia‑nyiakan politik, yakni
pusatnya ekonomi kaum Hartawan itu, mereka akan mudah terjerat kaki dan
lehernya.
Taktik Kaum Sosial Demokrat tak perlu kita uraikan di sini dengan
panjang lebar. Mereka itu percaya bahwa Modal dan Tenaga (Arbeid) tak
bertentangan. Begitu juga Hartawan dan Buruh bisa sama-sama jalan. Sebab itu
Kaum Sosial Demokrat memasuki Parlemennya Kaum Hartawan. Mereka percaya, bahwa
kalau kelak dengan jalam damai mereka bisa mengadakan wakil lebih banyak dari
Hartawan, maka Hartawan akan kalah suara dan akan mundur saja. Sesudahnya itu
perusahaan ekonomi boleh dijatuhkan ke tangan Buruh. Berhubungan dengan itu,
maka Kaum Sosial Demokrat anti-revolusioner dan aksinya ialah merebut bangku
Parlemen saja. Sepadan dengan keyakinan ini, maka Kaum Sosial Demokrat,
dimana-mana sudah menjadi Kaum Penghianat. Pembunuhan jiwa Buruh yang
10.000.000 dalam peperangan besar baru lalu, ialah terjadi dengan bantuan
Sosial Demokrat, yang selalu bantu Begrooting Kaum Hartawan dimana-mana. Di
sekalian jajahan, Sosial Demokrat membantu politiknya Kaum Imperialist buat
menindas bangsa Timur. Di Jerman, Ebert, Noske dan Scheidemann sudah merasakan,
bahwa Parlemen itu tak mudah dijadikan anggota Kaum Buruh. Dimana dulu, Sosial
Demokrat mendapat Meerderheid atau Suara Kelebihan dalam Ryksdag (Parlemen),
sekarang mereka jadi boneka saja, dan pemerintah sama sekali jatuh di tangan
Fasis. Oleh karena Sosial Demokrat pada tahun 1918-1923 tidak memerahkan
Justisi, Kementerian, Laskar dan Polisi, maka anggota-anggota ini dengan rahasia
mengumpulkan kekuatannya di bawah selimutnya Sosial-Demokrat. Oleh karena kaum
reaksi Jerman sekarang di bawah Presiden Jendral bisa sembelih semua Sosial
Demokrat, yang dulu tuannya itu.
Taktik Merah, atau taktik revolusioner tidak saja di Rusia sudah
menjatuhkan kemodalan, dan bisa mempertahankan Soviet sudah lebih dari 8 tahun,
tetapi dimana-mana di dunia, Eropa Barat, Amerika, Tiongkok, Jepang, India dan
Indonesia sedang membingungkan yang berkuasa. Taktik merah tidak bersarang di
jimat atau kemenyan, melainkan berurat pada keadaan hidupnya Rakyat yang
tertindas. Kita tidak anti-parlemen seperti Kaum Syndicalist, tetapi tidak pula
parlemener seperti si Pengkhianat Sosial Demokrat. Kita masuki Parlemen, buat
membuka topengnya Kaum Hartawan dan Sosial Demokrat, tetapi sama sekali tiada
mengharapkan hasilnya yang konkrit atau nyata dari aksi di Parlemen itu. Kita
tahu, bahwa sebagian besar dari Buruh masih mengikut Sosial Demokrat dan
percaya pada Parlementarisme. Sebab itu kita masuki Parlemen itu buat
memecahkan dari dalam. Dalam pada itu kita lebih pentingkan mengatur kekuatan
Buruh, Tani dan sekalian Rakyat yang tertindas di luar Parlemen. Semuanya aksi
dan pertarungannya Buruh, Tani dan penduduk kota, baik ekonomi ataupun politik
mesti kita campuri. Bukan buat menipu mereka dan memperdamaikan dengan Hartawan
seperti laku Sosial Demokrat, melainkan buat membantu mendorong, dan kalau bisa
menghancurkan Hartawan dan budakbudaknya. Menurut kekuatan kita dan Rakyat
yang percaya pada kita, maka kalau bisa semua aksi ekonomi kita besarkan jadi
mogok umum, kalau perlu ditambah dengan boikot dan demonstrasi. Dari mogok
umum, boikot dan demonstrasi yang dilakukan di seluruh negeri itulah bisa lahir
pemberontakan buat merebut politik negeri dan mendirikan Diktatornya Proletar.
5. Rusia
Seperti Pemberontakan Hartawan kepada Bangsawan di buka oleh
Hartawan Prancis pada tahun 1789, begitulah Pemberontakan Buruh kepada Hartawan
dimulai oleh Buruh Rusia kepada Hartawan disana. Seperti Revolusi 1789 di
Perancis didahului oleh revolusi kecil di Inggris pada tahun 1650 (Cromwell),
begitu pula diktatur proletar di Rusia tidak sama sekali baru, karena sudah
didahului oleh Komune Paris pada tahun 1870, pada percobaan 1870 Karl Marx, dan
Lenin banyak mendapat pelajaran buat menyempurnakan diktaturnya Proletar.
Pada Revolusi Prancis kita bisa mempelajari, bahwa kemenangan Kaum
Hartawan yang masih revolusioner itu turun naik. Republik-Hartawan yang
didirikan pada tahun 1789 cuma bisa berdiri 5 tahun saja. Kemudian datang Napoleon
yang akhirnya jadi Kaisar dan sesudahnya Napoleon jatuh maka berturut turut
Raja keturunan Lodewyk XVI, (yang dipancung kepalanya oleh kaum pada
revolusioner) bisa kembali memerintah. Barulah pada tahun 1849, maka Republik
Hartawan bisa kembali lagi, yang walaupun sementara disambung oleh Napoleon
III, sampai sekarang bisa terus berdiri. Jadi tidak kurang dari 60 tahun
Prancis berkelahi dengan kalah menang buat demokrasi dan Parlemenarisme cara
kemodalan. Dalam waktu Prancis berjuang dengan Bangsawan itu, maka
berturut-turut negeri menjatuhkan Raja dan Bangsawannya seperti Belanda dan
dimana-mana kekuasaan Bangsawan dan Raja di potong-potong seperti Jerman,
Italia, Spanyol, dll. Ringkasnya berpuluh tahun Hartawan di seluruh dunia mesti
berperang dengan kalah dan menang baru bisa menghancurkan Raja dan Bangsawannya
sama sekali.
Ini pengajaran yang dalam artinya buat kita. Dunia Hartawan yang
berpuluh-puluh kali lebih kukuh dari dunia Bangsawan tentulah takkan bisa kita
hancurkan dalam satu hari.
Kita tahu, bahwa reaksi di seluruh dunia sekarang bertambah hebat.
Karena kaum Sosial Demokrat pada tahun 1917-1923 berkhianat, maka Revolusi
Rusia tak diikuti oleh negeri lain-lain. Kaum Reaksi di belakang baju Sosial
Demokrat, yang dikemukakan di Jerman buat melindungi Kaum Hartawan bisa
bernapas kembali dan mengumpulkan semua senjatanya, yang pada tahun 1918-1923
hampir sama sekali hilang dari tangannya. Sekarang di Jerman Kaum Reaksi sudah
mengancam dengan pemerintah Fasis, yakni diktaturnya Kaum Hartawan. Kaum
Hartawan tidak akan memakai Parlemen lagi melainkan tangan besi, seperti
Mussolini di Italia. Hartawan akan lemparkan demokrasi, dan atur ekonomi dengan
memaksa kaum buruh kerja, dengan gaji sedikit, dan waktu yang lama, dan
menghancurkan semua pergerakan revolusioner, dengan jalan kasar. Begitu juga di
Prancis, dimana ekonomi kusut, Fasis sudah siap. Di Inggris, dimana pada 2 atau
3 bulan lagi disangka akan datang frisis sekarang Fasis sudah mengasah-asah
pedang kiri kanan dan mengumpulkan uang dan senjata. Di Amerika, dimana Kaum
Komunis mulai maju, Klu Klux Klan, sudah jadi Fasis, dan selalu sedia akan
menghancurkan pergerakan merah. Tentulah Fasis dapat sokongan dari Kaum
Hartawan baik lahir ataupun batin.
Tetapi makin gelap jalan di muka, makin terang buat kita suluh
yang di belakang. Sejarah menyaksikan kita, bahwa pertandingan kasta itu,
bukanlah permainan, melainkan suatu kemestian pergaulan hidup dan suatu
kewajiban sebagai manusia. Kalau musuh kita mengasah-asah pedang, maka jawab
kita lain tidak hanyalah menegapkan barisan dan mempertajam senjata lahir dan
batin. Pekerjaan yang sudah dimulai oleh Rusia dengan korban beribu-ribu jiwa,
tiadalah boleh kita khianati dengan kelembekan atau dengan meninggalkan dasar
yang sudah kita peluk.
Walaupun di kiri kanan ada reaksi, kita mesti terus menyusun
tentara yang ada di negeri kita. Kalau kawan kita pada waktu yang di muka ini,
baik di Rusia ataupun Eropa Barat dan Amerika dapat serangan, maka kita harus
tidak mundur malah merebut kemenangan pada barisan yang kita duduki, yakni: di
muka Rakyat Indonesia.
II.
KEADAAN INDONESIA
1. Ekonomi
Adapun sifat kapitalisme di jajahan, seperti Indonesia dan Asia
lain, adalah berlainan sekali dengan kapitalisme di Belanda dan Eropa lain.
Disana lahir dan majunya kapitalisme itu terbawa oleh keperluan negeri sendiri,
sedangkan di sini lahir dan majunya kemodalan itu terbawa oleh keperluan bangsa
asing. Sebab itu di Eropa majunya kapitalisme itu dengan jalan menurut alam
atau Organisch, sedangkan di Indonesia kunstamatig atau bikinan. Berpadan
dengan hal itu, Kapitalisme di Eropa ada sehat dan sempurna, sedangkan yang di
Indonesia verkracht atau terperkosa, seolah-olah sepokok kayu yang kena
kelindungan.
Kapitalisme di Eropa membagi negeri atas kota dan desa. Di kota
terdapat perusahaan atau industri dari kain, besi, batu, kertas dll. Sedangkan
di desa terdapat gandum, sayur, sapi, domba dan hasil buat lain-lain makanan.
Jadi dipukul rata kota memperusahakan barang pabrik dan desa mengadakan hasil
tanah dan ternak. Bagian pekerjaan di kota dengan desa itu bertambah terang
sekali pada negeri yang sangat maju permodalannya
Tentulah hasil pabrik di kota itu, gunanya, terutama buat penduduk
kota sendiri. Sisanya itu ditukarkan dengan makanan yang dihasilkan oleh desa.
Begitulah kain, pisau, perkakas rumah, baja, dll yang dibikin di kota ditukar
dengan gandum, sayur, daging, dll yang dihasilkan di desa, yakni dengan sisa
yang dimakan oleh penduduk desa. Pada negeri kemodalan yang belum terang
imperialistis, dan sehat ekonominya seperti Amerika sebelum perang 1914-1918,
maka jumlah harga sisa barang kota itu hampir sama dengan harga sisa hasil
tanah di desa. Begitulah asal majunya kemodalan dan perusahaan, yakni dari
pertukaran barang pabrik di kota-kota dan hasil tanah di desa-desa. Makin maju
perusahaan di kota, makin banyak penduduk desa lari ke kota mencari pekerjaan,
kepandaian atau kepalsiran, karena di kota terkumpul, pabrik, sekolah, bioskop,
rumah komedi, dll.
Di Indonesia juga akan bisa begitu, kalau Belanda tak datang dan
membunuh perusahaan kecil-kecil, buat membikin kapal, kain, barang-barang besi,
seperti sudah ada di Tuban, Gresik, dll. Perusahaan kecil-kecil itu juga akan
jadi besar, memakai uap dan listrik seperti di Eropa dan Amerika. Kota-kota
Indonesia juga akan menarik penduduk desa dengan lekas dan bertambah hari
bertambah maju penduduk, pabrik dan kaum buruhnya. Juga di kota Indonesia akan
diadakan kain, bajak buat desa, dan desa-desa terutama hasilnya buat penduduk
kota-kota Indonesia sendiri.
Tetapi sebab Belanda dengan hukum melarang membuat kapal dan
membunuh perusahaan anak negeri dengan memasukkan barang pabrik yang murah
harganya, maka kota dan desa kita jadi lain sifatnya dari kota di Eropa. Kota
kita tidak ada yang menghasilkan, kain, bajak dan perkakas lain buat desa-desa,
karena semua barang, ini dimonopoli atau diborong oleh Belanda. Desa kita tidak
buat mengadakan hasil untuk penduduk kota, melainkan terutama buat tebu, teh,
kopi, getah d. s. g. bukan buat keperluan negeri dan Bumiputera, melainkan buat
untung si Pengisap yang tidur di Belanda. Sebab itu desa dan kota kita satu
dengan lainnya tidak bergandengan dan tali bertali seperti pada suatu negeri
yang sehat ekonominya, melainkan keduanya buat pengisi perut besar si Lintah
Darat yang tidur di Belanda itu saja. Berhubung dengan hal ini, maka majunya
kapitalisme di negeri kita jadi kunstmatig atau tak sehat.
Sebab perusahaan di negeri kita tidak buat keperluan anak bumi
putera sendiri, maka barang yang perlu buat hidup kita, harus dibeli dari
negeri lain dengan harga sesukanya orang lain itu saja. Dan oleh karena tanah
di Jawa terdesak oleh kebun-kebun besar, maka beras, yakni nyawa kita, mesti
datang dari negeri lain.
Demikianlah pada tahun 1922 Rakyat membeli barang kain yang masuk
ada kira-kira F. 182.531.000. Di jajahan lain seperti India, Tiongkok dan
Filipina barang pakaian sudah bisa dibikin dinegeri sendiri. Jadi disana uang
Rakyat bayaran kain itu tinggal di negeri sendiri, sedangkan di Indonesia
terbang kesakunya Lintah Darat Belanda. Harga beras masuk, walaupun beras Jawa
nomor 1 kualitasnya di dunia dan bangsa Jawa memang pintar bertani pada tahun
1922 juga ada F. 74.947.000. Karena di Jawa hampir tak ada kapital dan saudagar
anak negeri, seperti di jajahan maka untung perniagaan beras ini tidak satu
peser jatuh di tangan anak negeri. Demikianlah untung perniagaan berhubung
dengan import (barang masuk) yang pada tahun 1922 banyaknya ada F 696.300.000
itu hampir semuanya mengalir ke saku Lintah Darat Bangsa Asing.
Sudahlah terang, bahwa total export (harga barang keluar) yang
pada tahun 1922 ada F.1.142.400.000 sama sekali dimakan oleh Lintah Darat
Belanda yang memonopoli sekalian perusahaan besar-besar di Indonesia ini.
Sedangkan di jajahan lain untung dari import dan export itu ada sebagian jatuh
di tangan anak negeri, maka di Indonesia yang sangat subur dan kaya ini,
semuanya keuntungan perniagaan dan hasilnya perusahaan dan tanah sama sekali
terbang ke perutnya Lintah Darat yang tidur, palsir atau mondar-mandir di
Belanda. Sisanya yang terlempar kepada bumiputera, gunanya sekedar buat hidup
sebentar, seperti kuda atau kerbau, yang dipakai penarik kereta, juga mesti
diberi makan.
Sebab kapitalisme Indonesia gunanya buat memenuhi keperluan bangsa
asing, yang jauh tinggalnya itu, maka keadaan dan majunya kapitalisme Indonesia
juga semata-mata menurut keperluan bangsa asing yang tinggal di negeri asing
itu. Kromo mesti menyewakan tanah buat gula, getah dan teh dan jadi kuli
Belanda mau dapat untung. Rakyat Indonesia tak bisa dapat pabrik kain, pabrik
mesin dan kapal, sebab Belanda takut Twente dan perusahaan kain sana akan
jatuh, dan juga saudagar-saudagar Belanda, pabrik kapal dan
perusahaan-perusahaan kapal yang mengangkut barang import dan export dari
Indonesia ke Belanda akan turut jatuh. Sebab itu Indonesia mesti tinggal jadi
landbow-land atau negeri-pertanian tidak negeri perusahaan atau industri-land.
Penduduknya mesti tinggal mundur (pasif) dan mudah ditindas. Tiadalah seperti pada
negeri industri, yang mempunyai buruh yang lebih maju dan lebih aktif dan tak
gampang ditindas. Selama Indonesia tinggal jadi jajahan, maka ia tak akan bisa
memajukan ekonomi dan perusahaannya sebagaimana yang baik buat dirinya senriri,
karena ia terpaut oleh Lintah Darat Belanda, yang tak memperdulikan nasib
Rakyat Indonesia.
2. Sosial
Di negeri-negeri yang sangat maju kemodalannya, seperti Jerman dan
Amerika maka Kaum Buruh itu jumlahnya ada kurang lebih 3/4 bagian dari seluruh
penduduk negeri. Artinya itu ada 3/4 atau 75% dari penduduk yang tak berpunya
apa-apa lain dari tenaganya dan tergantung hidupnya semata-mata dari modal
besar.
Sepanjang ada bahwa perhitungan tahun 1905, maka di Jawa saja ada
kira-kira 40% dari bumiputera yang proletar atau tak berpunya apa-apa. Kalau
kita taksir sekarang, berhubung dengan bertambah majunya industri, angka itu
sudah jadi 50%, maka dari penduduk tanah Jawa yang 36 juta itu ada 18 juta yang
hidupnya tergantung dari perusahaan besar dan kecil. Tetapi di Sumatra, Borneo,
Celebes, Daerah Ternate dan sebagainya yang jumlah jiwa kira-kira 18 juta itu
masih sedikit kaum proletar. Hampir semua penduduk mempunyai tanah, modal
kecil, perusahaan kecil atau perahu penangkap ikan. Kita pikir kita akan tak
berapa salah menaksir (karena statistik yang sah belum ada ), bahwa kaum
proletar di seluruh Indonesia pada masa ini ada kira-kira 18 juta, yakni
kira-kira 34% dari penduduk yang 54 juta itu.
Tetapi di antara yang tak berpunya, Buruh Industri masih sangat
sedikit. Di Jerman umpamanya, yang jumlah isi negeri hampir sama dengan
Indonesia, yakni 60 juta ada kira-kira 2 juta buruh-pelikan (buruh
pertambangan), sedangkan di Indonesia tak lebih dari 100.000, yakni seperdua
puluhnya. Buruh kereta juga kira-kira 2 juta, sedangkan di Indonesia tak lebih
dari 80,000, jadi kurang dari seperduapuluhnya di Jerman. Berjuta-juta buruh
industri model baru, seperti pada pabrik membuat kereta, mesin, kapal, kain
dll. yang ada di Jerman, sama sekali tak ada di Indonesia. Jadi perkara
banyaknya buruh industri, maka Indonesia, jauh kalahnya oleh Jerman, Inggris
dan Amerika, juga kalah oleh Jepang dan India, dimana juga sudah terdapat buruh
industri model baru.
Di Eropa, Amerika dan Jepang yang memiliki Pabrik, Tambang,
Kereta, Kapal, Bank dll itu ialah bumiputera juga, Di Jajahan seperti India,
Filipina dan Mesir sudah banyak bumiputera sendiri yang mernpunyai industri
model baru, pertanian dan perniagaan model baru. Tetapi di Indonesia modal
besar bumiputera bolehlah dikatakan tak ada. Betul di Jawa, lebih-lebih
Sumatera di antara bumiputera ada yang mempunyai modal F.100.000 kebawah, tetapi
ini masih kecil, dan urusan perniagaan atau perusahaan yang mempunya
F.50.000.000, yang memiliki tambang, pabrik dan Bank seperti di Tiongkok, India
atau Jepang, jadi kasta Hartawan bumiputera, memang di Indonesia tak ada.
Sebabnya ialah karena dulunya Belanda dengan sengaja membunuh timbulnya modal
anak negeri. Di Indonesia kasta-kasta itu terutama kasta-tani, kasta-buruh dan
kasta tengah (ambtenar, saudagar, tani besar, kaum terpelajar d.s.g.) Di antara
kasta-kasta ini, kasta inilah yang terbanyak dan kasta buruhlah yang terkuat
dan makin hari makin kuat, karena kaum buruhlah yang geconcentreerd atau
terkumpul dan ialah yang menjalankan industri, yakni nyawanya ekonomi, dan
kasta buruhlah yang akan termaju pikiran dan wataknya dalam pergerakan ekonomi
dan politik.
Dengan angka-angka saja belum bisa kita dengan sempurna
memperbandingkan majunya buruh Indonesia dengan Eropa. Majunya itu terutama
pula tergantung pada kualitas atau tingginya industri yang ada. Kita sudah
terangkan di atas, bahwa Indonesia bukanlah industri-land melainkan terutama
landbow-land, walaupun landbow atau pertanian di Indonesia dijalankan dengan
perkakas yang model baru sekali.
Berhubung dengan itu, maka buruh Indonesia terutama bukanlah buruh
industri malah buruh tani (gula, teh, getah dan sebagaianya). Yang buruh
industri betul (minyak tanah, kereta, kapal) masih sedikit sekali. Perbedaan
buruh pertanian Indonesia dengan buruh perusahaan di Eropa itu membawa
perbedaan lahir batin pula. Proletar Indonesia masih muda, dan masih ada
pertaliannya dengan familinya di desa-desa, dan acap kali masih mempunyai tanah
di desa-desa. sedangkan proletar-industri Eropa sudah sampai ke nenek moyangnya
terikat oleh pabriknya. Proletar kita masih mundur dalam pekerjaan teknik,
masih percaya sama tahayul dan masih pasif. Proletar industri Barat sigap dan
disiplin dalam pekerjaan, tak terikat oleh tahayul lagi, serta bersikap aktif
dalam pikiran dan pekerjaan.
Begitulah pula kaum-tengah Eropa bersifat lain dari kaum tengah
Indonesia. Di Indonesia sendiripun, berbeda pula satu kasta dengan kasta yang
lain dan berbeda pula satu kasta pada satu pulau dengan kasta itu juga pada
pulau lain di Indonesia. Seorang tani di Jawa umpamanya, yang selalu campur
dengan pabrik gula, yang acap naik kereta tentulah berlainan sekali pikiran dan
wataknya dengan seorang tani pemotong sagu di daerah Ternate, yang belum pernah
seumur hidupnya melihat asap pabrik atau mendengar peluit kereta express.
Ringkasnya perbedaan kemajuan industri pada satu negeri dengan negeri lain
membawa perbedaan kualitas, yakni pikiran dan wataknya kasta-kasta di negeri
negeri itu, seperti Buruh Eropa dengan Buruh Indonesia, Tani Jawa dengan Tani
di daerah Ternate.
3. Krisis-Ekonomi
Walaupun Indonesia sangat kaya, dan pertanian serta perusahaan
dijalankan dengan cara model baru sekali, tetapi bumiputera selalu dalam
kemiskinan dan urusan uang (staatsfinancien) sudah lama selalu dalam krisis.
Walaupun pada waktu perang yang baru lalu, modal-besar mendapat untung berlipat
ganda dari waktu normal atau biasa, tetapi sebab harga barang naik dan gaji
tinggal sedikit, maka kemelaratan Rakyat malah bertambah dari yang sudah-sudah.
Pada penghabisan perang, urusan uang kalang kabut, sehingga hampir mendatangkan
bangkrutnya negeri.
Sebab yang dalam, yang mendatangkan kesengsaraan dan krisis itu,
walaupun kapital-besar mendapat untung berlipat ganda, terutama sekali, karena
untung itu baik langsung atau tak-langsung semuanya mengalir ke Eropa. Langsung
karena tiap-tiap tahun berjuta-juta uang dikirim ke Eropa, buat membauar bunga
modal (dividenten) yang masuk di industri, kereta, pelikan dan kapal tak
langsung, yakni dengan jalan perniagaan (export dan import), yang sama sekali
dimiliki oleh bangsa asing juga.
Walaupun Pemerintah Indonesia sekarang (ambtenar, serdadu,
Justisi, armada, polisi d.s.g.) gunanya bermata-mata buat membantu dan
membesarkan modal asing serta sebaliknya penindas dart, pengisap bumiputera
buat modal besar itu, tetapi uang buat pengisi perutnya Pemerintah itu, yakni
pajak, tiadalah dibayar oleh Kaum-Modal Belanda sendiri, melainkan oleh
bumiputera juga. Jadi Rakyat Indonesia tidak saja membiarkan harta, tenaga dan
kemerdekaannya dirampok oleh Kaum Modal Belanda, tetapi mesti membayar gaji
hambanya kaum modal itu, yaitu Gubernur-jendral, Resident, Regent, Wedono,
Commissaris van Politie, Jendral, Major dan beribu-ribu hamba yang lain-lain.
Sebab Modal-Belanda tak mau membayar gaji hambanya itu dari
kantongnya sendiri, dan buat penambah Modal-Besar di Indonesia, maka Pemerintah
Belanda terpaksa meminjam uang ke lain negeri. Sampai tahun 1923, maka
banyaknya uang pinjaman itu sampai F. 1476.662.000. Dengan bunga 5%, maka
saban-saban tahun mesti dibayar bunga kepada negeri lain F.6.471.641. Bunga itu
tentulah tiada dibayar dari gaji Guberner-Jendral atau untungnya Colijn,
melainkan dengan pendapatan Rakyat juga. (Semua angka-angka ini kita petik dari
Handbook of the Netherlands East-Indie, yang dikeluarkan oleh pemerintah
sendiri)
Uang masuk atau inkomsten, yakni terutama buat gaji hambanya pemerintah
pada tahun 1921 ada F.769.700.000 tetapi uang keluar atau uitgaven, yakni yang
dimakan oleh hamba-hamba tadi ada F.1.055.200.000. Jadi dapat kekurangan
F.285.500.000. Kekurangan itu tinggal terus menerus, tiap-tiap tahun.
Buat pengobat krisis ini, maka Kaum-Modal Belanda memilih hambanya
Guberner-Jendral Fock.
Sebab Fock ini dulunya ia mengaku liberal, maka buat penutup
malunya sebagai liberal ia mula-mula pura-pura mau menolong Rakyat Indonesia.
Ia berjanji mau memaksa Modal-Gula memperbaiki nasib buruh dan tani gula dengan
ongkos Modal Gula sendiri. Lagi pula ia mau memaksa Modal Besar menolong Rakyat
membayar pajak yang besar itu, supaya kekurangan pajak tadi bisa tertutup dan
rakyat dapat kelonggaran
Tetapi sesudah Modal Gula menyepak kembali, maka tuan Fock diam
saja. Dan apabila Colijn, yakni Raja Minyak menjawab "Tutup mulutmu, kalau
tidak kamu saja boikot, dan pabrik minyak kami tutup", maka tuan Fock yang
liberal tadi lebih suka memihak kepada gajinya yang beribu-ribu itu, dari pada
memihak kepada Rakyat atau kepada paham liberalismenya. Malah ia lebih menjilat
ke atas dan lebih menendang ke bawah.
Keatas: Gaji ambtenaren yang besar-besar di naikkan, laskar,
armada dan polisi dibesarkan.
Kebawah: Pajak dinaikkan, buruh dilepas dan diturunkan gajinya,
uang-keluar buat pendidikan, dan kesehatan Rakyat diturunkan.
Walaupun Fock sedikit menaikan cukai dari barang masuk dan ke luar
tetapi saudagar Belanda yang mempunyai barang-barang itu dengan mudah bisa
menaikkan harga barang-barangnya, yang mesti dibayar oleh Rakyat yang
membelinya juga (minyak, kain, korek-api d.s.g.)
Rumah-Gadai, yang dipunyai oleh pemerintah sendiri menaikan
untungnya pula dengan jalan menaikan isapan (Renten) pada Rakyat yang miskin
juga. Sekarang ini menurut keterangan buku-buku, Rakyat Indonesialah yang
tertinggi sekali membayar pajak di dunia ini.
Di negeri-negeri lain di Timur seperti India, Filipina dan
Tiongkok, bumiputera sendiri ada mempunyai perusahaan, pertanian dan perniagaan
besar, sehingga untungnya juga tinggal dalam negeri sendiri, dan sebagian dari
untung itu dipakai buat membayar pajak negeri. Tetapi di Indonesia pikulan uang
sama sekali tertimpa pada Rakyat-Melarat, yang makin tahun bertambah miskin,
karena semuanya untung mengalir ke sakunya Lintah Darat yang tidur di Den Haag
atau Zorgvliet.
Makin besar Pemerintah-Indonesia meminjam uang kepada bangsa lain
seperti Amerika dan Inggris, makin berkuasa Modal Asing di Indonesia, makin
habis tanah ditelan oleh Modal-Asing itu, makin besar uang yang mengalir ke
negeri sebagai bunga dan dividen uang pinjaman itu, dan berhubung dengan itu makin
dalam kemelaratan Rakyat dan makin hebat pula krisis ekonomi yang akan datang.
Selama semua untung dari modal-besar, baik langsung atau tak
langsung sama sekali mengalir ke luar negeri, selamanya itu Krisis ekonomi
Indonesia tak bisa diobat. Betul sekarang, Fock hampir bisa mengadakan
balans-begrooting atau sama-berat uang masuk dan uang-keluar, tetapi balance
itu semata-mata memperberat pikulan Rakyat, dan wujudnya langsung akan
memperjauhkan yang memerintah dari yang terperintah dan memperdalam krisis-politik.
4. Krisis Politik
Di Filipina, India dan Mesir, oleh karena adanya Tani-Besar,
Kapitalis besar dan Saudagar Besar dari bumiputera sendiri, maka dalam waktu
krisis politik, kaum imperialist bisa memadamkan atau mengurangkan krisis
politik itu, dengan jalan konsesi, yakni memberikan sebagian dari kekuasaan itu
kepada bumiputera. Disana kaum modal asing mempunyai banyak sama keperluan
ekonomi dengan modal bumiputera. Kalau pada suatu jajahan, dimana Imperialisme
itu masih autokratik (yakni memungut semua kekuasaan) Rakyat bergerak menuntut
kemerdekaan, seperti di India pada tahun 1918-1923, maka kaum imperialis
memukul pergerakan itu dengan konsesi politik. Imperialisme Inggris memberi 1/2
atau 3/4 Parlemen, dimana Kaum-Modal bumiputera boleh mengirimkan wakilnya.
Oleh karena kaum-tengah dan intelektual pada negeri yang ada mempunyai
nasional-capital hampir semuanya memihak pada nasional kapitalis itu, maka
mereka itulah yang terpilih menjadi anggota dari 1/2 atau 3/4 Parlemen tadi.
Oleh karena keperluan Modal-Asing dan Modal Bumiputera banyak bersamaan, maka
buat modal asing itu tak besar bahayanya, kalau sebagian dari politik negeri
terserah pada wakilnya modal kulit hitam. Oleh karena kaum buruh dalam
pertandingan buat keperluannya tak bisa membedakan Modal hitam dan Modal putih,
maka Kaum Tengah dan intelektual, yang mempertahankan modal hitam itu
terbawa-bawa mempertahankan modal putih seperti C. R. Das pemimpin
Partai-Swaray di India. Dengan konsesi politik itulah di India Inggris menarik
Kaum intelektual, yakni pemimpin pergerakan Rakyat ke dalam Parlemen dan dengan
jalan kompromi itulah ia sering-sering mengundurkan revolusi.
Menurut pemandangan kita, atas dasar Marxisme, maka di Indonesia,
sebab tidak ada nasional-kapital, Modal Belanda tak bisa memberi
konsesi-politik yang berarti. Ia harus sendirinya memerintah atau dengan
bumiputera yang memang terang budaknya.
Kaum cap Budi-Utomo (B.O.), Serikat-Islam (S.I.) dan Nasionale
Indische Partij (N.I.P) yang dulu terpikat oleh suara merdunya Van Limburg
Stirum, sekarang kita harap sudah yakin, bahwa mereka yang mau tinggal jadi
Wakil Rakyat Indonesia tak bisa kerja bersama-sama dengan Wakil Modal Belanda
di Volksraad, dan Volksraad tak bisa jadi 1/2 Parlemen, seperti di India atau
3/4 Parlemen seperti di Mesir dan Filipina. Volksraad mesti tinggal semata-mata
buat Kapital-Asing, dan anti seluruh Rakyat. Tetapi oleh karena Nasionalis atau
Islamis dinegeri kita tak sepeser mengerti Marxisme, yakni kea daan dan
kedudukan kasta-kasta di Indonesia dan berhubung dengan itu politiknya kasta,
maka mereka tentu masih bingung, tak mengerti apa-apa, apa sebab Dr. Tjipto,
Tjokro dan Muis disepakkan, sesudah dipakai oleh Limburg Stirum pada waktu
Krisis-politik tahun 1918. Kita kaum Komunis yang memboikot Volksraad pun belum
pernah mengadakan pemandangan kekastaan yang jelas dan terang, kenapa Volksraad
Indonesia tak bisa menjadi Parlemen, selama Keadaan Sosial d inegeri kita masih
tetap seperti sekarang.
Pemandangan kita di negeri jajahan lain, seperti India di atas
sudah sebagian memberi keterangan. Di Indonesia tak ada Kasta-Landlords (Tuan
Tanah) atau Bangsawan yang berarti banyaknya dan kekayaannya. Kasta
saudagar-besar dan Modal-Besar sama sekali tak ada. Sebab itu kaum intelektual,
yang di negeri kita baru mulai timbul belum mempunyai kasta bumiputera tempat
mereka berlindung. Sebab itu kaum intelektual kita masih pasif. Karena
didikannya di sekolah imperialis, mereka tak mengerti, bahwa kasta mereka mesti
mencampurkan diri ke kasta Buruh dan tani, karena kasta-kasta inilah di
Indonesia yang bisa merebut kemerdekaan.
Oleh karena Kasta Modal Bumiputera di indonesia tak ada atau masih
sangat kuno dan lemah serta kasta-intelektualnya pasif, maka kalau Modal
Belanda mau memberi 1/2 atau 3/4 Parlemen, haruslah ia memberi hak-politik dan
Suara Memilih Wakil kepada Buruh dan Tani. Kepada kasta-kasta kedua inilah ia
harus memberi konsesi dan dengan Rakyat melaratlah ia harus membagi kekuasaan
politik.
Ini namanya contradictio determinis, artinya itu membantah diri
sendiri. Masakan yang menindas bisa memberi 1/2 atau 3/4 senjata kepada yang
tertindas, seperti si Penyamun akan memberikan pistolnya kepada yang
disamunnya. Dengan segera yang disamun akan membunuh yang menjamun.
Semua Hukum dan Kekuasaan yang ada di Indonesia sekarang, ialah
buat membantu dan membesarkan Modal Asing dan sebaliknya buat menginjak Rakyat
Indonesia. Kalau Rakyat yang sama sekali terinjak itu diberi hak politik, yakni
senjata buat mengubah, atau menghapuskan Hukum-Negeri tentulah tak satu Hukum akan
tinggal buat mempertahankan Modal Asing itu. Kalau di Indonesia ada kasta Modal
Bumiputera yang kuat, Kasta-Terpelajar yang kuat pula, tentulah
kasta-terpelajar ini bisa ditipu oleh Modal Asing dengan 1/2 atau 3/4 sampai
7/8 Parlemen. Dengan politik menipu kaum-terpelajar (kaum mana terutama di
jajahan sangat dipercayai oleh Rakyat), kaum imperialist. Belanda akan bisa
menipu Rakyat yang mengikut kaum-intelektual itu dan meundurkan revolusi.
Tetapi di Indonesia sebagian besar dari Rakyat ialah Tani, Buruh dan Saudagar
kecil-kecil yang sama sekali tak bersamaan keperluannya dengan Modal Asing,
malah sama sekali bertentangan. Sebab itulah Belanda takkan bisa memberi
konsesi-politik yang berarti kepada Rakyat kita.
Pertanyaan di negeri kita tidaklah revolusioner atau evolusioner,
melainkan bagaimana kita harus mengadakan program-merah, taktik-merah,
organisasi-merah, agitasi-merah dan aksi-merah, supaya Rakyat kita dengan lekas
dan dengan sedikit kerugian jiwa bisa lekas lepas dari tindasan dan isapan
Modal Belanda.
Sikap Merah kita ini menjadikan cemas dan ketakutannya Kaum Modal
Belanda, dan kecemasan serta ketakutannya itu membesarkan, laskar, armada,
polisi dan resisir pula. Hal yang terakhir ini seterusnya menaikan pajak pula
dan kenaikan pajak mendalamkan dendam kesumat Rakyat Indonesia pada pemerintah
asing ini pula. Demikianlah satu bersangkutan dengan yang lain dan hasilnya
memperdalamkan krisis ekonomi dan politik juga. Ringkasnya sikap merah kita
tidak saja berguna, buat mendidik Rakyat Indonesia dalam politik, tetapi juga
memperdalam pertentangan antara si Penghisap dan yang Terisap, sebab itulah
mencepatkan datangnya kemerdekaan.
III.
PROGRAM.
Diatas kita sudah mencoba menerangkan, bahwa krisis atau
pertentangan ekonomi & politik di Indonesia sangat tajam. Pertentangan itu,
lebih-lebih, kalau kelak dicampuri oleh hal-hal lain, seperti bahaya kelaparan
atau penyakit, pada tiap-tiap waktu bisa melahirkan revolusi.
Keyakinan ini tiadalah kita peroleh dari satu dalil atau nujum.
Juga tidak, dari ilmu kebangsaan cap N.I.P yakni karena yang memerintah
berkulit putih dan yang terperintah berkulit hitam, yang memerintah berwatak
Barat dan yang terperintah berwatak Timur. Warna, watak atau Agama itu tak
perlu mendatangkan revolusi. Kalau umpamanya di Indonesia ada kastahartawan
bumiputera yang kuat, walaupun kasta ini beragama berkulit putih dan berwatak
Timur, tetapi dengan konsesi 1/2 sampai 7/8 Parlemen, revolusi itu tiap-tiap
kali bisa dihindarkan. Betul warna, agama dan watak itu bisa menambah tajamnya pertentangan
yang sudah ada, tetapi tiada bisa menjadi hoofd-factor atau hal yang terpenting
dalam sesuatu pemberontakan. Yang bisa mendatangkan revolusi di Indonesia kita
ini sewaktu-waktu ialah karena pada krisis ekonomi dan politik, yang dipertajam
oleh perbedaan watak, warna dan agama, tak ada kasta-hartawan bumiputera, yang
bisa memperdamaikan yang memerintah dengan yang terperintah.
Sebab kita tahu, bahwa kemodalan Belanda besok atau lusa mesti
jatuh, maka haruslah kita dari sekarang mengadakan peraturan ekonomi &
politik, ialah program yang cocok dengan kastanya partai kita, yakni partai
Rakyat melarat, yang tergambar pada P.K.I dan S.R.
Betul sesuatu program revolusioner, yakni kehendak sesuatu
golongan atau kasta, tak berarti, kalau tak ada pergerakan revolusioner dari
kasta itu sendiri. Tapi betul pula, bahwa sesuatu pergerakan revolusioner yang
tidak mempunyai basis teori, atau lantai yang berdiri atas teori akan mati
sendirinya saja. Lihatlah Budi Utomo, S.I dan N.I.P. Ketiganya, dulu, mula-mulanya
revolusioner. Tetapi tidak satu yang bisa menggambarkan maksudnya dengan
terang. Betul juga sebab jatuhnya ketiga partai itu karena tak mempunyai
disiplin, tetapi sebab yang terutama sekali ialah mereka tak bisa membuat
program yang kukuh
Juga partai kita, walaupun di sana sini lebih terang melahirkan
kehendaknya dari partai yang lain 2 di Indonesia, belum pernah memformulasi
atau menetapkan program dengan secukupnya. Apabila kita mau tinggal memegang
pimpinan revolusioner atas Rakyat melarat di Indonesia, maka haruslah sekarang
kita memaklumatkan kehendak kita, dalam perkara ekonomi, politik, sosial d.s.g.
Adapun program itu tiadalah bisa kita gali dari dalil yang keluar
lebih dari 1300 tahun dahulu, seperti pahamnya Haji Agust Salim, karena
peraturan negeri pada zaman yang belum mempunyai pabrik, Bank dan kereta api
itu berbeda sekali dengan keadaan negeri kita sekarang. Tiadalah pula bisa
program itu kita timbulkan dari sentimen atau perasaan kebangsaan saja Kaum
N.I.P. Akhirnya tiada pula bisa disalin dari programnya sesuatu partai komunis
di Eropa atau Amerika dimana keadaan ekonomi, politik dan sosial berbeda sekali
dengan keadaan di Indonesia. Melainkan kita harus memakai geest atau
semangatnya Marxisme, buat mendirikan program yang cocok dengan keadaan di
negeri kita. Jadi cuma metode atau cara mendirikan program itu saja bisa Marxis
atau Komunis tetapi material atau perkakas mendirikan itu ialah Indonesia.
Berpadanan dengan itu, maka watak program kita haruslah:
a) Cocok dengan kekuatan kita. Tuntutan kita tak
boleh terlampau jauh, supaya kita jangan lekas dilabrak oleh musuh, baik diluar
atau didalam negeri, Sebaliknya pula kita tak boleh mengadakan peraturan
ekonomi & politik yang mundur, dimana Rakyat akan tinggal terhisap dan
tertindas. Berapa jauhnya tuntutan kita itu, sebagai partai internasional, kita
juga mesti memikirkan keadaan internasional. Artinya itu, revolusi dunia, boleh
jadi tiada lama lagi akan pecah. Tetapi boleh jadi juga lebih lama dari kita
kehendaki sendiri, Kalau revolusi-dunia besok pecah, tentu kita besok pula bisa
dapat pertolongan lahir dan batin (perkakas mesin, kepandaian buat industri
d.s.g) dari buruh Eropa dan Amerika. Kita dalam hal ini tak akan celaka, kalau
segera mendirikan Diktatur-Proletar yang sempurna, yang sepadan dengan keadaan
Kapitalisme Indonesia. Tetapi kalau revolusi dunia lama lagi akan pecah, dan
kita besok mendirikan Soviet-Republik, maka kita yang terletak di antara
imperialisme Inggris, Amerika dan Prancis ini dan terpisah sekali dari kaum
Buruh revolusioner di Rusia, Eropa dan Amerika, dengan lebih lekas dan lebih
kuat dari pada Rusia akan dikepung dan dilabrak oleh imperialisme itu.
Sedangkan Republik biasa saja (demokratis) sudah akan bisa menggojangkan
seluruh Asia, apalagi kalau nama Republik itu dimerahkan pula. Tidak bisa
dibantah lagi bahwa, walaupun Indonesia terutama landbouw-land, tetapi hidup
kita sudah sama dengan industrieel land seperti Eropa. Ekonomi sudah hampir
sama sekali bersifat internasional, karena hasil industri dan landbouw kita
seperti gula, minyak-tanah, karet, kopi, kina, dll sama sekali tergantung dari
perniagaan di luar negeri kita dan pasar-pasar di luar Indonesia. Sebaliknya
pula semua keperluan hidup Rakyat Indonesia seperti kain, perkakas dan beras
sama sekali datang dari negeri lain. Kalau Inggris atau Amerika besok tak mau
mangaku kemerdekaan kita, artinya itu tak mau berniaga dengan kita, maka sehari
kita tak bisa mengurus ekonomi. Berhubung dengan itu sebentar kita akan jatuh.
Jadi jauhnya program kita haruslah sepadan dengan kekuatan kita yang ada dan
cakap menentang musuh lari atau tersembunyi, baik didalam ataupun diluar
negeri. Program itu haruslah satu lantai yang kukuh buat berjalan sendiri
(kalau revolusi dunia belum datang) atau buat berjalan bersama-sama dengan
dunia (kalau revolusi dunia sama datang dengan kemerdekaan Indonesia).
b) Bisa menaikkan derajatnya Rakyat Indonesia.
Kaum-Buruh Indonesia haruslah memiliki perkakas hasil yang besar-besar, seperti
pabrik, ondernemingen (bahasa Belanda untuk ventures atau perusahaan - catatan
editor), tambang, Kereta, Kapal dan Banken. Mereka haruslah betul-betul
berkuasa dalam hal menentukan, membuat dan membagikan (produksi &
distribusi) hasil negeri. Mereka haruslah berkuasa betul dalam hal politik
negeri. Perhubungan antara tuan dan budak, seperti yang masih ada di Eropa
(kecuali Rusia) Amerika dan Jepang, yakni negeri-negeri yang kapitalistis
pelan, haruslah dihapuskan. Untung yang berjuta‑juta yang sekarang tiap-tiap
tahun mengalir kesaku Lintah Darat Belanda, di Den Haag, haruslah tinggal di
Indonesia sendiri. Uang, ini boleh dipakai buat Didikan dan Kesehatan Rakyat,
buat membantu Kaum Tani dan saudagar kecil dan Tukang-Tukang dengan jalan
Koperasi dan terutama buat mendirikan industri model baru di Indonesia, seperti
industri pembuat kapal, kereta, mesin-mesin dan perkakas lain-lain, pabrik
kain, kertas dan membangun electrische-centrale (bahasa Belanda untuk
pembangkit tenaga listrik - catatan editor) dari sungai-sungai dan danau-danau
di Indonesia. Dengan perbutan demikian, maka niscayalah lama lambat seluruh
Rakyat Indonesia, Buruh , Tani, Tukang dan Student akan maju derajatnya dalam
hal ekonomi, politik, sosial dan kebudayaan atau peradaban.
c) Bisa menarik Indonesia ke zaman
industrialisme model baru. Bahwa perusahaan besar-besar, kepunyaan modal asing
perlu dan bisa dimiliki kaum-Buruh, itu sudahlah terang. Perlu, karena dengan
jalan begitu, hasil boleh diatur dengan rasional, yakni menurut keperluan
Rakyat, bukan lagi buat di Lintah Darat di Eropa. Bisa, karena perusahaan
besar-besar itu semuanya kepunyaan Modal-Asing, yang memperoleh harta itu dari
Rakyat Indonesia juga dan tiadalah ada Kaum-Hartawan bumiputera yang cukup kuat
buat melawan politik nasionalisasi Kaum-Buruh. Dengan pertolongan uang pada
tukang, saudagar-kecil dan tani di Indonesia, dan dengan memberi pertolongan
kepada mereka mendirikan Koperasi Negara, Pemerintah Baru di Indonesia bisa
membesarkan dan mengumpulkan perusahaan kecil-kecil yang terpancir-pancir dan
bisa membawa semua perusahaan kecil-kecil itu ke bawah pimpinannya. Semua
perusahaan kecil, lama lambat akan hilang, sebab terbawa di bawah pengaruh
Pemerintah-Baru (Republik-Indonesia), atau kalah bersaing dengan perusahaan
Republik yang besar-besar. Kalau daya upaja yang tersebut diatas ditambah lagi
dengan daya upaja mendirikan perusahaan yang model baru, maka dengan segera
Indonesia, yang begitu mundur sekarang industrinya, sesudah beberapa lama akan
menjadi negeri industri model baru di dunia penduduknya akan bertambah maju dalam
segala hal dan politiknya juga akan memeluk seluruh alam atau menjadi
internasional.
d) Bisa Mengadakan kerukunan seluruh Rakyat
melarat. Kerukunan itu perlu tidak saja buat merebut kemerdekaan dari
imperialisme Belanda, tetapi juga buat mempertahankan kemerdekaan itu keluar
negeri (Inggris, Amerika dan Jepang). Walaupun Kaum-Buruh kita terkuat dari
kasta-kasta lain di Indonesia, tetapi ia sendirinya saja tentu sukar merebut
kemerdekaan buat seluruh Indonesia, seperti juga buat Sumatra, Borneo, Celebes
d.s.g, dimana industri dan kaum buruh baru mulai datang. Di Jawa sendiripun
buruh industri yang betul-betul masih sedikit. Ringkasnya, walaupun buruh bisa
termuka dan bisa memberi pimpinan pada seluruh Rakyat melarat dalam merebut dan
mempertahankan kemerdekaan, tetapi ia mesti mendapat pertolongan dari, tani,
saudagar, student, serdadu dan tukang. Haruslah seluruh Rakyat tertindas di
Indonesia terikat dalam satu "tentara‑kemerdekaan". Tetapi ikatan itu
harus berdasar ekonomi. Tani, atau tukang, tak bisa lama diikat dengan paham
kebangsaan cap N.I.P. atau B.0. atau dengan agama cap S.I. saja. Ikatan semacam
itu tidak bisa kukuh, karena tak mengandung kekuatan lahir melainkan perasaan
saja. Ikatan itu cuma bisa kekal, kalau berdasar ekonomi jani, kalau tani,
tukang dan saudagar dalam persahabatan dengan buruh itu betul‑betul mendapat
keuntungan lahir dan batin (ekonomi, politik dan sosial). N.I.P. dan B.0.
takkan bisa memperbaiki nasib kaum melarat, sebab kalau Indonesia di bawah
pimpinan mereka menjadi merdeka, maka perusahaan besar-besar akan jatuh di
bawah Angenent, Veynschenk, Raden Mas ini, atau Raden itu. Pun S.I tak akan
bisa juga karena sesudah negeri merdeka urusan ekonomi sama sekali akan jatuh
di bawah Kyai, Haji atau Sjech, seperti di Mesir Arab, Turki atau India. Tetapi
kalau P.K.I. dan S.R. yang merebut kekuasaan, ia bisa menaikan derajat si Kecil
karena lebih dulu mereka menghapuskan hak-Milik pada perusahaan besar-besar dan
menghapuskan kasta Hartawan. Sebab kasta-buruh di Indonesia bukan
Kasta-Penghisap, maka ia kelak bisa mengadakan perserikatan yang kukuh dengan
segala golongan yang terhisap dan tertindas oleh imperialisme sekarang.
e) Bisa membangunkan semangat revolusioner
seluruh Rakyat Indonesia, dengan kekal. Betul perasaan kebangsaan dan Agama
bisa menbangunkan kebencian kepada Penindas dan mendatangkan kerukunan pada Rakyat,
tetapi kebencian dan kerukunan semacam, sangat negatif dan sementara. Sebentar
menjadi dingin, seperti pepatah Minangkabau: Panas-panas tahi ayam. Tetapi satu
Program yang mempunyai lantai teori yang kokoh dan mudah dimengertikan pada
Rakyat, bisa mendatangkan keyakinan yang tetap, karena keyakinan semacam ini
berhubung betul dengan hidup dan pikirannya hari-hari, dan bisa memberi jawab
pada soal-soal ekonomi, politik dan sosial. Dari keyakinan semacam itulah saja
bisa timbul kemauan yang keras buat mempraktikkan cita-cita yang terpeluk oleh
Program itu. Sebab itu Program yang kukuh itulah saja yang bisa membangunkan
dan menetapkan semangat revolusioner dari seluruh Rakyat Indonesia sampai
maksudnya sampai.
III.
PROGRAM
1. Program Nasional P.K.I & S.R.
A. Ekonomis
1. Nasionalisasi atau memindahkan Pabrik dan Tambang (seperti
pabrik gula, kina, kelapa, semen dan tambang arang, emas, timah d.s.g.) ke
tangan Pemerintah Rakyat Indonesia.
2. Nasionalisasi Tanah dan Kebon, seperti Gula,
Getah, Tebu, Kopi, Kina, Kelapa, Indigo d.s.g.
3. Nasionalisasi Transportasi dan Komunikasi
(Kereta, Kapal, Telegraf dan Telepon).
4. Nasionalisasi Bank, Perusahaan dan lain-lain
Anggota-Perniagaan.
5. Electrificatie perusahaan, dan mendirikan
industri model baru dengan pertolongan Negara, seperti buat pakaian, kereta,
kapal, mesin d.s.g.
6. Mendirikan Koperasi-Rakyat dengan pertolongan
Negara. Memberi perkakas dan pertolongan pada Kaum Tani, buat memperbaiki
pertanian.
7. Emigrasi atau memindahkan sebagian penduduk
Jawa dengan ongkos Negara, ke pulau-pulau di luar Pulau jawa.
8. Membagikan Tanah-Tanah kosong pada
proletar-tani, dan memberi pertolongan pada Tani itu buat mengerjakannya.
9. Menghapuskan sisanya feudalisme (Yogya, Solo
d.s. g) dan Tanah Partikulier, serta membagikan tanah-tanah ini pada Tani-Tani
Miskin dan Proletar Tani.
B. Politik.
1. Kemerdekaan Indonesia yang sempurna (absolut) pada saat ini
juga.
2. Mendirikan Federasi-Republik dari kepulauan Indonesia.
3. Memanggil Rakyat-Rakyat Indonesia yang mewakili seluruh
Golongan dan Rakyat Indonesia pada saat ini juga.
4. Memberi hak-Memilih yang sempurna pada Rakyat Indonesia (lelaki
& perempuan) pada waktu ini juga.
C. Sosial.
1. Gaji minimum.
2. Kerja 7 jam dan memperbaiki nasib kerja dan hidupnya Kaum
Buruh.
3. Perlindungan Kerja (Arbeidsbescherming) Kaum Buruh dengan
mengakui hak buat mogok.
4. Mendapat sebagian Untung dari Perusahaan yang besar-besar.
5. Mendirikan Rapat-Buruh (Arbeidersiaden) pada perusahaan
besar-besar.
6. Menceraikan Negara dengan Agama, dengan mengakui Kemerdekaan
Agama seluas-luasnya.
7. Memberi hak-hak ekonomi, politik dan Sosial pada semua penduduk
Indonesia lelaki dan perempuan.
8. Nasionalisasi Gedung besar-besar, mendirikan rumah-rumah baru,
dan membagikan tempat tinggal buat Buruh-Negara.
9. Membunuh penyakit menular dengan sekuat-kuatnya.
D. Didikan.
1. Didikan dengan diwajibkan dan ongkosnya Negara buat semua
penduduk Indonesia sampai berumur 17 tahun, didikan mana memakai bahasa Melayu
sebagai bahasa utama dan bahasa Inggris sebagai bahasa asing yang terpenting.
2. Menghapuskan peraturan dan asas Didikan sekarang dan
mendirikan peraturan dan asas baru, yang praktis, yang langsung berhubung
dengan industri yang ada dan yang akan didirikan.
3. Memperbanyak dan memperbaiki sekolah Pertanian Pertukangan dan
Perniagaan dan menambah serta memperbaiki sekolah tinggi buat Personel Teknik
dan Administrasi yang tinggi.
E. Militer
1. Menghapuskan Laskar yang imperialistis sekarang dan mendirikan
Laskar Rakyat buat mempertahankan Republik Indonesia.
2. Menghapuskan hidup di tangsi dan peraturan yang menghina
Kaum-Serdadu, memberi izin tinggal di kampung dan di rumah yang dibikin buat
mereka, penganggapan yang lebih baik dan menambah gaji Kaum Serdadu Rendah,
3. Memberi hak leluasa buat Organisasi dan Pertemuan kepada Kaum
Serdadu.
F. Polisi dan Justisi.
1. Memisahkan Pemerintah dari Polisi dan Justisi.
2. Memberi hak-sempurna kepada tiap-tiap Pesakitan, buat
mempertahankan diri di muka Hakim, dan melepaskan seorang tertuduh dalam 24
jam, apabila keterangan dan saksi kurang cukup.
3. Semua Perkara, yang wettig (mempunyai cukup dasar hukum) mesti
diperiksa dalam 5 hari pada tempat yang umum, teratur dan patut.
G. Aksi-Program.
1. Menuntut 7 jam kerja.
2. Minimum Gaji dan perbaikan Kerja dan Hidupnya Kaum Buruh.
3. Mengakui Federasi Serikat Buruh dan hak Mogok.
4. Mengatur Tani buat hak-ekonomi dan politik.
5. Menghapuskan Punale Sanctie (pidana terutama atas penolakan
untuk melakukan pekerjaan dan melarikan diri - catatan editor).
6. Menghapuskan hukum-hukum dan peraturan-peraturan buat
menghambat pergerakan politik, seperti Exorbitante-Stakings-Pers (sensor media
- catatan editor) dan Onderwyswetten dan mengaku hak leluasa buat bergerak.
7. Menuntut hak membikin demonstrasi. Massa demonstrasi
(ramai-ramai) di seluruh Indonesia buat melawan Tindasan Bergerak dan Pajak dan
buat melepaskan semua pemimpin Rakyat yang dibui dan mengembalikan semua
pemimpin Rakyat yang dibuang, massa aksi mana harus dikuatkan oleh Mogok-Umum
dan Massa-ongehoorzaamheid (tak menurut perintah pemerintah).
8. Menuntut menghapuskan Volksraad (dewan penasehat untuk
Netherlands East Indie yang dibentuk oleh Belanda - catatan editor), Raad van
Indie (Council of Indies atau Dewan Hindia yang dibentuk untuk mengawasi
Gubernur-Jendral VOC - catatan editor) dan Algemeene Secretarie (Seketratis
Jendral - catatan editor) dan memanggil Rapat Rakyat (Nasional Assembly) dari
mana nanti akan dipilih Anggota Menjalankan Hukum (Komite Eksekutif), yang
bertanggungan kepada Rapat Rakyat.
2. Keterangan Program.
Program diatas, ialah buat seluruh Rakyat Indonesia, yaitu
Kasta-Proletar dan Non-Proletar atau yang tidak Proletar, seperti Kasta Tukang,
Saudagar Kecil, Tani, Student d.s.g yang semuanya menghendaki Kemerdekaan
sebagai Bangsa dan melawan Imperialisme Belanda. Sebab di Indonesia tidak
sampai 1% penduduk yang membenci pada Indonesia Merdeka dan cinta pada
Pemerintah Belanda, maka Program Nasional ini tidak salah namanya, karena betul
memeluk hampir semua penduduk Indonesia.
Oleh karena di Indonesia Kasta Buruhlah yang terkumpul atau
geconcentreerd (terkonsentrasi), maka ia lah pula yang bisa memberi pimpinan
pada kasta-kasta yang lain-lain yang cerai berai itu. Pada Program ini kita
melihat, bahwa Buruhlah yang termuka dalam hal tuntutan. Terutama tuntutan ekonomi
(A), Sosial (C), dan Aksi (G), sebagian besar semata-mata buat keperluan Kaum
Proletar. Tetapi dalam tuntutan Politik (B), Didikan (D), Pengadilan (F),
keperluan Buruh banyak bersamaan dengan non-Proletar, sebab itu bisa
dicampurkan. Umpamanya semua tuntutan politik (B. dari 1-4) sama sekali boleh
dipakai buat non-proletar. Tuntutan ekonomi seperti A. 5, 6, 7 dan 8 bolehlah
dikatakan terutama buat non Proletar. Sedangkan tuntutan F dari 1-3 semata-mata
buat kasta yang tidak boleh kita lupakan dan lengahkan ialah Kaum-Serdadu.
Walaupun pada Program Nasional, yakni buat seluruh Native atau
penduduk Indonesia, semua tuntutan kita jadikan satu, tetapi dalam propaganda
dan agitasi tentulah, tuntutan yang terutama buat Kaum Buruh tidak boleh kita
pakai buat kaum Tani. Umpamanya tututan nasionalisasi pabrik tentulah buat kaum
Tani tidak sepenting perkara pertanian dan koperasi. Jadi dalam agitasi dan
propaganda kita mesti pilih tuntutan yang konkrit atau yang nyata dan dirasa
buat masing-masing kasta. Kadang-kadang kita pentingkan betul tuntutan ekonomi
seperti pada kasta Buruh dan Tani, kadang-kadang kita pentingkan politik
seperti pada penduduk kota dan Kaum Student, kadangkadang perlu kita terangkan
sikap kita terhadap kepada agama, seperti di Solo, Yogya, Aceh, Banjarmasin.
Semua tuntutan yang diatas tentulah yang umumnya saja.
Berpuluh-puluh tuntutan kecil-kecil buat Buruh, Tani dan Student atau Tukang,
di Jawa atau Sumatera d.s.g pada kitab ini tak bisa kita tuliskan. Program
Nasional haruslah pendek dan memeluk dasar dari tuntutan yang terutama saja.
Tetapi plaatselyke Organisaties dan plaatselyk Beleid atau kecakapan pada
masing-masing tempat tak boleh melupakan tuntutan yang plaatselyk dan penting
buat satu kasta atau golongan. Umpamanya buat Kaum Militer boleh lagi ditambah
beberapa tuntutan. Begitu juga buat Buruh Gula, buat Pelabuhan, buat Tani di d
jawa, Sumatera dan Borneo, buat saudagar kecil di mana-mana negeri, buat
pemancing ikan di Madura, Ternate d.s.g, pimpinan pada masing-masing tempat mesti
mengadakan tuntutan, sehingga seluruh penduduk Indonesia mempunyai Program buat
mengubah nasib masing-masing kasta atau golongan.
Semua tuntutan itu haruslah konkrit atau dirasa, pendek dan
terang. Dari tuntutan bersifat semacam inilah bisa datang keyakinan dan bisa
lahir aksi revolusioner.
IV.
ORGANISASI.
Adapun perkara organisasi pada suatu jajahan, seperti Indonesia
adalah suatu perkara yang sangat sukar dan penting sekali. Dari pada kuatnya
organisasi kita itulah bergantungnya, bisa atau tidakkah kita kelak memecahkan
organisasi musuh yang sangat teratur tiu. Berhubung dengan Organisasi kitalah
kelak bergantungnya, bisa apa tidakkah kita merebut Kemerdekaan, baikpun
sebagai Bangsa ataupun sebagai Kasta.
Tiadalah bisa kita putuskan semua persoalan Organisasi itu dengan
perkara Agama, sehingga barang siapa sudah "dikekahkan" dan pandai
menyebut "syahadat" bolehlah diikat di dalam satu perkumpulan. Tiada
perduli apa yang satu Saudagar Besar dan yang lain buruh atau tani melarat. Atau
dengan persoalan Kebangsaan, sehingga barangsiapa mempunyai kulit hitam atau
setengah hitam bisa masuk ke dalam satu Partai politik. Tak perduli apa yang
satu Tuan Tanah dan yang lain tak berpunya apa-apa.
Kita harus menyusun serdadu buat merebut kemerdekaan itu menutut
keperluan masing-masing, yang sama keperluan hidup dalam satu organisasi pula,
karena buat memperbaiki keperluan hidup itulah manusia dari tiap-tiap Sejarah
dan tiap-tiap bangsa bergerak dan mengorbankan nyawanya. Oleh karena si
Kapitalis bertentangan keperluannya dengan si Buruh, baikpun mereka
"Indier" cap N.I.P. ataupun kaum-Islam cap S.I, seperti macan
bertentangan keperluannya dengan sapi, oleh karena itulah mereka dari dua Kasta
itu tak boleh disusun dalam satu barisan. Kalau mereka sementara bisa bekerja bersama-sama
buat menendang musuh, seperti di Indonesia, haruslah mereka disusun dalam
berlain-lain barisan. Oleh karena kita Marxis percaya, bahwa semua pertandingan
di dunia terbawa oleh tindasan dan kemelaratan, maka sebab itulah kita terutama
bersandar atas Kaum Tertindas dan Melarat.
Walaupun kita internasionalistis, tiadalah bisa kita mengambil
saja Organisasi Buruh di Eropa atau Amerika dan tanpa kritik, menanam
Organisasi itu di negeri kita. Organisasi-pindahan semacam itu akan mati
sendirinya saja, seperti gandum Eropa, kalau dipindahkan ke Indonesia niscaya
akan mati juga. Kita harus dengan semangat Marxisme, memeriksa keadaan ekonomi,
sosial dan kebudayaan di negeri kita, memeriksa banyak, kuat dan kualitasnya
kasta-kasta yang ada di Indonesia dan menyusun tiap-tiap Kasta yang terhimpit
pada masing-masing Barisan dan menyusun semuanya Barisan dari semuanya Kasta
itu pada Tentara Nasional, buat memecahkan musuh dari dalam ataupun luar
negeri.
1. Maksud dan Sifat-sifat Organisasi
Maksudnya Partai Revolusioner di Indonesia ialah buat menendang
Musuh dan mempraktikkan atau melakukan Programnya. Jadi Cara dan Sifatnya
bekerja haruslah sepadan dengan Maksudnya itu, dan sepadan pula dengan Tempat
dan Keadaannya bekerja. Artinya yang terus ialah sepadan dengan tingkat dan
tajamnya perkelahian dan sepadan dengan pulau, kota atau desa tempat kita
mengadakan aksi. Berhubung dengan itu, maka aksi kita pada waktu reaksi belum
kurang ajar dan Rakyat masih lembek berlainan den gan aksi kita, kalau reaksi
kurang ajar dan Rakyat bangun dan tetap hati. Dan lagi aksi yakni cara dan
sifatnya kerja kita itu di Jawa lain dari di Sumatera atau Ternate, di Surabaya
lain dari di Cicalengka atau Magelang, dimana industri masih lemah.
Makin plastis atau liat seperti rotan Cara dan Sifat kerja kita
itu, makin besar pengaruh Partai kita di seluruh Indonesia dan makin dekat
Maksud kita. Supaya kita bisa memimpin seluruh Rakyat Indonesia yang tertindas
itu, haruslah kita lebih dahulu bisa memimpin Partai kita sendiri yang sebagai
Avant-Garde atau Pasukan Muka dari Rakyat yang Revolusioner itu.
Sebab itulah maksudnya Organisasi kita, terutama buat mengatur
pimpinan yang sempurna, yakni menyusun dan mendidik kekuatan yang bisa memberi
pimpinan kepada seluruh Rakyat.
Pimpinan itu baru bisa sempurna, kalau perhubungan atau kontak
dengan Rakyat sempurna pula. Tanpa kontak satu Partai tak bisa memberi
pimpinan, karena ia terlampau maju di muka atau terlampau tinggal di belakang
Rakyat.
Supaya hubungan dengan Rakyat Melarat rapi sekali, maka Organisasi
kita memeluk dasar Demokratis Sentralisme. Artinya ini Sentralisasi Pekerjaan
yang dilakukan dengan semangat demokratis atau sama rata. Jadi semua anggota
Revolusioner dan semua anggota Revolusioner, seperti P.K.I, S.R, Serikat Buruh,
JOI, d.s.g, masing-masingnya harus bekerja menurut kekuatan masing-masing,
pekerjaan mana mesti teratur dan terkumpul. Bedanya Partai kita dengan Partai
Sosial Demokrat, yakni beda bekerja. Pada Partai Sosial Demokrat yang bekerja
itu cuma pemimpinnya, tetapi anggotanya pasif saja. Sebab itulah Partai Sosial
Demokrat sangat birokratis. Semua anggota menurut saja apa perintah
pemimpinnya, sama betul dengan demokratisnya Parlamentarisme Kaum Hartawan,
yang juga terbagi atas Menteri yang aktif dan mengerjakan sekalian pekerjaan
dan anggota Parlemen, yang kerjanya mengomong saja. Pada Partai Komunis
semuanya anggota harus bekerja, kecil atau besar (propaganda, kursus, membagi
surat kabar, buku, mengerjakan administrasi d.s.g menurut kecakapan
masing-masing), sehingga demokrasi atau sama rata kita artinya "sama rata
bekerja." Sifat Demokratis Sentralisme itulah yang bisa menghilangkan
birokratisme, dan ialah yang mendidik pimpinan sampai kuat dan plastis.
Disiplin itu, ialah nyawanya suatu pergerakan revolusioner. Dalam pergerakan
S.I sudahlah cukup kalau seorang bersumpah "demi Allah demi Qur'an,"
buat menjadi anggota. Dalam pergerakan N.I.P sudahlah cukup kalau orang yang
mau jadi anggota itu mengaku azas N.I.P. Sesudahnya ia bersumpah, atau sesudah
ia mengaku dasar itu ia boleh tidur nyenyak, dengan tiada dapat gangguan
apa-apa dari partainya. Tetapi buat pergerakan kita "mengaku Program"
itu belum lagi setengah kewajiban seorang anggota.
Partai komunis tiadalah menghendaki "pendeta Komunis"
yang hapal programnya dari muka sampai ke belakang dan dari belakang sampai ke
muka. Partai kita mau aksi atau perbuatan, aksi yang tetap dan benar yang
berpadanan dengan azas dan maksud kita. Kalau pada waktu sebelum revolusi
seorang anggota tiada mengeluarkan aksi apa-apa, maka tiadalah bisa kita
harapkan yang dia pada waktu yang penting tiba tiba saja akan mendapat semangat
yang aktif, seolah-olah mendustakan dirinya sendiri pada waktu biasa.
Ringkasnya Partai kita menuntut aksi yang tetap dan benar, besar atau kecil
dari tiap-tiap anggota. Kalau seorang anggota tiada mencukupi perintah Partai,
mengerjakan pekerjaan yang dikira berpadanan dengan kekuatan anggota itu, maka
lebih baik ia keluar saja dari pada tinggal dalam Partai dan memberi contoh
yang buruk pada kawan‑ kawannya yang lain. Tetapi disiplin kerja atau arbeiddisipline
semacam itu, tentulah pula tidak dalam satu hari saja bisa kita jatuhkan. Kita
periksa dulu keadaan satu Seksi atau Lokal dan perkara menjatuhkan
"disiplin kerja" itu harus ditimbang betul-betul dengan pemimpin-peminpin
yang sudah lama kerja. Tetapi disiplin itu haruslah segera dijatuhkan pada
seorang anggota yang mengkhianati partai, juga pada seorang anggota yang tiada
mempertahankan.
Serdadu revolusioner itu ialah serdadu yang mengerti dan mufakat
dengan Program partainya, yang selalu bekerja sepadan dengan kekuatannya dan
selalu menjaga kesentosaan partainya terhadap kepada musuh di dalam atau di
luar partainya.
Agitasi. Seperti seorang Penambang menceraikan emas itu dari tanah
dan lumpur, maka kita mengeluarkan aksi Kaum Tertindas itu dari peri kehidupan
mereka itu juga. Perkakas kita buat mengeluarkan aksi itu ialah Agitasi. Dari
dalam, betul dan kuatnya Agitasi itulah bergantung datangnya Aksi.
Membuat Agitasi itu tiadalah dengan "Assalamualaikum atau dalil-dalil"
cap Haji Agust de Groote ...... dengan tiada menyelesaikan persoalan hidup si
Kromo hari-hari, atau kalau menyelesaikan ia tiada berani menarik si Kromo
kepada aksi. Juga tiada seperti N.I.P yang agitasinya tiada pula lebih jauh
welsprekendheid (lancar) atau mahirnya bicara tentang darah Indier dan wataknya
Indier. Kita Kaum Komunis tak pula boleh berlaku seperti Kaum Syndicalist, yang
menyangka, bahwa kalau kita campur menuntut hak Kecil-kecil ada berlaku
kompromistis, dan cuma berharap, seperti kaum Utopis, bahwa Aksi Rakyat itu
kelak datangnya akan sama sekali tiba-tiba saja. Tidak pula seperti si
Pengkhianat Kaum Sosial Demokrat yang campur menyelesaikan persoalan si Kecil
itu ialah buat menarik mereka, supaya ia memilih Kaum Sosial Demokrat jadi
anggota Parlamen, atau supaya Kaum Buruh masuk jadi anggota Partai Sosial
Demokrat. Kita Kaum Komunis menyelesaikan persoalan si Kromo, supaya mendapat
kepercayaan dari mereka, bahwa kita betul-betul mau menolong mereka. Begitulah
kita mendapat kontak dengan mereka dan bisa menarik mereka kepada aksi yang
teratur.
Agitasi itu haruslah konkrit atau nyata sekali. Haruslah ia
bersandar atas hisapan dan, tindasan si Kecil hari-hari. Di antara Buruh,
tentulah perkara gaji, lama kerja dan penganggapan-lah perkara yang ter
penting. Tiadalah perkara ini boleh kita singkirkan, melainkan kita dengan
segala kepintaran memberi jawab, yang bisa memberi kepercayaan dan menimbulkan
aksi kaum Buruh. Pada penduduk kota-kota, dimana non-proletariers yang
terbanyak itu, selalu diojak-ojak oleh Tuan Tanah, Pemungut Pajak, Tuan Rumah,
d.s.g. perkara pajak dan perkara sewa rumah itulah perkara yang penting buat
peri hidupnya Rakyat. Begitulah pula pada desa-desa, baik di Jawa, Sumatera
atau Celebes perkara tanah dan pajak itulah sangat dirasa oleh penduduk negeri.
Dalam hal ini tiadalah boleh kita memangku tangan dan seperti seorang Pendeta
menunjuk ke kitabnya, serta berkata: "Kalau Komunisme datang semuanya itu
akan hilang. Apalkanlah Komunisme supaya Zaman Keselamatan itu lekas datang.
Rajinlah saudara mengunjungi Kursus kami. Kami tak suka main pakrol-pakrol,
karena itu semua kompromis. Tahanlah lapar dan sakit sampai Komunisme
datang." Kita ulang lagi, apa saja tindasan Rakyat kita mesti
memperlihatkan kepintaran buat memberi oplossing atau jawab, mesti mempunyai
keberanian buat berdiri di muka, menuntut Haknya Rakyat, yang tertindas.
Seperti si Penambang akan mendapat emas dengan memasukan tangannya kedalam
lumpur begitulah pula kita harus bisa membawa Rakyat ke dalam Aksi, kalau kita
campuri kesakitan dan siksanya hari-hari.
Dari aksi kita hari-hari itulah kita bisa memperoleh kepercayaan,
pengaruh dan Contract yang kekal, dan dari aksi kecil-kecil itulah bisa
lahirnya aksi yang besar. Marxisme itu bukanlah ilmu "hapalan"
melainkan satu pedoman buat aksi, atau satu richtsnur tot handelen (guide to
action)
Legal atau Illegal yakni Terbuka atau Tertutupnya, kita bekerja
semuanya bergantung kepada keadaan bekerja. Kita suka bekerja legal, karena
dengan jalan umum itu Program dan Taktik kita lekas diketahui oleh seluruh
Rakyat. Tetapi kalau terpaksa, kita mesti teruskan propaganda dan Agitasi kita
dengan jalan tertutup. Walaupun kita dipaksa berjalan tertutup, kita harus
memakai dengan segala kekuatan dan kecakapan segala jalan buat mendapat kontak
dengan Rakyat. Tidak boleh kita geisoleerd (terisolasi) atau terpisah dari
Rakyat.
Di Eropa Barat kita melihat pada waktu sebelum perang, Partai yang
terbuka itu, tak bisa sama sekali bekerja tertutup seperti Partai kita di
Rusia. Sebabnya ialah karena di Barat sangat tebal demokratisnya negeri, jadi
orang bisa mendorong kiri kanan dengan mulut. Tetapi di Rusia Partai
revolusioner harus bekerja di bawah tanah. Sebab itulah kalau Revolusi datang
dan Partai revolusioner di Barat itu terpaksa bekerja tertutup ia tidak bisa
jalan seperti Partai kita di Rusia yang tahu kerja, baik terbuka atau pun
tertutup.
Partai yang selalu kerja tertutup itu, ada mengandung bahaya, sama
sekali akan kehilangan kontak dengan Rakyat melarat. Sebab itu ia akan tidak
tahu, bagaimana perasaan Rakyat, dan kalau ia tiba-tiba keluar, Rakyat tidak
mengikut, atau kalau Rakyat melarat tiba-tiba memberontak, Partai yang
tersembunyi dan kehilangan kontak tadi, belum lagi siap.
Contoh Partai Konspirasi atau Rahasia, yang tak mempunyai kontak
itu banyak di negeri Timur, seperti. Afdeeling B satu contoh yang baik. Sesudah
anggotanya disumpahi setinggi langit, maka ia boleh kelak menunggu
"alamat" dari Alam dan menunggu perintah dari pimpinan yang
tertinggi, kapan mesti keluar. Alamat buat keluar itu, tiadalah hal yang nyata
yang beralasan ekonomi atau politik melainkan, barang yang gaib-gaib yang kita
kaum Komunis pada masa ini tak bisa mengerti lagi. Anggotanya tak bekerja
dengan sadar, memakai anggota ekonomi dan politik Rakyat yang ada dan diaku sah
oleh Pemerintah buat mendalamkan aksi, melainkan bekerja menambah iman. Tiba-tiba
ia ketahuan oleh pemerintah, dan kalau pemimpinnya di hukum berat, Rakyat
tercengang, karena ia memang tak tahu apa-apa.
Kalau kita mengatakan kita mesti kerja tertutup, maka maksud kita
bukanlah mesti meninggalkan pekerjaan yang praktis hari-hari dan kita lakukan
kerja tertutup itu ialah karena terpaksa, seperti sekarang kita sudah terpaksa
menutup sebagian dari pekerjaan. Bukan karena kita takut melainkan karena kita
tidak bodoh dan mau diprovokasi, yakni berkelahi sebelum siap betul. Pada masa
Afdeeling B tak ada hal yang penting yang menyebabkan anggotanya perlu
bersumpah gelap-gelap, karena S.I mempunyai pengaruh berjuta-juta. Kalau S.I
mempunyai pimpinan yang pantas atau ditolak maju berterang-terangan oleh
Pasukan S.I. sendiri, dan dalam S.I. sendiri, sebagai Linker-Vleugel atau Sayap
Kiri, maka 2 atau 3 biji Belanda, yang tersesak karena ada peperangan
(1914-1918) itu gampang dikirim ke pulau Merak.
Kalau kita Kaum Komunis terpaksa bekerja tertutup, maka kita mesti
tetap tinggal bersambung dengan Rakyat. Anggota kita mesti tinggal mengurus
anggota-anggota yang masih diaku Sah oleh yang berkuasa. Kalau Serikat Buruh
umpamanya tak diaku, maka kita lari ke koperasi, kalau inipun tak diakui kita
lari lagi ke Serikat Kematian, dan seterusnya, sampai "saat" kita
datang, yakni kalau seluruh Rakyat keluar bergerak. Bekerja dalam Organisasi
yang di aku sah oleh pemerintah itu perlunya bukan saja buat mengetahui
stemming atau suaranya Rakyat, tetapi juga buat mendidik pemimpin-pemimpin kita
berbicara dan mengatur Organisasi. Sehingga kalau Pemberontakan datang kita
tidak kekurangan Orator, yakni tukang pidato, Agitator dan Organisator yang
cakap, pemuka-pemuka mana perlu sekali buat merebut dan mempertahankan
Kemerdekaan ke dalam dan ke luar Negeri.
Partai Komunis berdiri atas Massa-Aksi, yakni Aksi beramai-ramai
dan Massa-Aksi ini bersamping kepada demonstrasi. Demonstrasi-politik,
dijalankan dengan tuntutan politik. Kalau yang menuntut cukup kuat dan gembira,
maka hak-politik itu boleh direbut dengan kekarasan.
Pada sesuatu demonstrasi, kontak atau Perhubungan dengan Rakyat
(Buruh, Tani, Tukang, Saudagar dan Student) haruslah teguh betul. Perhubungan
itu baru bisa teguh dan boleh dipercaya, kalau Pimpinan demonstrasi itu ada
mempunyai cukup wakil dari semua Kasta yang tersebut diatas. Suara semua Wakil
Kasta itu mesti didengar betul oleh urusan demonstrasi, kalau tidak demonstrasi
itu bisa terlandpur atau ketinggalan. Sebab di Italia dan Inggris umpamanya
pada waktu sesudah perang Partai kita, yang dikhianati oleh Sosial Demokrat itu
tak cukup mengadakan Wakil dari Serikat Buruh, jadi tak cukup mengadakan kontak
dengan Buruh, maka ia jadi kalah, Di kedua negeri itu kita sudah bisa merebut
politik negeri, sebab Buruh sudah luar biasa kegembiraannya (di Inggris 1-2
juta Buruh Tambang 3 bulan mogok). Tetapi Partai Politik Komunis disana tak
cukup mendapat Suaranya Kaum Buruh itu, sebab tak cukup Wakil di dalam Partai.
Supaya demonstrasi di Indonesia berhasil, haruslah kelak di
Sentral Pimpinan Revolusioner diadakan Wakil dari semua Pulau dan semua Kasta
di Indonesia. Begitulah suara dari segenap pihak boleh di ukur dan kita tak
mudah ketinggalan seperti di Italia atau Inggris dulu itu dan tak pula mudah
terlanjur seperti pada Aksi bulan Maret di Jerman 1921.
Demonstrasi itu menuntut Pimpinan yang plastis dan Korban yang
banyak. Pimpinan mesti selalu tahu, apa demonstrasi mesti diperkencang lagi
dengan Pemogokan atau Boikot. Dalam masa itu Pimpinan, Surat Kabar, dan
Perhubungan surat menyurat mesti ditempat yang rahasia, yang tak bisa diketahui
oleh musuh.
Sebelum demonstrasi keluar, haruslah dibicarakan lebih dahulu
tempat Demonstrator yang keluar dari semua penjuru kota atau desa mesti
bertemu, apa tuntutan yang penting buat masa itu, apa perspektif atau Hasil
demonstrasi kelak, kapan dan bagaimana mesti dibubarkan. Bersama-sama dengan
beriburibu dan berjuta-juta Demonstrator itu ada tersembunyi Pimpinan, sebagai
Staff umum atau Sidang Pimpinan, yang cukup mendapat kabar dari manamana dan
pada tiap-tiap saat bisa memberi perintah kepada pemimpin-pemimpin yang ditaruh
dipenjuru yang penting-penting, buat memimpin sekalian pasukan demonstrasi
tadi.
2. Tentara
Nasional.
Berapa susahnya mengadakan Organisasi yang tetap pada suatu
jajahan seperti Indonesia, sudahlah bisa dibuktikan oleh sejarah pergerakan
Indonesia, sendiri dalam kira-kira 17 tahun yang terakhir ini, Organisasi B.O
cuma tergantung diawang-awang saja, sama sekali tak mempunyai pengaruh diantara
Rakyat. N.I.P dan S.I yang diembus dengan "kebangsaan" dan
"Agama" sekarang sudah kosong karena pompa angin tak bisa kerja
begitu lama. Organisasi itu mesti berurat pada ekonomi dan Kasta, baru ia bisa
tumbuh dengan tetap. Tetapi kita mesti bilang terus terang, bahwa sampai
sekarang pada partai kita sendiripun belumlah jelas dan konsekuen, bahwa
"Keadaan ekonomi dan Keadaan Kasta di Indonesia" itulah yang menjadi
kriteria atau ukuran dalam pertimbangan kita buat mengadakan Organisasi. Di
jajahan lain-lain seperti Mesir, India d.s.g dimana ada Nasional Kapital yang
kuat dan pergerakan Nasionalisme yang revolusioner, maka dalam golongan Kaum
Komunis sendiri adalah timbul pertimbangan, apakah tidak baik, jangan
mendirikan Partai Komunis sendiri, melainkan memasuki Partai Nationalis yang
revolusioner yang ada, dan dari dalam, sebagai Linksche Vleogcl atau Sayap
Kiri, menumpu pergerakan Nasionalisme itu sampai ke Revolusi. Alasan pihak ini,
yakni, dimana Buruh diatur oleh Kaum Komunis berpisah dari Kaum Nasionalis,
seperti sudah dilakukan di Mesir dan India, disana pergerakan Nasionalis jadi
mundur. Jadi kata pihak ini, selama pergerakan Nasionalisme masih revolusioner,
biarlah Buruh Industri, yang menang pada tiap-tiap jajahan jadi pasukan muka
pergerakan revolusioner, diatur oleh Kaum Nasionalis, dan kita Komunis cuma
menolong saja dari dalam dan menjaga supaya pergerakan jangan jadi lembek.
Maksud yang pertama toh, kata pihak ini seterusnya melemparkan
"imperialisme."
Disini tak tempatnya buat memeriksa pertimbangan ini lebih jauh.
Tetapi kita boleh mengambil pengajaran dari pertimbangan itu, bahwa pada satu
jajahan pergerakan nasionalisme itu buat melemparkan imperialisme satu faktor
atau hal yang sangat penting, yang tiada boleh kita putuskan dengan dogma atau
"kajian hapalan" saja.
Sebaliknya pula kita tidak boleh menunjuk ke bangkai S.I dan N.I.P
dan berkata : "Nah, kan perlu lagi dihidupkan bangkai bangkai ini."
N.I.P dan S.I mati karena ada mempunyai sebab yang dalam sekali,
ialah karena tak ada Nasional Kapital yang kuat di Indonesia, yang bisa memberi
inspirasi atau semangat buat mendirikan Program yang kokoh, Organisasi yang
teratur serta Taktik yang tetap, seperti di Mesir dan India. Oleh karena
pemimpin-pemimpin B.O, N.I.P, & S.I seperti Dauwes Dekker, Tjipto, Tjokro
Aminoto dan Salim terpaut oleh Kasta dan didikan mereka, ia tak pernah sampai
ke kasta Kaum Buruh. Mereka tak bisa mengerti, bahwa di Indonesia Kasta inilah
yang kuat karena geconcentreerd (terkonsentrasi) dan dari Kasta inilah bisa
datangnya inspirasi dan pimpinan buat merebut kemerdekaan.
Sebaliknya pula kita Komunis tak pula boleh memandang Indonesia
sabagai Negeri industri, seperti Jerman atau Inggris, dan memikir bahwa
Kebangsaan dan Agama dalam pertarungan kemerdekaan sama sekali tak ada artinya.
Dan berhubungan dengan hal ini cukuplah kalau di Indonesia kita adakan Satu
Partai Komunis saja.
Sikap inilah kira-kira yang dipeluk oleh pihak yang mau
menghapuskan S.R pada Konferensi bulan November 1924 di Yogya. Yang dijadikan
alasan, ialah :
"Kaum borjuis kecil di Indonesia selalu kalah, juga dalam
perjuangan dengan imperialisme Belanda, yang tergambar pada B.O, N.I.P &
S.I. Sebab itu S.R yang juga kumpulan borjuis kecil tak akan bisa menang."
Demikianlah kira-kira isinya Referaat Hoofdbestir. Kalah atau
menangnya borjuis kecil di Indonesia buat kita pada masa ini perkara "puur
philosophisch" (filosofi murni) artinya perkara timbang menimbang dengan
tiada akan mendapat keputusan. Tetapi bukanlah kesimpulan atau putusan kalah
menangnya itu sekarang yang terpenting buat kita, melainkan akuan, yang tak
dibantah, malah terbawa oleh Referaat tadi sendiri, yakni Kaum borjuis kecil
masih selalu berkelahi, jadi masih revolusioner.
Inilah yang terpenting buat kita, dan hal ini memang apriori atau
sudah termasuk ke dalam pikiran. Kaum Borjuis Kecil, di mana-mana mau menjadi
Borjuis Besar atau Hartawan-Besar. Pada Zaman Bangsawan, Borjuis kecil
Indonesia terhambat oleh Raja dan Bangsawan kita, sebab itu ia acap berperang
dengan Bangsawan itu. Pada Zaman kita mereka terhambat oleh imperialisme
Belanda, sebab itu ia sekarang melawan imperialisme Belanda. Perlawanan ini
sudah terbawa oleh alam dan tak akan habis, selama keadaan kasta-kasta masih
tetap. Ringkasnya sekarang dalam himpitan imperialisme Belanda, borjuis kecil
kita yang kira-kira 70% banyaknya dan tak berapa bedanya tertindas dari Kaum
Buruh Industri akan tinggal revolusioner.
Berhubung dengan akuan diatas ini maka persoalan kita seharusnya,
sebelum imperialisme Belanda belum kalah, ialah:
Bagaimana kita mesti mengatur P.K.I. yang kuat sebagai Avant-Garde
atau Pasukan-Muka dari pergerakan revolusioner Indonesia ?
Bagaimana kita mesti menyusun Kaum Non-Proletar, sebagai Reserve
atau Pasukan Pembantu pergerakan revolusioner ?
Bagaimana kita mesti menarik Landstorm atau Laskar dalam waktu
tersesak, dari seluruh Rakyat Melarat ?
Bagaimana kita mesti mengadakan perhubungan antara P.K.I dan S. R.
sebagai Partai Non-Proletar ?
Inilah persoalan kemerdekaan di Indonesia. Kita mesti mengaku,
bahwa Non-Proletar saja tanpa Kaum Buruh susah mengalahkan Belanda. Sebaliknya
pula Kaum Buruh tanpa pertolongan 70% Non-Proletar tidak pula mudah akan
menang. Sedangkan di Jerman, dimana 75% dari penduduk negeri sama sekali buruh
Industri model baru, pada tahun 1923, yakni waktu yang terpenting sekali buat
revolusi, kita dengan segala daya upaja mendekati Kaum Borjuis Kecil. Juga di
Rusia kemerdekaan kita peroleh dan kita pertahankan dengan Kaum Tani besar
kecil yang banyaknya 80% itu, jadi dengan borjuis kecil juga.
Berhubungan dengan 4 persoalan yang diatas, maka kita sangka
pertimbangan buat mengadakan Satu Partai, yakni P.K.I saja buat seluruh
Indonesia ada salah. Kita pikir di kota besar-besar seperti Betawi, Semarang
dan Surabaya pun sekarang mesti dilakukan Partai Kembar, yakni P.K.I dan S.R.
Dengan politik Satu Partai, baik di seluruh Indonesia ataupun buat kota-kota
besar, kita pikir, pertama kita bisa tinggal kecil (sectarisme) atau kedua
besar, seperti perut kemasukan angin.
Kecil, karena sudah kita terangkan, bahwa Indonesia tidak negeri
industri betul melainkan landbouw-industri. Sudah pula kita perlihatkan, bahwa
kota-kota kita bukan pusatnya industri (kain, besi, mesin, kapal d.s.g).
Penduduknya kota-kota kita, terutama non-proletar, seperti tukang-tukang, dobi,
saudagar kecil-kecil seperti penjual cendol, satai d.s.g. atau Buruh Halus,
seperti guru-guru, jongos, clerk d.s.g. Yang buruh tulen di kota-kota kita
masih sangat sedikit, kalau diperbandingkan dengan jumlah penduduk. Lagi pula
mereka bukan buruh industri produktif yakni buruh yang mengadakan hasil (kain,
besi, dll), melainkan buruh pengangkut, seperti kereta, kapal dan tram, yang
kecakapannya juga kurang dari buruh industri betul. Tiadalah seperti di Berlin,
London atau New York, dimana, kalau tutup pabrik pukul satu berbunyi kita
melihat sampai 1.000.000 Buruh Pabrik, yang muka, tangan dan pakaiannya
berkilat-kilat dengan minyak mesin, berduyun-duyun meninggalkan pabrik. Ini
belum ada! Malah belum seperti Bombay, dimana buruh kain saja terkumpul
150.000. Atau di Calcutta yang mempunyai 300.000 buruh model baru, seperti
buruh pelikan (tambang), kain, mesin, kereta, kapal dll. Betul ada beratus ribu
sudah terkumpul di perusahaan gula, tetapi mereka itu buruh tani. Yang buruh
pabriknya baru sedikit, dan sebab disini ada pabrik gula, disana 50 KM lagi
berdiri pabrik lagi, jadi sebab sangat terpencar-pencar, maka kita susah pula
mengatur mereka.
Ringkasnya betul buruh kita (kereta, kapal, gula, minyak d.s.g.)
lebih kuat dari non-proletar, karena mereka menjalankan perusahan negeri,
tetapi kita jangan overschatten (overestimate atau melebih-lebihkan), melebihi
perhitungan kekuatan kita. Kalau kita bersandar semata-mata pada buruh tulen
dengan mengadakan Satu Partai, serta menghilangkan S. R. maka Partai kita akan
sangat kecil.
Kalau ia dijadikan besar, maka terpaksa ia menarik jadi anggotanya
saudagar-saudagar cendol, nasi, rujak d. s. g. Inilah namanya verwatering
(mengencerkan), lebih santan dari pada air dan seperti SI akan segera jatuh
kegemukan saja. Tidak boleh tidak elemen borjuis kecil itu, kalau masuk Partai
Komunis, walaupun ia "menghapalkan" program kita, akan membawa
semangat dan wataknya borjuis kecil (adat, logika, dan sifatnya). Betul kursus
dan didikan bisa membangunkan semangat revolusioner, tetapi sebagai Marxis kita
mesti tahu "bahwa keadaan itulah yang menentukan semangat" atau de
materieele onderbouw bepaalt den geestelyken bovenbouw. Cuma kaum Utopis dan
Dogmatis yang percaya, bahwa dengan "menghapalkan" saja satu ilmu
bisa jadi orang bersifat baru. Betul bisa satu atau dua orang yang bukan
golongan buruh bisa menjadi Komunis, tetapi sebagai kasta, Kaum borjuis kecil
tak bisa dilompatkan menjadi Komunis Revolusioner. Dan sebab di Indonesia
borjuis kecil itu memang masih terpaut oleh semangat revolusioner (sebab belum
pernah menang) sebab itulah kita gampang menyangka, bahwa sebab dia
revolusioner itu ia Komunis. Inilah bahaya yang ada kalanya kelak bisa masuk ke
dalam badan PKI sendiri, yang bisa memecahkan diri dari dalam.
Bagaimana, kalau kita dirikan Satu Partai buat seluruh Indonesia
dari kaum Buruh, dan non-proletar kita susun dalam Serikat Buruh?
Serikat Buruh saja tak cukup buat mereka, karena mereka borjuis
kecil di negeri kita juga mempunyai cita-cita politik. Siapapun di kota-kota
atau desa-desa, apapun juga pekerjaannya ia mau merdeka sebagai bangsa. Jadi
kita harus mengadakan politik yang sepadan dengan kehendak mereka itu.
Koperasi, Serikat Buruh atau Serikat Tani tak mencukupi cita-cita politik,
lebih-lebih dari penduduk kota dan setengah kota.
Lagi pula, kalau kita mau mengadakan Serikat Buruh buat borjuis
kecil di kota besar-besar seperti Betawi, Semarang, Surabaya d.s.g. di
kota-kota klas dua seperti Sumedang, Pekalongan, Palembang, Banjarmasin d.s.g,
berapa ribu Serikat Buruh mesti kita bikin, buat mengikat saudagar kecil-kecil,
jongos, tukang penatu d.s.g, Ini dalam praktiknya mustahil!
Kita tidak saja di desa-desa dan kota-kota klas dua mesti
mengadakan Organisasi politik yang memenuhi cita-cita 70% dari penduduk kita,
tetapi juga di kotakota besar seperti Betawi dan Surabaya, dimana borjusi
kecilah yang terbanyak dan industri produktif sama sekali belum ada. Baru kalau
Partai Komunis bersamping dengan Organisasi, yang memeluk beribu-ribu anggota,
yang pada segenap waktu bisa dijalankan bersama-sama, baru kita bisa mengadakan
aksi politik umpamanya demonstrasi yang berarti. Walaupun kita cuma dua atau
tiga ribu, tetapi kalau kita dalam Aksi politik sebagai Avant-Garde dikelilingi
oleh beribu-ribu Proletar & Non-proletar sebagai reserve, dan disukai oleh
seluruh Rakyat yang tertindas sebagai Landstorm, kita bisa menang.
Berhubung dengan pertimbangan kita diatas, maka buat menjawab 4
pertanyaan tadi buat Indonesia Organisasi yang berikutlah yang sepadan dengan
keadaan kita
1. Diadakan Partai-Kembar (PKI & S. R.),
pada pusat ekonomi, politik dan Pergerakan, seperti di Betawi, Semarang,
Surabaya, Bandung, Padang dan Medan, pada pusat ekonomi (industri) seperti
Cepu, Kediri, Pelaju, Belitung, Pangkalan Brandan, Sawah-Lunto, Balik Papan
d.s.g, pada pusat politik, seperti Palembang, Kota-Raja d.s.g., pada pusat
pergerakan, baik kereta atau kapal, seperti lain yang sudah tersebut diatas
juga Banjarmasin, Makasar, Cilacap, Cirebon d.s.g. yakni menurut pertimbangan
yang lain-lain (seperti di Balik Papan sudah cukup PKI saja).
Anggota PKI terutama mesti dari Buruh industri, seperti dari
bengkel, baik kereta ataupun pelabuhan, Buruh Cetak, Pabrik gula, minyaktanah,
tambang arang, minyak d.s.g. Golongan inilah yang mesti jadi ruggegraat atau
tulang punggungnya P.K.I.
Kursus mesti dikencangkan, tetapi isinya mesti praktis dan
berpadan dengan keadaan dan aksi di Indonesia. Program dan Agitasi,
dikencangkan betul, ialah yang berhubungan dengan industri dan negeri. (Lihat
Program Nasional!).
Kontribusi dipertinggi dan disiplin diperkeras. Dalam semua Aksi
seperti Pertemuan, Mogok dan demonstrasi anggota P.K.I mesti dimuka.
2. Diadakan S.R. saja, selainnya dari tempat
yang tersebut diatas (1) di seluruh Indonesia, di kota-kota klas dua, seperti
Sumedang, Magelang, Paja Kumbuh, Pontianak, di pelabuhan klas dua, di desa-desa
dan gunung-gunung sampai masuk ke dalam hutan seperti Puruk Tjau di Borneo. Tak
ada tempat yang boleh di lupakan.
Anggota S.R boleh dari sembarang kasta, asal mengakui dasar
revolusioner, yakni mau mengusir imperialisme Belanda (jadi berbeda dengan
N.I.P, B.O & S.I ). Student, saudagar, tukang, tani dan penjual ini atau
itu, beragama Islam, Kong Hu Tju atau Kristen; yang suka sama kebangsaan, agama
atau anarkisme, pendeknya semua yang benci kepada Tindasan Imperialisme
bolehlah berdiri di bawah bendera S. R.
Kursus haruslah berhubungan betul dengan "keadaan dan
cita-cita mereka. Perkara kemerdekaan sebagai Bangsa Nasional yang merdeka,
perkara sewa rumah, Pajak, pendidikan dan perkara yang lain, yang terasa betul
oleh penduduk kota tak boleh dilupakan. Dalam kesusahan hari-hari, baikpun
dengan pakrol-pakrol si Kecil di kota atau desa yang tak berhak apa-apa itu
mesti ditolong oleh S. R.
Kontribusi mesti serendah-rendahnya, karena maksud kita yang
terutama, supaya menarik mereka ke bawah pengaruh dan ke dalam aksi kita. Juga
disiplin tidak bisa begitu keras, karena hal ini sudah terbawa oleh watak
mereka. Jadi maksud kita yang terutama ialah mengumpulkan semua golongan yang
tak senang hati di bawah Imperialisme Belanda dan memimpin mereka dalam segala
aksi.
3. Dengan Perantaraan P.K.I, kalau krisis
ekonomi dan politik datang kita bisa menarik terutama, segala Buruh industri
yang ada, baik yang sudah diatur dalam Serikat Buruh ataupun yang belum di
atur. Dalam Pemogokan atau demonstrasi PKI. akan memberi pimpinan yang langsung
atas semua golongan Kaum Buruh di Indonesia.
Dengan perantaraan S.R, semua penduduk kota, seperti klerk,
tukang, penjual ini atau itu, student d.s.g dan semua penduduk desa dan gunung
akan menarik dengan Tuntutan yang pantas ke dalam Aksi, seperti Boikot dan
demonstrasi buat melawan Krisis ekonomi atau politik dan merebut Kemerdekaan.
Jadi P. K. I. & S. R. keduanya mesti menjadi Organ atau Anggota buat
seluruh Rakyat Indonesia merebut Kemerdekaan.
Teranglah sudah maksud kita bahwa kedudukan P.K.I dan S.R bukan
kedudukan Bovenbouw (atas) dan Onderbouw (bawah), yang di kursus atau tak di
kursus atau tinggi berendah (memang kita dengan semua Rakyat melarat mau ke
zaman persamaan, bukan?), melainkan kedudukan dua kasta tertindas, tetapi
berlainan keperluan dan sifatnya, oleh sebab mana mereka harus di atur dalam
dua pasukan. Sebab Buruhlah yang terkumpul dan memegang perusahaan negeri yang
terutama serta non-proletar terpencar-pencar, maka dari buruhlah bisa datang
Aksi yang tetap, Ideal atau cita-cita yang tetap, Program yang tetap dan
Senjata yang tetap (Mogok). Berhubung dengan itulah ia di Indonesia bisa
memberi Pimpinan yang tetap revolusioner. S.R berdirinya bukanlah karena
internasional (memang ini dulu pelawan semangat N.I.P) atau karena tak beragama
(memang ini mengandung dan melawan semangat S.I) melainkan karena ia berdiri
atas kasta non-proletar yang bersifat revolusioner. Kasta dan semangat
revolusioner itulah yang menjadi kriteria atau ukuran di S.R, dengan tiada
melanggar Agama atau Kebangsaan, malah mufakat, kalau Agama dan Kebangsaan itu
ada memperkuat keyakinan dan semangat Revolusioner.
4. Karena Buruhlah kasta yang terkumpul, dan
ialah yang mempunyai senjata yang tertajam, yakni mogok, maka ialah pula yang
mesti memberi pimpinan politik buat merebut kemerdekaan Indonesia.
Walaupun Seksi atau Lokal diatur dengan Partai Kembar, tetapi
Sentral tentu mesti satu, supaya urusan, agitasi dan aksi bisa satu pula.
Supaya semua golongan di Indonesia bisa diperhatikan keperluannya, maka pada
Sentral Pimpinan Revolusioner di Betawi, seberapa boleh kelak mesti diadakan
wakil dari semua pulau, dan semua kasta yang terutama seperti Buruh, Student,
Tani dan Penduduk kota. Buat memperhatikan kepulauan Indonesia yang begitu
besar tentulah belum cukup 5 atau 6 orang duduk di Sentral Pimpinan.
Supaya agitasi buat seluruh Indonesia dirasa betul oleh semua
golongan haruslah Sentral Pimpinan Revolusioner, membedakan agitasi buat satu
negeri dengan yang lain (Jawa dengan Sumatera atau Celebes, Padang dengan
Jambi); dan satu golongan dengan golongan lain (Buruh dan Tani atau Student
dengan Penduduk kota). Berhubung dengan hal ini pekerjaan di Sentral pimpinan
haruslah dibagi-bagi (verdeling en specialiseeren van arbeid) (partisi dan
spesialisi kerja).
Supaya pimpinan tinggal revolusioner, jangan seperti S.I atau
N.I.P, haruslah baik di Sentral Pimpinan ataupun di Seksi atau Lokal, S.R yang
mayoritas atau terbanyak ialah pemimpin Komunis. Dengan jalan begitu, kita
menjaga supaya pergerakan Indonesia tinggal proletaris dan tak menjadi
oportunistis atau reformistis, yakni lembek seperti S. I. dan N. I. P.
Demikianlah Sentral Pimpinan Revolusioner di Indonesia, yang
mengikat semua Seksi P.K.I & S. R, semua Serikat Buruh, Koperasi, dan
mengikat JOI dan Rakyat-Scholen, yang menaruh semangat proletaris dan
revolusioner, menunggu datangnya saat, dimana ia dengan Massa-Aksi kelak akan
merebut hak ekonomi dan politik.
Oleh karena Massa-Aksi itu cuma bisa dijalankan dengan Massa,
yakni beramai-ramai, maka haruslah P.K.I yakni pemuka Kaum Buruh dan S.R yakni
pasukan Muka Kaum Non-Proletar menambah anggotanya dengan berlipat ganda. Kalau
S.I pada waktu baiknya bisa mengumpulkan sampai 1 atau 2 juta anggota (betul
belum seperti anggota sekarang), dan menurut laporan pemerintah sendiri sampai
5 atau 6 juta simpatisan, yakni yang mufakat dengan S.I, maka kalau Taktik,
Program dan Agitasi kita benar dalam waktu di muka ini sekurangnya kita mesti
dapat laskar buat PKI 10.000 dan buat S.R 500.000. Juga anggota dari Serikat
Buruh yang terutama seperti V.S.T.P, S.P.P.L, S.P.L.I dan S.G.B haruslah
berlipat ganda banyaknya. Di Jambi, Palembang, Banjarmasin, Aceh d.s.g mesti
ada koperasi-koperasi yang kuat. Demikianlah pula JOI harus memperbanyak
anggota dan Seksinya. Di Betawi, Semarang dan Surabaya bersamping dengan P.K.I
yang bisa mempunyai 1000-2000 anggota S.R bisa mendapat 10-20.000 anggota.
Kalau sudah bisa kita mengadakan Tentara Nasional sebesar ini tidak saja
Imperialisme Belanda segenap waktu bisa hancur, tetapi juga imperialisme Asing
tak akan gampang menentang Tentara yang sebesar itu.
V.
REVOLUSI.
1. Peperangan dan Revolusi.
Sebermula maka kemajuan Pergaulan itu diatur oleh hukum yang juga
menguasai seluruh alam (hewan dan tumbuh-tumbuhan), yang dinamai Hukum Evolusi
dan Revolusi. Kedua hukum ini sebetulnya satu, karena tak ada bedanya dalam
sifat, melainkan berbeda cepatnya bekerja.
Seperti suatu sungai harus mengalir ke lautan, demikianlah juga
pergaulan hidup kita ini menuju ke zaman persamaan, kesentosaan dan peradaban.
Seperti sungai itu mengalirnya di tempat yang datar dengan tenang, demikianlah
pergaulan hidup kita, kalau tak kuat kasta yang menghambat maju dengan sentosa.
Berhubung dengan itu, maka kekayaan, kepandaian dan peradaban maju dengan tiada
di rasa.
Tetapi seperti sungai yang terhambat majunya oleh gunung akan
menebus gunung itu, demikianlah pula Pergaulan Hidup, yang terhambat majunya
oleh satu Kasta atau Bangsa yang menindas, akan memecahkan Kasta dan Bangsa
itu.
Baik dengan damai atau perkosa, Evolusi atau Revolusi Pergaulan
Hidup kita tetap maju.
Sebagian dari kemajuan itu terjadi dengan peperangan. Satu Bangsa
memerangi yang lain, dan menghimpit bangsa yang lain itu dengan alat senjata
peperangan. Kemudian, maka bangsa yang menang itu bertambah kaya, bertambah
kuasa dan bertambah pandai, sedangkan yang kalah bertambah miskin, serta
bertambah bodoh. Nietsche, seorang filsuf atau Pemikir Jerman, menjunjung
tinggi Uebermensch, atau Dewa dalam bukunya "Also Sprach Zarathustra"
(Begitulah sabdanya Nabi Zoroaster) dan dalam "Die Willie Zur Macht (Nafsu
merebut Kekuasaan), dimana ia menggambarkan dengan giat sifat-sifat yang perlu
dipakai oleh seorang panglima perang dan pembesar negeri. Buku-buku itu dibaca
oleh Kasta Opsir di Jerman di medan peperangan yang baru lalu ini dalam asap
meriam dan hujan pelor dengan segala keyakinan.
Nietsche, ialah Nabi-Imperialisme, yang menyangka, bahwa peradaban
itu mesti terbawa oleh kemenangan suatu bangsa atas bangsa yang lain. Inilah
filosofi imperialisme, yakni Kultur Paksaan, Peradaban Militerisme &
Peperangan, serta Peradaban bunuh membunuh sesama manusia dengan maksud hendak menindas
dan memeras bangsa yang lemah. Nietsche ialah Zenith atau puncak Peradaban,
yang tergambar oleh Arjuno, Iskandar Zulkarnain, Napoleon dan Wilhem II.
Selamanya ada tindasan, selamanya itulah pula ada rasa
kemerdekaan. Cacingpun, yang diinjak bergerak kiri kanan, lebih-lebih manusia
yang terinjak itu akan berusaha melepaskan dirinya dari injakan itu. Si Bengis
Nero, menguatkan majunya Kaum Kristen. George III mengadakan Washington, yang
melepaskan Amerika dari tindasan Inggris. Tsarisme di Rusia mengadakan
Bolshevisme. Inggris di India melahirkan Pergerakan Boikot dan Swaray,
demikianlah tak akan putus putusnya.
Peperangan buat Kemerdekaan tiadalah untuk menindas bangsa lain,
melainkan buat melepaskan tindasan. Satria Kemerdekaan-Bangsa, tiadalah seorang
Penindas, seperti Caesar, Napoleon dan Wilhem II, melainkan manusia yang
berhati suci, berfikiran jernih dan yang setia kepada yang tertindas. Phoseon
di Griek L'Ouverture pemimpin budak Negro, Garibaldi di Italia dan Rizal di
Filipina, semuanya Satria, laksana gambaran Kemerdekan, Kesucian, Keberanian
serta Kecintaan hati. Laskar Kemerdekaan, walaupun biasanya miskin dan tiada
bersenjata, lebih kuat dari pada Laskar Imperialisme, karena dasar dan makudnya
lebih tinggi. Disiplin laskar Kemerdekaan tiadalah pula perbudakan, seperti
pada Laskar Imperialisme, melainkan kegiatan yang suci.
Tindasan feodalisme di Prancis, melahirkan pemikir baru, yang
wujudnya mau melepaskan tindisan satu kasta dari kasta yang lain.
Voltaire dan Rousseau, dengan pena yang maha tajam memecahkan
Feodalisme itu dan melahirkan fikiran baru, buat zaman yang baru pula, yakni:
"Kemerdekaan, Persamaan dan Persaudaraan."
Kaum Satria baru lahir pula, yakni buat menjalankan buah pena
pemikir tadi. Mirabeau, Madame Roland, Danton, Robespierre dan Marat, ialah
satria zaman baru, zaman mana kita masuki dengan banyak darah dan air mata
mengalir. Satria Prancis tadi belumlah insaf, bahwa Kemerdekaan, Persamaan dan
Persaudaraan itu sekarang diperkosa oleh Kapitalisme.
Pemikir baru mesti berdiri pula. Marx dan Engels, melahirkan
pikiran dan pertandingan baru: "Kaum Proletar seluruh dunia
bersatulah" Tidak lagi satu kasta dalam satu negeri, melainkan Kasta
Hartawan diseluruh dunia haruslah dihancurkan oleh Kasta Proletar seluruh dunia,
supaya datang Kemerdekaan dan Komunisme.
Lenin, Trotsky, dll sejawatnya di Rusia sudah memperlihatkan,
bagaimana besar kekuatan Kaum Proletar itu. Sekarang di seluruh dunia Kaum
Proletar sedang mengatur kekuatan buat perkelahian yang lama, sukar dan bengis
itu.
Imperialisme boleh bersiap mengadakan kapal perang, meriam, kapal
terbang, kapal selam, bom dan gas beracun. Bangsa jajahan di Timur dan Kasta
Buruh di dunia boleh sementara dihisap dan ditindas, dan tiada apa kalau miskin
dan tak bersenjata. Bangsa jajahan dan kasta Proletar ada mempunyai senjata
yang lebih tajam dari pada peluru dan bom, yakni kerukunan.
Kalau Bangsa di jajahan dan Kaum Proletar mengerti, serukun dan
mau, maka tentara imperialisme itu akan pecah dari dalam sendirinya karena yang
memegang sekalian senjata itu ialah Kaum Proletar juga.
Inilah senjata kita Kaum Revolusioner yang terutama sekali: Otak,
Pena dan Mulut.
Serdadu Revolusi, ialah serdadu yang mengerti serta yakin, dan
kalau saatnya sudah sampai, maka dengan perkataan dan tangan saja ia bisa
menjatuhkan musuh berapapun besarnya.
Revolusi bukanlah peperangan imperialisme, yang dilakukan buat
bunuh membunuh dan rampas merampas. Revolusi ialah satu pertarungan lahir dan
batin, dimana satu Bangsa Tertindas atau Kasta Tertindas, melahirkan dan
mengumpulkan sifat-sifat manusia yang termulia untuk maksud yang tersuci.
2. Revolusi di Indonesia.
Objektifnya, yakni hal keadaan negeri di Indonesia sudahlah lama
masak buat Revolusi. Lepasan-Kerja (pemecatan - catatan editor) terjadi
hari-hari, dan tentara Kaum Buruh yang tak kerja (werkeloozen) belum pernah
sebesar sekarang. Gaji Kaum Buruh banyak dikurangkan, walaupun harga
barang-barang masih tetap tinggi. Pajak sudah lama melewati kekuatan Rakyat
kita.
Walaupun ekonomi dan politik dalam krisis, tetapi Rakyat belum
lagi matang revolusioner, artinya itu belum sempurna siap dan bergerak
sendirinya merebut dan memegang urusan ekonomi dan politik Negeri. Kesadaran
Rakyat kita dalam hal politik, sungguhpun sangat cepat majunya, baru dalam
permulaan, sebab itu masih satu persoalan besar, apakah ia cukup kuat dan giat
buat menentang musuh di dalam dan di luar negeri (Inggris, Amerika dan Jepang)
pada pertarungan yang tentu hebat dan lama sekali. Rakyat Indonesia, yang belum
pernah sedikitpun mempunyai hak politik, karena, dari dulunya terhimpit oleh
despotisme dan imperialisme, tentulah tiada bisa dibangun kan dalam dua tiga
tahun saja. Perkumpulan politik kita mesti dilipat ganda banyak dan kualitas
anggotanya pada masa ini juga. Berhubung dengan itu agitasi mesti lebih dalam
dari pada yang sudah-sudah. Pun Serikat Buruh belum lagi cukup mempunyai banyak
dan kualitasnya anggota, buat merebut ekonomi dan politik Negeri dan kelak
menguruskan hasil dan pembagian hasil itu (produksi dan distribusi) serta
mempertahankan negeri terhadap musuh di dalam dan di luar negeri.
Wataknya kelak Revolusi di Indonesia bolehlah sekarang kira-kira
kita gambarkan. Tiadalah akan seperti di Marokko umpamanya, dimana ekonomi
masih sangat mundur sekali. Oleh sebab disana pencarian hidup teutama pertanian
kecil (bukanondernimingen) dan bergembala, maka tiadalah ada keberatan Abdul
Karim buat menarik Tani dan Gembala itu lari ke gununggunung, buat meneruskan
peperangan dengan Prancis dan Spanyol. Sebab negeri sangat besar dan penduduk sangat
sedikit (luas Marokko saja, yang terletak ditepi gurun Pasir itu ada 4 1/2
Jawa, tetapi penduduk cuma 1/6 dari Jawa, sehingga Jawa ada 27 kali serapat
Marokko dan kalau Jawa sekarang penduduknya serapat Marokko isinya tidak 36
juta melainkan 1 1/3 juta) dan pencarian hidup gampang sekali, maka perang
gerilya, yakni perang lari-larian bisa diteruskan bertahun-tahun. Tetapi Jawa
yang mempunyai isi negeri yang nomor satu rapatnya di dunia itu, dimana tak ada
tempat lagi buat berlindung seperti Abdul Karim, dimana industri sudah sampai
ke Trust dan Syndikaat, dimana hasil sama sekali tergantung pada pasar di luar
negeri, dimana tiap-tiap tahun mesti masuk beras seharga F.75.000.000, jadi
dimana ekonomi negeri sudah sama sekali berdasar kapitalistis dan internasional,
tentulah tak setahun bisa menjalankan Karim-isme atau Dipo Negoro-isme. (Pada
masa DipoNegoro penduduk Jawa baru 5 juta).
Oleh karena di India ada Kasta Hartawan bumi putera yang kuat,
maka juga pergerakan politik selamanya ini bisa nasionalistis
tulen. Artinya itu, cuma buat mengusir pemerintah Inggris dan mengisi
pemerintah itu dengan Wakil dari Hartawan bumi putera. hak Milik akan tinggal
tetap, dan berhubung dengan itu perusahaan yang besar-besar tiada akan jatuh di
tangan Buruh industri. Buat Rakyat Kemerdekaan di India itu tak akan berapa
menambah hak ekonomi dan politik. Dalam perkelahian menentang Imperialisme
Inggris, politiknya Kaum Nasionalis India semata-mata buat memakai Rakyat dan
Buruh sabagai serdadu buat maksud Kaum Hartawan. Oleh karena senjata mogok,
buat dilawankan kepada Inggris, juga berbahaya buat kapital nasional sendiri,
maka Ghandi melarang Kaum Buruh mogok. Senjata yang bisa dipakai oleh Kaum
Nasionalis di India ialah Boikot saja, karena boikot itu mengenai perusahaan
dan perniagaan Inggris dan membesarkan perusahaan dan oerniagaan Hartawan Bumi
Putera.
Tetapi di Indonesia senjata mogok itu bisa dipakai seluas-lusnya,
karena tak ada kapital nasional yang bisa dikenai. Mogok umum di Indonesia bisa
dan mesti disertai oleh demonstrasi umum, karena pergerakan politik kita bukan
untuk satu golongan kecil, yakni dari hartawan saja, melainkan untuk rakyat
melarat yang terbanyak itu. Rakyat Indonesia, kalau sudah merebut kekuasaan
politik, bisa mengubah nasibnya dengan lekas dan bisa menasionalisi sekalian
perusahaan yang besar-besar (kebon, pabrik, tambang, kereta, kapal, dan bank)
yang sekarang di tangan hartawan Belanda. Bersama dengan ini, maka kelak nasib
buruh dan Rakyat akan segera bisa menjadi baik.
Berhubung dengan hal diatas, maka Revolusi Indonesia kelak akan
berbeda betul dengan pemberontakan Marokko dan pergerakan di India
(Non-Cooperation clan Swaray). Revolusi Indonesia tiadalah akan semata-mata
untuk menukar kekuasaan Belanda dengan kuasaan bumi putera (Peperangan
Kemerdekaan bangsa), tetapi juga untuk menukar kekusaan hartawan Belanda dengan
Buruh Indonesia (putaran-sosial).
Jadi pergerakan kita sekarang, ialah nasionalis sosial, dan
berpadanan dengan itu perkakas bertarung ialah perkakas militer (Karim-isme)
bercampur dengan perkakas ekonomi dan politik, yakni mogok, boikot dan
demonstrasi.
Mana kelak yang lebih kuat diantara perkakas militer dan perkakas
ekonomi dan politik itu, buat seluruh Indonesia, yang mempunyai pulau-pulau
yang tiada sama kemajuannya, tiadalah bisa kita putuskan dengan sepatah
perkataan saja.
Di Jawa, sebagai sentral ekonomi Indonesia tentulah Karim-isme
cuma sebagian bisa dilakukan, yakni kalau perkakas mogok, boikot dan
demonstrasi sudah segenap waktu bisa dipakai. Artinya itu, kalau perkumpulan
politik (P.K.I & S.R) dan Serikat Buruh sudah siap betul. Sungguhpun
begitu, Kaum Serdadu tak sekejap boleh dilupakan. Karena, kalau kelak buruh dan
Rakyat bisa merebut semua kota-kota di pesisir, tetapi benteng-benteng Bandung,
Ambarawa dan Malang masih setia pada pemerintah, maka Belanda bisa lekas
mendatangkan pertolongan dari luar Indonesia (Negeri Belanda, Inggris dan
Amerika). Seperti dulu Spanyol, sesudah 3/4 di usir oleh Filipina, tiba-tiba
menjual Filipina kepada Amerika, begitu juga kelak Belanda, kalau sudah 3/4
terusir, akan mencari akal busuk. Sebab itu benteng-benteng di Jawa, dimana
kelak Belanda lari berlindung, mesti kita persatukan dengan Rakyat merah. Dan
kelak kita tak boleh menjatuhkan palu terakhir dan menjalankan Karim-isme
(kekuatan militer) sebelum kumpulan politik dan buruh matang betul dan kaum
serdadu mengerti betul akan maksud kita.
Di luar Jawa, dimana industri masih mundur Karim-isme bisa
dilakukan. Tetapi kita mesti jaga lebih dahulu supaya Jawa sudah siap dengan
senjatanya, yakni mogok, boikot dan demonstrasi. Kalau belum siap dan
Karim-isme diluar Jawa dijalankan, maka pergerakan kita semacan itu akan
sia-sia dan bisa lama memundurkan aksi.
Meskipun begitu, kalau sekiranya Karim-isme itu di Sumatra,
Borneo, Celebes atau Ternate bisa dijalankan dengan lama dan kuat sekali, maka
Belanda mesti akan dapat kesusahan besar. Tentu ia segera akan memukul
pergerakan politik dan Serikat Buruh di Jawa, tetapi sebab ia terpaksa
menaikkan pajak, semangat revolusioner akan tetap naik di seluruh Indonesia.
Kita tahu, bahwa Anarkisme di mana-mana, sebab kapitalisme sudah
sangat teratur, tak bisa menang. Anarkisme di India sudah masyur
bertahun-tahun, tetapi tetap tinggal kalah. Di Mesir sangat memukul pergerakan
yakni sebagai provokasi, yang memberi senjata pada Inggris buat melarang sama
sekail pergerakan politik (sesudah pembunuhan Sir Lee Stac). Pergerakan
Anarkisme malah sangat mengacaukan dan melemahkan pergerakan Buruh di Jepang.
Tetapi walaupun kita sama sekali tak mempunyai pengharapan akan mendapat
Kemerdekaan Indonesia dengan jalan Anarkisme, berhubung dengan sikap
pemerintah, Anarkisme di Indonesia bisa timbul. Selama Rakyat masih bisa
mendengar pembicaraan nasibnya, protes dan maksud kita, selamanya itu mereka
bisa ditahan sampai ke Aksi Teratur. Tetapi kalau pemerintah menutup Kawah
Pergerakan, maka api revolusioner itu akan meletus di lain tempat:
"Umpamanya gula akan habis terbakar. jembatan akan runtuh, Lokomotif
terguling dan Belanda terbunuh dimana-mana." Bukan karena kemauan P.K.I,
melainkan kemauan Rakyat yang sudah putus asa, dan lari dari organisasi kita.
Walaupun pemberontakan Indonesia ada mengandung watak kebangsaan,
tetapi, sebab ekonominya Jawa dan sebagian dari Sumatra sudah sangat maju
kapitalistis dan internasional, maka Revolusi kita akan berwatak
nasionalis-sosial, yakni campuran pergerakan kebangsaan dan kekastaan.
Berhubung dengan wataknya Revolusi di Indonesia itu, maka walaupun
Karim-isme atau perang gerilya dan Anarkisme (sebab kapitalisme masih muda)
kelak menjadi "aanvulling" (tambahan - catatan editor) atau tempelan
dari pergerakan revolusioner, tetapi kemerdekaan Indonesia terletak terutama
pada massa aksi yang teratur: "mogok, boikot dan demonstrasi."
Walaupun berapa juga verleidelijk atau menggodanya Karim-isme dan
Anarchisme (lebih-lebih kalau reaksi mengamuk!) kita tidak boleh diprovokasi
dan menyimpang dari jalan yang betul, melainkan tetap mendidik sampai Rakyat
bisa memegang senjata Massa aksi yang maha tajam itu.
3. Taktik di Indonesia.
Dalam daya upaja memecahkan imperialisme Belanda ini tak perlu
kita berpusing kepada memikirkan Sosial Demokrasi, seperti Partai kita di Eropa
dan Amerika. Stokvis c.s di negeri kita tak berani berhubung dengan rakyat,
seperti juga di lain-lain negeri jajahan Kaum Sosial Democrat sama sekali jadi
ekornya imperialisme.
Cuma kita mesti menjaga, supaya di dalam partai kita, semangat
kelembekan Sosial Demokrat tak bisa masuk.
Taktik kita terhadap kepada revolusioner kebangsaan dan agama
ialah menarik mereka kedalam S.R Tiadalah ada salahnya, kalau kita kelak
mengadaan Nasional-Platform, yakni Barisan Revolusioner yang memeluk sekalian
Partai revolusioner besar kecil yang ada sekarang ini dan memimpin Barisan itu
menjatuhkan imperialisme Belanda.
Taktik kita ke dalam negeri, terutama menarik sekalian golongan
yang tiada bersenang hati di bawah Belanda. Kita mesti berusaha keras mengatur
buruh dan tani gula yang banyaknya barangkali lebih dari 1.000.000 itu. Buruh
Kereta yang 80.000, buruh dan tani teh, kopi, coklat, jati, getah yang tentu
tak kurang dari 1.000.000 pula, buruh minyak tanah yang kira-kira 40.000,
tambang arang, emas, timah yang lebih dari 50.000 itu, buruh pelabuhan yang
kira-kira 100.000 dan kuli kontrak yang 300.000 itu. Juga tiada boleh dilupakan
Kaum Student yang di sekalian jajahan jadi pasukan-muka pergerakan. Di Jambi,
Palembang, Padang, Banjarmasin bumi putera yang berada itu, perlu koperasi buat
mempertahankan diri terhadap kepada kapitalis besar. Penduduk kota nomor satu
dan kota nomor dua dan desa-desa harus semua ditarik ke dalam S.R. atau P.K.I.
Disebabkan oleh bermacam-macam hal, maka masih sangat sedikit dari semua
golongan yang di atas terikat oleh organisasi kita. Kita percaya, berapa pun
besarnya reaksi dengan segala kecakapan pada waktu di muka ini kita akan bisa
melipat ganda anggota P.K.I & S.R, Serikat Buruh, JOI d.s.g. Sedangkan
Ternate suatu pulau kecil saja ada kalanya bisa menarik anggota 13.000 dan
berkontribusi beratus rupiah. Kita sama sekali tak akan heran, kalau dijalankan
betul, Jawa, Sumatra, Borneo, Celebes, Ambon dan Bali besok atau lusa akan
memeluk beratus ribu anggota, yang bisa membayar cukup dan tetap.
Kalau kita tidak bisa mengadakan organisasi yang bisa memeluk
sekalian Kasta dan sekalian pulau terberai-berai itu, maka pekerjaan
melemparkan Imperialisme itu adalah satu percobaan yang sangat sia-sia. Belanda
bisa lari dari satu tempat ke tempat yang lain buat berlindung dan mencari
kawan. Jawa akan bisa di adu dengan Sumatra, Menado dan Ambon sama Rakyat Islam
d.s.g. Sebab itu taktik kita yang terpenting sekali ialah mempersatukan semua
pulau dan Kasta dengan Program Minimum, yang dirasa oleh semua penduduk
Indonesia.
Kalau kita bisa mempersatukan seluruh Indonesia dan mengadakan
disiplin yang keras, barulah kita bisa memikirkan merebut kemerdekaan dan
barulah bisa mempertahankan kemerdekaan itu terhadap kepada Inggeris dan
Amerika.
Inggris tentu tak suka Indonesia akan menang. Pusat armada di
Singapura (satu negeri di Indonesia juga), gunanya buat mempertahankan dan
melebarkan jajahan Inggris di Asia. Dalam waktu peperangan, maka Singapura
mudah diperhubungkan dengan Australia, India dan HongKong. Kalau di Indonesia
pecah revolusi, maka perhubungan dengan Australia akan terancam. Inilah hal
yang bisa dijadikan alasan oleh Inggris buat menolong Belanda dan memakai
Volkenbond buat membetulkan politik Inggris. Lagi pula berjuta-juta ada Kapital
Inggris di kebon getah, teh dan terutama di Minyak Tanah, sehingga Koninkelijke
Petroleum Maatschappij itu bolehlah dikatakan perusahaan Inggris. Akhirnya
kemerdekaan Indonesia akan sangat disukai oleh Tanah Malakka dan India dan
dengan lekas akan menggoncangkan seluruh jajahan Inggris, lebih berbahaya dari
segala macam pergerakan revolusioner di Eropa.
Kita tahu bahwa ketika Amerika memikir-mikir mau memberikan
kemerdekaan pada Filipina, yang sudah lama matang buat Zelfbestuur (managemen
swadaya - catatan editor) itu ia dapat tegoran dari Prancis, Inggris, Jepang
dan Belanda. Alasan negeri-negeri imperialis, itu akan menyebabkan semua
jajahan akan lebih keras menuntut kemerdekaannya dan akhirnya kekuasaan bangsa
putih di Asia akan jatuh. Sebab itu terhadap kepada kemerdekaan Indonesia semua
Imperialis mesti akan bersatu.
Walaupun Amerika menamai dirinya demokratis, buat kita tak kurang
bahayanya. Pada tahun yang sudah dia terpaksa membeli getah dari luar negeri
F.1.500.000.000. Harga ini F.1000.000.000 lebih mahal dari 2 tahun terlampau.
Sebabnya ialah karena Inggris yang menguasai 70%. dari semua getah di dunia bisa
dengan sekehendak hatinya menaikan harga itu, sehingga Amerika mesti membayar
berlipat ganda. Supaya ia lepas dari monopoli Inggris, maka Amerika berdamai
dengan Belanda. Boleh jadi pada waktu paling di muka ini berjuta-juta modal
Amerika akan masuk ke Indonesia buat menambah kebun getah.
Jadi ringkasnya Inggris dan Amerika (juga Jepang) semuanya cinta
pada Indonesia dan semuanya mau menduduki. Kalau kita merdeka, tetapi tak cukup
bersatu, maka seperti Tiongkok, kaum perampok itu akan mudah adu-mengadu kita
sama kita. Negeri kita akan cerai-berai, diperintahi atau dipengaruhi oleh
beberapa imperialis. Dengan segera kita yang tiada mempunyai armada ini, kalau
pikiran dan maksud tak satu akan hancur.
Sebaliknya kita tak boleh ngeri, asal mengerti, bahwa diantara
satu imperialis dan yang lainnya, yang semuanya mengancam kita itu ada
pertentangan keperluan. Politik kita kelak haruslah arif bijaksana mengenal
pertentangan itu sewaktu-waktu dan memperdalam pertentangan itu supaya satu
sama lainnya si perampok itu berkelahi dan kita terpelihara.
Kalau saatnya itu kelak sudah sampai, dan kita betul bersatu, maka
nakoda kapal kemerdekaan itu, wajiblah dengan segala keyakinan, keberanian,
ketetapan hati dan kepintaran menentang ribut topan di dalam dan di luar
negeri, serta awas akan batu karang yang tersembunyi yang setiap waktu bisa
menghancurkan kapal kemerdekaan itu.
4. Massa Aksi di Indonesia..
Apabila kira-kira 30 tahun yang lalu Bonifacio mendapat jawab dari
Rizal, bahwa Filipina tak bisa membuat Revolusi, karena tak mempunyai kapal dan
bedil, maka Bonifacio dengan marah berkata: "Bliksem (petus!). Dimana dia
baca?"
Dr. Jose Rizal, ialah seorang intelektual, yang dibuang oleh
Spanyol ke sebuah pulau kecil. Ketika Dr. Rizal akan ditembak, sesudah diadakan
tuduhan yang palsu, maka Bonifacio, yang memimpin Katipunan, yakni satu
perkumpulan rahasia, mengirim wakil dengan rahasia sekali menemui Dr. Rizal,
meminta, apakah ia mau lari dari penjara dan apakah ia mau memimpin Katipunan
dalam revolusi kepada Spanyol. Dr. Rizal menjawab seperti diatas. Mendengar
jawab itu Bonifacio menyindir dengan marah, bahwa tak ada buku sejarah, yang
mengatakan, bahwa bangsa yang miskin dan tertindas itu mesti lebih dahulu
menyiapkan kapal dan bedil buat revolusi.
Bonifacio ialah seorang Proletar tulen. Tetapi sebab sangat rajin
belajar sendiri, ia cukup mengetahui revolusi di Eropa dan Amerika. Oleh sebab
keberanian, kesucian serta ketetapan hati ia mendapat pengaruh dalam rahasia di
seluruh Filipina luar biasa sekali. Sudah lama ia bercerai dari La Liga
Filipina (Persatuan Filipina) yang didirikan oleh Dr. Rizal, karena perkumpulan
ini sudah terang kompromis dan lembek sekali. Tetapi sebab Rizal guru dari
Bonifacio dan tinggal diseganinya sebagai pemikir dan satria yang luar biasa,
ia sudi menyerahkan pimpinan Katipunan yang dibikinnya itu kepada Dr. Rizal.
Apabila akhirnya Dr. Rizal dengan tuduhan palsu ditembak, maka
seluruh rakyat Filipina meratap dan berniat membalas dendam. "Kalau Rizal
seorang yang begitu besar, sehingga sangat disegani oleh Profesor di Eropa,
yang tiada bersalah apa-apa ditembak lagi, siapakah yang bisa bekerja buat
kemerdekaan Filipina?" Inilah pertanyaan yang lahir dalam pikiran Bumi
Putera lelaki dan perempuan.
Sekaranglah datangnya saat buat Bonifacio akan memperlihatkan
kepercayaannya atas massa atau Rakyat Filipina. Di Balintawak dekat dalam
rahasia sekali Bonifacio mengumpulkan anggotanya dan dengan "bolo"
(pedang) sekerat saja mereka menyerang tentara Spanyol yang teratur dan kuat
itu. Beribu-ribu Rakyat mengikut panggilan Katipunan dengan bolo atau tanpa
bolo. Dalam beberapa pertemuan dengan serdadu Spanyol, Rakyat Filipina, yang
tak bersenjata itu merebut dengan tangan saja senapan serdadu Spanyol. Pada
tiap-tiap medan peperangan berpuluh dan beratus senapan direbut, sehingga
akhirnya cukup Rakyat mempunyai senjata api buat melawan Spanyol.
Tiada lama antaranya, maka bendera Rakyat yang karena miskinnya
dibuat dari kain robek-robek saja terkibar di sebagian besar dari kepulauan
Filipina. Hanyalah benteng Manila saja yang belum jatuh.
Banyak lagi contohnya massa aksi, yakni aksi Rakyat, kalau betul
sudah matang revolusioner, baik di Eropa ataupun Asia, walaupun tiada
bersenjata apa-apa bisa menundukan laskar yang teratur.
Umpamanya L'Ouverture, seorang budak Negro di Haiti (Amerika
Tengah), yang memimpin budak miskin pula, bisa menaklukan Inggris, Spanyol dan
serdadu Napoleon berikut-ikut. Di Revolusi Besar Prancis (1789) Rakyat yang
paling miskin dan kurus kelaparan itu, sesudah kena propaganda revolusioner
bertahun-tahun, akhirnya dengan tangan dan batu juga mengalahkan Laskar Raja
dan Bangsawannya. Juga buruh di Rusia, yang miskin itu, baik pada revolusi 1905
ataupun 1917, tiada lebih dahulu memesan "kapal terbang" sebelum ia
menyerang tentara Kaum Hartawan dan bangsawan di Rusia.
Senjatanya Rakyat yang betul revolusioner itu, hanyalah pena,
mulut dan tangan saja. Kalau semangat revolusioner sudah betul menjadi darah
daging Rakyat melarat, maka semua kepandaian dan senjata itu akan timbul
sendirinya. Senapan bisa direbut dengan tangan dan juga seperti di Filipina
tukang rumput bisa jadi jenderal. Inilah kemuliaan Revolusi dan kesucian si
Revolusioner. Kita diatas mengambil contoh terutama dari Filipina, sebab
penduduknya lebih dekat kepada kita dari penduduk negeri
lain.
Orang tak bisa bantah, "O, ya, mereka tinggal di negeri sejuk
sebab itu kuat." Atau "mereka berkulit putih atau berasal ini atau
itu." Rakyat Filipina juga bangsa Melayu dan diamnya juga di Khatulistiwa.
Sebaliknya, walaupun sifat dan asal kita bersamaan, dalam hal
lain-lain Rakyat Filipina lebih dalam kecelakaan dari pada kita.
Ketika mereka memberontak kepada Spanyol dan kemudian kepada
Amerika, serta 3 tahun mendirikan Republik, jumlah jiwa cuma 8 juta. Spanyol
kira kira 25 juta, dan satu imperialisme terbesar di dunia seperti Inggris.
Amerika yang 50.000 terbunuh oleh bolo itu terkaya, dan mempunyai 100.000.000
jiwa. Sedangkan Indonesia sekarang mempunyai 55.000.000 jiwa, dan menentang
Belanda yang cuma 6 1/2 juta saja.
Kita sekarang ada mempunyai perkakas mogok, tetapi Rakyat
Filipina, sebab waktu revolusi industri belum maju, terpaksa langsung
bertanding di medan peperangan, yang menuntut korban 100.000 jiwa mereka.
Kita lebih besar membayar pajak dari Filipina di bawah Spanyol,
yang sekarang lebih besar dari bangsa apapun juga di dunia.
Kita masih bisa dan tetap akan bisa menaburkan benih revolusi,
karena kita cukup mempunyai propagandisten dan surat kabar yang dibantu oleh
kereta dan kapal. Sedangkan di Filipina Rizal yang memimpin La Liga Filipina
yang sejinak B.O itu ditembak, dan propaganda terutama harus dijalankan dari
luar negeri, Banifacio harus menjalankan propagandanya di Filipina dengan
sangat rahasia sekali serta dengan kaki atau sampan kecil saja. Buku-buku dan
surat kabar revolusioner, karangan Rizal, Del Pilar, d.s.g. yang dimasukan dengan
rahasia sekali dari Spanyol, Hong-Kong dan Singapore, dibacakan oleh pasukan
bacaan, yang membacakan pada Rakyat yang tak pandai membaca itu dalam rahasia
sekali, karena pemerintah menghukum dan menyiksa keras si pembaca atau si punya
buku dan surat kabar itu.
Walaupun Rakyat Filipina lebih dalam kecelakaan dari pada kita, ia
toh bisa dan berani menentang Spanyol dan Amerika lamanya 3 tahun dan acap kali
mengalahkan tentara kedua negeri yang sangat teratur itu.
Kita satu menitpun tak ada syak (keraguan) dan waham
(ketidakpercayaan), bahwa kalau Rakyat Indonesia cukup sadar dalam hal politik
(politik bewust) dan sudah tunggang mau merebut haknya baik ekonomi ataupun
politik, juga dengan tangan dan batu saja bisa mengusir Belanda yang dua tiga
biji itu dan menolak semua musuh dari luar negeri.
Disini tiada tempatnya buat membicarakan perkakas kita yang baik
kita pakai, kalau Mogok dan demonstrasi kelak sudah melewati batas perdamaian
dan sampai sendirinya ke tingkat perkelahian senjata. Memang kita di negeri semacam
Indonesia cukup menyimpan senjata, yang segera akan kelihatan, apabila Rakyat
yang 55.000.000 juta itu betul-betul sadar politik dan sama sekali keputusan
jalan damai. Ringkasnya, kalau semuanya Buruh, Tani, Saudagar, Student,
Penduduk kota, Jongos, Shauffeur, Serdadu, Matros, Tukang Cukur, Koki
d.s.g mau merebut kemerdekaan dan rela mengorbankan jiwa seperti Rakyat
Filipina tempo hari, maka kemerdekaan kita letaknya di ujung pena saja:
"Besok Republik Indonesia bisa ditabalkan (diproklamasikan)."
5. Rapat Rakyat Indonesia.
Saat kita buat Massa Aksi itu sewaktu-waktu bisa datang. Krisis
ekonomi dan politik yang sekarang sudah begitu dalam akan bertambah dalam lagi,
kalau umpamanya datang bahaya kelaparan dan bahaya penyakit. Juga sikap
reaksioner dari pemerintah sekarang ini sangat memperdalam permusuhan antara
Belanda dan Rakyat.
Kalau Rakyat sempurna sadar akan haknya sebagai manusia, maka
semua pembuangan dan tutupan yang sewenang-wenang itu kelak segera akan dibalas
oleh Rakyat sendirinya. Kalau umpamanya Pimpinan melarang perbuatan semacam
itu, maka Pimpinan itu sendiri akan dilemparkan oleh Rakyat dan akan diganti
oleh Rakyat sendiri dengan pimpinan baru.
Kalau pemerintah melarang membuat pertemuan, demonstrasi &
mogok, maka ia tiada akan memperdulikan perintah itu lagi, melainkan terus
keluar memperlihatkan tiada senangnya dengan peraturan yang ada.
Kalau pemerintah mengirim Polisi dan Serdadu, maka Rakyat yang
betul betul sadar itu sendirinya akan mendekati Serdadu dan Polisi itu. Kalau
mereka itu tak mau memihak kepada Rakyat, maka Rakyat akan mengadakan
Pasukan-Merah sendiri, mencari senjata sendiri dan bekerja sendiri buat
mempertahankan Mogok, Pertemuan, dan demonstrasi.
Kalau Pemerintah terus memakai "Tangan Besi" dan tiada
menimbang permintaan Rakyat (yang mengisi perutnya hamba-hamba Pemerintah itu),
tetapi Rakyat belum berani melawan berterang-terangan, maka ia akan sendirinya
berjalan gelap-gelap. Seperti di Mesir, India dan Irlandia juga di Indonesia
akan kejadian sabotase, racun-meracun dan bunuh-membunuh dengan rahasia sekali.
Semangat revolusi itu, kalau sudah menjadi darah daging Rakyat
melarat tiadalah bisa dibunuh dengan hukum atau peluru lagi. Kalau semangat
revolusi itu sudah masuk di semua kasta dan sekalian pulau, maka datanglah
saatnya buat memanggil Rapat Rakyat Indonesia.
Proletar, Tani, Student, Saudagar dan Serdadu haruslah dengan atau
tanpa izin Pemerintah, memilih dan mengirimkan Wakil ke suatu tempat di
Indonesia buat Rapat atau Pertemuan.
Rapat Rakyat ini akan membuat Hukum untuk Rakyat Indonesia, dan
kalau pemerintah Belanda tak suka menjalankan atau mengaku hukum itu dan tak
suka pergi (sudah tentu is tak suka!!), maka Rapat Rakyat itu mesti sendirinya
menjalankan. Kalau Pemerintah mengirim laskarnya, maka Rakyat mesti sudah bisa
menjawab kiriman pemerintah itu dengan sepatutnya (baik dengan propaganda dalam
laskar itu sendiri, baikpun dengan Tentara Merah).
Memanggil Rapat Rakyat itu artinya mengirim ultimatum atau
menentang Pemerintah sekarang, yang kita sudah yakin tak bisa mengurus terus
ekonomi dan politik negeri dan tak disukai lagi oleh Rakyat. Panggilan kita itu
haruslah dikeraskan oleh kemauan dan perbuatan Rakyat, yang sudah terbukti pada
Mogok Umum dan demonstrasi, yang tak memperdulikan korban lagi dan dimana seluruh
Rakyat melarat memperlihatkan ketetapan hati dan kegiatan. Dalam hal ini Rapat
Rakyat itu, seolah-olah mahkotanya aksi kita dalam politik.
Tentulah Rapat Rakyat itu baru bisa dipanggil kalau sudah lahir
alamat dan tanda-tanda, bahwa Rakyat melarat sudah matang revolusioner::
"Umpamanya kalau mogok, pertemuan dan demonstrasi, walaupun
dilarang bisa diteruskan (tentulah kalau pimpinan merasa perlu...). Kalau
tuntutan ekonomi dan politik dalam mogok dan demonstrasi sudah kelihatan terasa
dan termakan betul oleh seluruh Rakyat. Misalnya buruh tetap menuntut tambah
gaji, sebagian dari untung, merdeka bergerak, dan disana sini sudah mendirikan
dewan buruh atau rapat buruh buat menguruskan hasil serta sudah merebut pabrik
atau kebun terutama di SOLO-VALLEY, atau Daerah Kali Solo, yakni pusatnya
ekonomi Indonesia. Kalau berhari dan berbulan (seperti di Mesir, India,
Tiongkok, Jerman dan Rusia) Rakyat Indonesia berdemonstrasi menuntut di
hapuskan pajak, menuntut Algemeen Kiesrech (hak umum untuk memilih - catatan
editor), Rapat-Rakyat, Kemerdekaan dan tuntutan politik dll. Kalau Rakyat yang
55 juta itu, lebih suka mati dari pada hidup seperti budak dan ketawa melihat
kuda dan karet polisi. Kalau bui dibongkar dan pemimpin dikeluarkan. Kalau
buruh kereta dan kapal mungkir membawa pemimpinnya ke tempat buangan. Kalau
kaum serdadu mungkir menindas pergerakan dan mungkir menembak Rakyat yang tak
bersenjata dan tak bersalah itu. Kalau Belanda tidur dengan pistol di
tangannya, dan tak berani makan, kalau makanannya tidak diperiksa oleh dokter
lebih dahulu..."
Inilah semuanya tanda dan alamat, bahwa semangat revolusi itu
sudah berurat dalam dan menjalar kemana-mana, serta tiada bisa diobat lagi,
kecuali dengan kemerdekaan.
Barulah datang saatnya buat pimpinan revolusioner itu menimbang
kekuatan kawan dan lawan, mengumpulkan Tentara Nasional dan mengerahkan tentara
itu terhadap kepada musuh di dalam dan di luar negeri.
Sebelumnya saat buat bertanding habis-habisan itu datang, maka
pekerjaan kita yang terutama terus: "Pertama Agitasi, kedua Agitasi dan
ketiga Agitasi."
Kalau Bonifacio, seorang proletar tulen, dengan jiwa selalu
terancam dan dimana perkakas buat propaganda dan agitasi belum secukup di
Indonesia bisa mengadakan Nasional Organisasi pada beratus-ratus kepulauan
Filipina, maka kita di Indonesia Selatan dengan jiwa 55 juta dan perkakas lahir
batin lebih dari cukup, tak boleh lekas putus asa dan tak boleh lekas
menyimpang dari jalan yang betul.
Kita, sebagai Kaum Marxis, mesti tinggal bersandar pada keperluan,
kemauan dan kekuatan massa, yakni Rakyat melarat dan kalau mereka belum
masak-revolusioner dan belum siap menentang musuh dalam dan luar negeri yang
sangat teratur itu, maka kita tak boleh diprovokasi oleh musuh, yakni tertipu
bertarung pada tempat dan saat yang tidak kita kehendaki.
Semua pemberontakan Indonesia, kalau Rakyat belum matang
revolusioner akan sia-sia belaka. Semua macam "putch" (pemberontakan
tiba-tiba dari satu golongan kecil) harus kita singkiri dan musuhi. Kalau
pemberontakan semacam itu sekiranya menang, maka Indonesia merdeka itu akan
segera jatuh di tangan seorang militer. Dalam hal ini tiadalah politik dan
rakyat yang berkuasa melainkan tangan besi seorang Militer. Hal ini terjadi di
Tiongkok pada tahun 1911, dimana kekuasaan politik segera lepas dari Dr. Sun
Yat Sen dan jatuh di tangan Yuan Shi Kai & Co.
Aksi ekonomi dan politik yang menempuh Rapat Rakyat itulah buat
kita jalan yang tentu dan sentosa buat merebut kemerdekaan, menjatuhkan segala
kekuasaan negeri pada Kaum politik, dan menghindarkan diktaturnya dan tindasan
Kaum Militer dari bangsa Indonesia sendiri.
6. Revolusioner Komunis.
Pada suatu negeri yang banyak mengandung sisa feodalisme, serta
bibit kapitalisme, seperti Indonesia, sangatlah susah sekali buat menjadi
komunis. Sisa feodalisme membawa agama dan politik, yang walaupun bisa
revolusioner (seperti Dipo Negoro) tetapi sifatnya feodalistis. Demikianlah B.O
& N.I.P yang percaya, bahwa Kerajaan cara Majapahit bisa dibangunkan lagi atau
S.I yang dulunya percaya, bahwa Kerajaan Islam dan Kalifatullah yakni peraturan
feodalisme akan bisa dibangunkan lagi.
Kapitalisme jajahan yang masih muda di negeri kita itu, mengandung
bermacam-macam bibit pula. Ada yang bersifat kapitalistis, seperti juga terbawa
oleh 3 partai yang tersebut diatas tadi, yang menghendaki modal Indonesia.
Buruhnya yang masih muda itu ada pula mengandung anarkisme, yakni paham borjuis
kecil yang dikalahkan oleh Modal-Besar. Demikianlah Anarkis di Eropa, yang
hidup pada zaman yang lalu seperti Waffling, Proudon, Bakunin d.s.g mewakili
kasta borjuis kecil atau kasta buruh yang kemarinnya borjuis kecil. Sebab
borjuis kecil itu individualis (berdiri sendiri), karena ia si berpunya kecil,
maka perkakasnya bertarung juga individualistis (memakai bom) dan tak tahu
bersama-sama.
Tetapi buruh industri model baru, yang selalu kerja bersama-sama
dan berdisiplin (karena kapitalisme memaksa begitu), membawa wataknya bersama
itu menentang kapitalisme. Sebab itulah pada buruh industri, dan cuma pada
buruh industri saja terbawa "kerja bersama" dan "bertarung
bersama" dan dengan didikan lekas bisa hilang individualisme. Makin maju
kapitalisme makin hilang anakisme (seperti Inggris dan Jerman) dan makin maju
"kerja bersama" dan "aksi Bersama."
Jadi revolusioner agama, feodalistis, revolusioner hartawan dan
anarkistis cuma perkara yang lalu, yang besok kalau industri maju, akan hilang
seperti abu ditiup angin, dan berganti dengan revolusioner komunis.
Dasarnya revolusioner komunis, tiadalah perasaan, seperti pada
revolusioner yang lain-lain tadi, melainkan pengetahuan. Adanya revolusi kita
percaya, karena perbantahan kasta. Di Indonesia karena kasta modal Belanda tak
bisa kompromi dengan Rakyat Indonesia. Datangnya revolusi tidak tiba-tiba jatuh
dari langit, melainkan kalau Krisis ekonomi dan politik sudah cukup dalam dan
Rakyat sudah cukup sadar. Revolusi itu bisa berhasil, kalau banyak dan kualitas
anggota, dan pengaruhnya partai kita sudah mencukupi.
Kalau keadaan ekonomi dan politik sudah cukup matang-revolusioner,
tetapi Rakyat dan Partai kita belum siap, maka kita komunis mesti bisa menahan
perasaan kita sebagai individu, menyingkiri segala percobaan avonturisme atau
sia-sia dan menunggu bertarung sampai Rakyat dan Partai kita siap. Tiadalah
sekejap kita boleh ditarik perasaan, melainkan tetap berdiri atas pengetahuan.
Tentu kita menjunjung tinggi keberanian Partai kita, kalau disana atau sini
didorong oleh musuh.
Imperialis putih ialah, politik Amerika semacam itu akan atau
Bangsawan yang berarti banyaknya dan kekayaannya tetapi tidak seperti individu,
melainkan bersama dengan Massa dan buat Rakyat Melarat itu pula. Aksi dan
keberanian individual buat kita sangat sedikit harganya.
Kalau keadaan ekonomi & politik umpamanya sementara berubah baik,
dan Rakyat jadi sementara lembek, maka kita tak boleh jadi refomis, seperti
Sosial Demokrat atau jadi mata gelap seperti anarkis, melainkan tetap
meneruskan Aksi revolusioner yang sepadan dengan keadaan. Kita tahu, bahwa
Kapitalisme tak bisa mengatur negeri dan besoknya krisis mesti datang lagi.
Strategi kita tiadalah bersandar atas perasaan, seperti kebangsaan
atau keberanian sebagai individu (melemparkan bom), melainkan bersandar pada
pengetahuan tentangan ekonomi & politik Negeri dan pengetahuan yang dalam
sekali atas psikologi atau tabiat Rakyat kita, tabiat mana turun naik sepadan
dengan keadaan ekonomi. Bagaimana keadaan industri, pertanian dan perniagaan
serta sikapnya imperialisme Belanda haruslah kita ketahui betul, karena keadaan
inilah yang menurun naikkan semangat revolusionernya seluruh Rakyat melarat.
Kalau krisis dalam, rakyat melarat matang revolusioner. Partai
kita sempurna mempunyai kekuatan, disiplin dan pengaruh, serta musuh di dalam
dan di luar negeri kebingungan, maka barulah General Staff kita mengumpulkan
segala kekuatan yang ada dan mengorbankan tenaga dan jiwa buat kemerdekaan
sebagai bangsa dan sebagai kasta..
Hai Rakyat Melarat !!
Berapa lamakah lagi kamu mau menderita injakan dan tindasan
semacam ini? Tiadakah kamu tahu bahwa sangat besar kekuatan mu yang
tersembunyi? Tiadakah kamu insaf, bahwa kerukunanmu artinya kemerdekaan buat
kamu dan keturunanmu? Beranikah kamu terus hidup dalam perbudakan dan
menyarankan anak cucumu juga jadi budak ?
Hai Kawan-Kawan Separtai !!
Ketahuilah, bahwa Rakyat kita, yang beribu tahun diajar jongkok,
yang belum pernah mempunyai hak sebagai manusia itu tak mudah dididik.
Janganlah kamu putus asa, kalau daya upayamu tidak lekas memperlihatkan hasil
yang nyata. Teruskan pekerjaanmu yang maha-mulia itu, di tengah-tengah ratap
tangis Rakyat melarat. Teruskan pekerjaanmu, walaupun bui, buangan, tonggak
gantungan selalu mengancam. Ketahuilah, bahwa didikan itulah yang sangat
ditakuti oleh musuh kita. Karena tak ada bangsa atau kasta yang mengerti di dunia
ini yang rela ditindas dan dihisap...
Kawan-Kawan !!!
Janganlah segan belajar dan membaca! Pengetahuan itulah
perkakasnya Kaum Hartawan menindas kamu. Dengan pengetahuan itulah kelak kamu
bisa merebut hakmu dan hak Rakyat. Tuntutlah pelajaran dan asahlah otakmu
dimana juga, dalam pekerjaanmu, dalam bui ataupun buangan! Janganlah kamu
sangka, bahwa kamu sudah cukup pandai dan takabur mengira sudah kelebihan
kepandaian buat memimpin dan menyelamatkan 55 juta manusia, yang beribu-ribu
tahun terhimpit itu. Insaflah bahwa pengetahuan itu kekuasaan. Ada kalanya
kelak dari kamu, Rakyat melarat itu akan menuntut segala macam pengetahuan,
seperti dari satu perigi yang tak boleh kering. Bersiaplah !!
Kalau saatnya datang, berdirilah tegak di tengah-tengah Rakyat, menentang
peluru dan bayonetnya musuh. Jangan dilupakan ideal kita komunis: "Menang
atau mati dalam Massa Aksi."
Di tanganmu tergenggam Kemerdekaan-Indonesia, yakni Kekapaan,
Keselamatan, Kepandaian dan Peradaban...
Kamu Kaum Revolusioner !!
Kelak Rakyat keturunanmu dan Angin Kemerdekaan akan berbisik-bisik
dengan bunga-bungaan di atas kuburanmu: "Disini bersemayam Semangat
Revolusioner"
Tokyo, Januari 1926.
