Riwayat perjuangan Tan Malaka memiliki ciri Khusus tersendiri dan
bagi masyarakat Internasional memiki warna tersendiri, mandiri, tegas dan gagah
berani dan tidak ikut-ikutan jadi Beo jadi Klise atau trompet yang sedang
berkuasa. Tan Malaka ia tidak sama dengan tokoh lain, lebih memilih untuk
berunding ketimbang melakukan gerakan seperatis untuk mempercepat proses
Revolusi maka ia mengatakan kepada PKI jangan kita melakukan revolusi, ia akan
muncul dengan sendirinya, kita belum matang, tapi akhirnya Tan malaka di buang.
Tan Malaka mendukung Pan Islame (perjuangn melawan
imprealisme-kolonialisme namun ini tidak mendapat tangapan dan respon yang baik
dari masyarakat Indonesia, dan malahan yang terjadi adalah; sikapnya menentang
Stalin dan inilah yang ia di tuduh Tan Malaka penganut Troskyisme dan Pki
ikut-ikutan megeroyok dan memusuhi Tan Malaka dengan cara melakukan
pemberontakan pada Tahun 1926.
Catatan dan tangapan pokok pokok pemikiran Tan Malaka ( 2jun
–hilang 19 Februari 1949) ini diangkat dari karya-karyanya tulisan pidato
almarhum berdasarkan objetifitas terhadap karya-karya tersebut. “setiap
karyanya di tujukan untuk kepentingan sewaktu perjuangan Indonesia dengan
pandangan yang jauh mengarah kedepan”.
Di bidang filsafat karya Tan malaka adalah buku Madilog pada tahun
1942 dan pandangan hidup pada tahun 1948. Dari kedua tulisan tersebut Tan
Malaka seorang ahli dalam bidang pengetahuan, Tan malaka sependapat dengan
Engels bahwa kaum filsafat pada umumnya terbagi pada dua blok yang bertentangan
kaum idealis dan kaum materialisme.
Kemudian memandang kepada filosofi idealis yang terbesar yaitu
Hegel, Tan Malaka bahwa Hegel pun tidak selalu melayang pemikiranya di dunia
pemikiran saja (etopia), materialisme Marx berpangkalan kepada kebendaan.
Demikian dengan Tan Malaka pernah menyatakan dirinya diantara dua blok tersebut
dan cendrung untuk memutuskan ilmu pengetahuan yang terilhami oleh sebuah dialetika sebagai
cara berfikir dan dialetika (tesis, anti tesis, sintesis) sebagai hukum gerak,
gagasan Malaka tentang Medilog sebagai alat untuk menghalangi dan memerangi
mistik timur yang sangat mengahambat kemajuan kebudayaan.
alam brosur politiknya (1945) Tan Malaka mengemukakan pendapatnya
tentang kemerdekaan, hakikit dari kemerdekaan adalah kedaulatan yang mnegandung
makna yang luas dan kemakmuran. Kemerdekaan menurut Tan Malaka yang di
uraikanya bahwa kemerdekaan bukanlah kemauan tunggal akan tetapi kemauan
terikat.
Pandangan Tan Malaka tentang revolusi, timbulnya sebuah revolusi
pada umumnya menurut Tan Malaka adalah pada suatu krisis,ekonomi yang berubah
sedikit demi sedikit bergeser menjadi sebuah konflik. Pemikiran Tan Malaka
tentang revolusi akan terjadi dengan sendiri sebagai hasil dari berbagai
keadilan, tumbuh secara alami tidak di paksa.
Pemikiran politik Tan Malaka
Lahir dan berasal dari Sumatera Barat (Minang Kabau)
tepatnya di Payakumbuh Tak banyak orang mengenal secara dekat ataupun bertatap
muka secara pirbadi dengan Tan Malaka. Namanya tidak bisa di pungkiri
keberadaanya dari arena percaturan politik Indonesia terutama pada masa
kolonial belanda, masa revolusi dan sesudahnya pada tahun 1949 di mana tahun
ini tepatnya pada tanggal 19 Februari ia gugur saat mengahadapi perang
kemerdekaan yang keduanya. Sumbangan terhadap kemerdekaan sama dengan tokoh
pergerakan rakyat Filipina terkenal yaitu Yose rizal.
Dalam sejarah perjuangan selama 28 Tahun, hanya 2 Tahun mempunyai
kesempatan untuk berjuang secara terang-terangan di tengah bangsanya, masa dua
tahun berjuang itu pun tidak penuh tertutup ketika ia di tangkap dan di
masukkan kedalam penjara, 23 Februari. Dan setelah ia keluar kemudian di
tangkap lagi pada masa Kabinet Syahrir II karena di tuduh melakukan oposisi
menolak diplomasi dengan agresor Belanda.
Tuduhan itu tidak sampai disana kemudian Tan Malaka dikatakan
telah menculik PM Syahrir pada tangal 3 Juli 1946 di penjara lagi seperti
itulah kehidupan Tan Malaka hidup dari penjara ke penjara. Menurut pendapat
Benidic Anderson pendapat tersebut tidak beralasan, para pemimpin Republik
Indonesia tahu betul bahwa Tan Malaka tidak bersalah, barangkali kerena itu ia
tidak berani mengahadapkan kesidang pengadilan tapi karena alasan kepentingan
nasional maka di perlukan seorang kambing hitam yang tidak berdaya dan Tan
Malaka paling cocok untuk peran ini.
Akhirnya pengadilan Negeri Solo melalui kepala pengadilanya Mr.
Suripto mengeluarkan Surat keputusan No.643. 15 September 1948 yang
mengatakan bahwa Tan Malaka tidak bersalah dan kemudian atas keputusan Presiden
R.I. No.53. tanggal 23 maret 1963. Tan Malaka di angkat sebagai pahlawan
kemerdekaan nasional karena di nilai berjasa dalam prjuangan kemerdekaan
Indonesia .
Sejarah telah memaafkan kita dengan memberi kehormatan
kepada Bapak Republik Indonesia dan pahlawan kemerdekaan Nasional kepadanya.
Tetapi gelar sebagai pahlawan nasional hanya sepintas gelar tinggal diatas
kertas saja dan di simpan di tempat laci. Namnaya di sembunyikan oleh
kebanyakan rakyat Indonesia dan tidak mau mengambil gagasan Tan Malaka
bagaimana ia memperjuangkan Rakyat miskin, dan tidak mau kompromi dengan
penghisapan dan penjajahan kaum kapitalis, dan namanya Tan Malaka banyak yang
disembunyikan kepada anak didik dan generasi muda, sudah saatnya kita jujur
menerima dan mengakuinya atas diri kita sebagai bangsa.
Critical Revieu.
Setelah membaca buku apa, siapa dan bagaimanaTan Malaka? di mana
letak tertariknya kita tentang buku penulis adalah sebelum membaca gagasan Tan
Malaka kita menyangka Tan malaka seorang Komonis tulen dan terbukti
bayak orang membencinya dan banyak pula orang yang mencintainya, setelah
membaca buku tersebut apa yang kita duga tidak demikian. Ternyata Tan Malaka
bukan seorang komonis seperti yang di bicarakan orang .
Apa yang di tulis dan bahasa yang di gunakan oleh DP
Asral, S.H sangat sederhana sehinga akan sangat mudah kita memahaminya dan
sekali lagi bahasa yang di gunakan penulis tidak terlau berat dan ilmiah.
Artinya adalah, kebanyakan karya buku para Proffesor terlalu ilmiah
konsekuensinya kita agak berputar tujuh keliling untuk memahami bahasa yang di
tulisnya dan biasanya penulis buku kurang memperhatikan subjeknya (pembacanya).
Bagi mahasiswa, Guru, Dosen, pelajar, bagi peminat sejarah dan
masyarakat luas, buku ini kita yakin sangat bermanfaat sebagai bahan pelajaran
untuk masa depan agar tidak terulang sisi gelap sejarah Indonesia, dan
ini persembahkan oleh DP Asral kepada masyarakat Sumatera Barat
adalah karena Tan malaka adalah tokoh Nasional yang banyak di tinggalkan
pemikiranya oleh orang Minang Kabau.
