Tan Malaka merupakan salah satu
pahlawan dan tokoh, yang telah mengisi perjuangan Indonesia merebut penjajahan
dari kolonialisme. Tan Malaka merupakan salah satu Bapak Republik Indonesia yang terlupakan oleh generasi
muda Indonesia. Ia (Tan Malaka) orang pertama yang menulis tentang konsep atas
cita-citanya membentuk Republik Indonesia, Muhammad Yamin menjulukinya
“Bapak Republik Indonesia”, sementara Soekarno menyebutnya sebagai “seorang
yang mahir dalam revolusi”. Tapi hidupnya berakhir tragis di ujung senapan
tentara Republik Indonesia. Mungkin dua – tiga generasi melupakan sosok sejarah
perjuangannya selama ini, tokoh perjuangan ini kembali terkuak ketika reformasi
1998 pecah menjatuhkan Soeharto dari tampuk kekuasaan selama 32 tahun. Karenamainstream pemikiran dan ideologinya adalah seorang Marxisme, tokoh
perjuangan ini sengaja dihilangkan oleh penguasa Orde Baru, agar tidak
menimbulkan semangat baru revolusi politik menentang sistem politik status quo Orde Baru.
Dengan nama asli Ibrahim Datuk
Tan Malaka lahir 2 Juni 1897 tokoh Minangkabau Sumatra Barat, merupakan
keturunan keluarga berada dan muslim taat. Namun perjalanan hidup dan karirnya
berkata lain bukan menjadi seorang ulama. Mengenyam pendidikan di tingkat lokal
yang baik karena ayahnya seorang pejabat, Tan meneruskan pendidikan sekolah
guru di Haarlem Belanda, Rijkweekschool pada 1913. Pendidikan di Negeri Kincir
Angin ini tidak terlepas dari campur tangan G.H.Horensma seorang guru asal
Belanda yang pernah mengajari music cello di sekolah tingkat pertama di
Indonesia.
Namun pendidikan sekolah guru
di Belanda bukan hanya menjadikannya sebagai calon guru bagi rakyat Indonesia,
namun telah menguatkan tekad dan cita-citanya untuk melakukan revolusi di Tanah
Air oleh penjajah kolonialis. Tekadnya ini didukung pula oleh diskusi politik
dengan mahasiswa lainnya dari negara lain yang mengikuti perkembangan politik
dunia yang memasuki perang dunia. Sehingga perang yang terus berkecamuk telah
mempengaruhi pemikirannya, selain sering membaca koran atau buku dari aliran
“kiri” dia rajin mencari informasi politik. Buku yang sering dibacanya adalah
karangan filsuf Jerman Friedrich Nietzche (Will to Power) dan penulis esai The French Revolution karya Thomas Carlyle dari Skotlandia. Dari buku ini Tan mengenal
semboyan Liberte, egalite, fraternite(kemerdekaan, persamaan, persaudaraan).
Revolusi komunis yang di Rusia
pada Oktober 1917, semakin memberi keyakinan pada Tan bahwa politik dunia
sedang beralih ke sosialisme, selain itu berbagai gagasan baru tentang
bagaimana bangsa Indonesia dibangun dan bangkit menuju kemerdekaan,
berseliweran dalam pemikiran dan benak Tan apa yang tepat fondasi bagi
Indonesia.
Sebagai pelajar dari bangsa
yang terjajah, Tan Malaka akhirnya merasa sudah saatnya ada revolusi di
Indonesia agar terlepas dari kolonialisme, dan mulai membangun sistem
sosialisme. Setelah gagal mendapatkan kelulusan dan izin mengajar namun
mendapat banyak pelajaran penting tentang politik selama enam tahun, Tan Malaka
memutuskan untuk kembali ke Tanah Air pada 1919. Tan memang kembali ingin
merealisasikan cita-citanya untuk berjuang bagi bangsa Indonesia, karena
cita-cita ini pulalah Tan Malaka kembali ke Belanda, namun bukan sebagai
pelajar, melainkan sebagai buangan politik karena dianggap radikal.
Terpesonanya pada paham Marxisme-Leninisme, menyebabkan dia berkali-kali
dipenjara dan dibuang dari negara yang disinggahinya. Ini berarti bukan penjara
dan pembuangan itu yang menjadikan dia seorang Marxis, melainkan sikap dan
pendiriannya yang Marxis-lah yang menyebabkan dia dipenjara dan dibuang. Tapi
pertama-tama tidak berjuang untuk kemenangan partai komunis di dunia, tapi
untuk kemerdekaan Tanah Airnya.
Tan Malaka menulis dalam
kalimat Massa Actie yang terbit pada 1926,“Revolusi
bukanlah suatu pendapatan otak yang luar biasa, bukan hasil persediaan yang
jempolan, dan bukan lahir atas perintah seorang manusia yang luar biasa” .
“Revolusi timbul dengan sendirinya sebagai hasil dari berbagai keadaan” .
ITULAH REVOLUSI AGUSTUS 45
Setelah 1945, Bung Karno ingin
menegaskan bahwa Revolusi Agustus belum selesai, mengutarakan sebuah rumus. Ia
sebut “Re-So-Pim” (Revolusi, Sosialisme, Pimpinan. Bagi Soekarni, revolusi Indonesia mesti punya arah, punya “teori”,
yakni sosialisme, dan arah itu ditentukan oleh pimpinan, yakni Pimpinan Besar
Revolusi. Tan Malaka tak memiliki rumus itu,tapi ia tetap seorang
Marxis-Leninis yang yakin akan perlunya “Satu partai yang revolusioner”. Yang
bila berhubungan dengan baik dengan rakyat banyak akan punya peran “pimpinan”.
Bahwa ia percaya kepada revolusi yang “timbul dengan sendirinya”, hasil dari
“berbagai keadaan”, menunjukkan bagaimana ia, seperti hampir tiap Marxis-Leninis,
berada di antara dua sisi dialektika, di satu sisi, perlunya “teori” atau
“kesadaran” tentang revolusi sosialis, di sisi lain, perlunya (dalam kata-kata
Tan Malaka) “pengupasan yang cocok betul atas masyarakat Indonesia”.
Tan Malaka bertemu dengan
Syahrir salah satu pejuang lainnya yang berpengaruh. Pertemuan ini beberapa
pekan setelah 17 Agustus 1945 di Serang Banten. Pertemuan itu mungin yang
pertama kalinya tokoh kiri radikal dengan tokoh sosial demokrat. Secara
ideologis berseberangan seperti halnya tiap Marxis-Leninis, Tan Malaka
menganggap seorang sosial demokrat sejenis Yudas Escairot (pengkhianat yang
memberitahu keberadaan Nabi Isa kepada tentara Romawi). Sjahrir berkata untuk
menantang Tan Malaka, jika ia mampu menunjukkan pengaruhnya sebesar 5 persen
saja dari Soekarno dari kalangan rakyat, maka Sjahrir ingin bersekutu. Ada
sikap Sjahrir meremehkan Tan Malaka, agar Tan Malaka segera melakukan keliling
Jawa untuk melihat keadaan sebelum mengambil sikap untuk melakukan revolusi dan
kudeta. Pertemuan itu antara Sjahrir dan Tan Malaka dalam Jurnal Indonesia
April 1922 dari A.B Lubis, pertemuan itu lebih berupa perselisihan sang
“Radikal” yang tak cocok dengan sang “Pragmatis”.
Sisi lain Tan Malaka adalah
mengkritik terhadap Bung Karno, namun tidak ada sangkutpautnya dengan sikap
Soekarno mengkritik “Madilog”, tapi kritik wajar terhadap orang yang
dihormatinya. Tan Malaka lebih kecewa dengan sikap politik Soekarno, yang lebih
memilih kolaborasi dengan Jepang selama pendudukan di Indonesia. Akan tetapi
Tan Malaka amat menghormati Soekarno yang selama memimpin PNI, selalu mengajak
rakyat Hindia Belanda untuk berjuang mencapai Indonesia merdeka dengan
menggunakan tiga pegangan, yakni sosio-nasionalisme, sosio-demokrasi, dan aksi
massa yang tidak kenal kompromi. Dia memberikan
apresiasi tinggi bahwa Soekarno sudah sangat menderita sebagai orang buangan ke
pengasingan karena gagasan-gagasan politiknya. Dan kekecewaan terhadap Soekarno
yang berkolaborasi dengan Jepang, sedikit terobati ketika Soekarno dan Mohammad
Hatta dengan atas desakan pemuda revolusioner, membuat proklamasi kemerdekaan
Indonesia pada 17 Agustus 1945.
Tan Malaka tampaknya hendak
menjalankan tesis Trotsky tentang “revolusi terus menerus”. Bagi Trotsky, di
sebuah negara seperti Rusia dan Indonesia yang tak punya kelas borjuasi yang
kuat, revolusi sosialis harus berlangsung tanpa jeda alias terus menerus.
Trotsky tidak setuju dengan teori bahwa dalam masyarakat seperti Rusia dan
Indonesia revolusi berlangsung dengan dua tahap : pertama, tahap “borjuis “ dan
“demokratis”. Kedua,baru setelah itu, “tahap sosialis”. Bagi Trotsky di negeri yang
“setengah feodal” dan “setengah kolonial”, kaum borjuis terlampau lemah untuk
menyelesaikan agenda revolusi tahap pertama : membangun demokrasi, mereformasi
pemilikan tanah, dan menciptakan pertumbuhan ekonomi. Maka kaum proletar yang
harus melaksanakan revolusi itu, begitu tercapai tujuannya, kelas buruh
melanjutkan revolusi tahap kedua, “tahap sosialis”.
Tentu pandangan ini yang
terlampau radikal bahkan bagi Rusia pada tahun 1920-an, di suatu masa ketika
Lenin terpaksa harus melonggarkan kendali negara atas kegiatan ekonomi, dan
kelas borjuis muncul bersama pertumbuhan yang lebih pesat. Di Indonesia agenda
Trotsky bisa seperti segaris dengan gairah 1945. Dilihat dari sini, niat Tan
Malaka tak salah. Ia yang melihat dirinya wakil proletariat, harus menggantikan
Sukarno, wakil kelas borjuis yang lemah.
Namun Sjahrir “sang pragmatis”
juga ada benarnya, pengaruh Tan Malaka di kalangan rakyat tidak sebanding
dengan pengaruh Bung Karno. Dunia memang alot, disini “pragmatisme” Sjahrir
(yang juga seorang Marxis), sebenarnya tak jauh dari tesis Tan Malaka sendiri.
Namun Sjahrir memiliki pandangan mengenai Marxisme, tidak perlu melalui jalan
radikal seperti keinginan Tan Malaka, tapi harus melakukan negoisasi atau
berunding (“soft politics”) terhadap penjajah. Namun inipun menjadikan
Sjahrir tersingkir sebagi perdana menteri karena dianggap melakukan
rekonsiliasi ketika melakukan perjanjian Linggarjati. Tesis Madilog
(Materialisme, Dialektik, dan Logika) yang ditulis Tan Malaka ini : revolusi
lahir karena “berbagai keadaan”, bukan karena adanya pemimpin dengan “otak yang
luar biasa”.
Ketiga soal dalam Madilog,
Materialisme diperkenalkannya sebagai paham tentang materi sebagai dasar
terakhir alam semesta. Logika dibutuhkan untuk menetapkan sifat-sifat materi
berdasarkan prinsip identitas atau prinsip nonkontradiksi. Prinsip logika berbunyi
“A” tidak mungin sama dengan yang bukan “A”. Sebaliknya, dialektika
menunjukkan peralihan dari satu identitas ke identitas lain. Air adalah
air dan bukan uap. Tapi dialektika menunjukkan perubahan air menjadi uap
setelah dipanaskan hingga 100 derajat celcius.
Madilog adalah penerapan filsafat Marxisme-Leninisme. Tesis utama filsafat
ini berbunyi: bukan ide yang menentukan
keadaan masyarakat dan kedudukan seseorang dalam masyarakat, melainkan
sebaliknya, keadaan masyarakatlah yang menentukan ide. Kalau kita mengamati hidup dan perjuangan Tan Malaka, jelas sekali
bahwa sedari awal dia hidup untuk merevolusionerkan kaum Murba, agar menjadi
kekuatan massa dalam merebut kemerdekaan politik. Dia bergabung dengan
Komintern di Moskow dan Kanton karena setuju dengan tesis Komintern bahwa
partai komunis di negara-negara jajahan harus mendukung gerakan nasionalis
untuk menentang imperialisme.
Tapi seberapa bebaskah pengaruh
“kesadaran revolusioner” itu dari wacana yang dibangun partai itu sendiri ?
Bisa kuat dan bangkitkah Partai Komunis hingga bisa jadi subjek yang tanpa cela
seperti bak pahlawan. Ternyata, sejarah Indonesia menunjukkan PKI juga
memiliki batas. Partai ini harus mengakui kenyataan bahwa ia hidup di tengah
“lautan borjuis kecil”. Agar revolusi menang, ia harus bekerja sama dengan
partai yang mewakili “borjuis kecil” itu. Ia tidak akan berangan-angan seperti
Tan Malaka yang hendak merebut kepemimpinan Soekarno. Di bawah Dipa Nusantara
Aidit (DN. Aidit), PKI bahkan akhirnya meletakkan diri di bawah wibawa presiden
pertama RI tersebut.
Pada rencana kudeta pertama
oleh Muso (1926) dan kedua (1965) pun gagal, terbukti strategi ini gagal. PKI
begitu besar tapi kehilangan kemandirian dan militansinya. Ia tak melawan pada
saat menentukan, tatkala militer dan partai “borjuis kecil” yang selama ini
jadi sekutunya menghantamnya. PKI terbawa patuh mengikuti jalan Bung Karno,
sang Pemimpin Besar Revolusi, yang mementingkan persatuan nasional.
Namun harus diketahui, ketika
Muso dan PKI berupaya melakukan revolusi dan kudeta berdarah pertama kali di
Indonesia melawan pemerintah Belanda ketika itu, Tan Malaka sudah mewanti-wanti
untuk tidak melakukan pemberontakan. Ditambah lagi keinginan Tan Malaka untuk
mendukung Pan Islamisme (perjuangan melawan imprealisme-kolonialisme, antara
kaum komintern bergabung dengan kaum muslim (Islam) dunia). Namun ini tidak
mendapat tangapan dan respon yang baik dari masyarakat Indonesia, dan malahan
yang terjadi adalah; sikapnya menentang Stalin dan inilah yang ia di tuduh Tan
Malaka penganut Troskyisme, dan PKI ikut-ikutan megeroyok dan memusuhi Tan
Malaka dengan cara melakukan pemberontakan pada Tahun 1926. Masukannya itu
dianggap PKI sebagai biang penyebab kekalahan pemberontakan. Dia dimusuhi dan
dicap pengkhianta komunis di Indonesia, atau “Trotsky”-nya Indonesia. padahal
sejak semula Tan Malaka bukan tidak setuju, melainkan juga berupaya mencegah
rencana pemberontakan yang dirancang kelompok Prambanan. Terdiri dari tokoh PKI
terkemuka seperti Semaun (189901971), Alimin Prawirodirjo (1889-1964), Musso
(1897-1948), dan Darsono (1897- ?) yang mendeklarasikan rencana pemberontakan
di Prambanan, Solo, 1926.
Sebagai pemikir yang cemerlang
dan otentik sejak masa mudanya, Tan Malaka menilai alasan mengapa pemberontakan
harus dikesampingkan. Salah satunya argument yang terus diwacanakan kepada
tokoh PKI adalah kekuatan pergerakan belum cukup matang. Masih diperlukan
pembenahan organisasi partai guna menggalang basis massa yang kuat dan meluas,
bahkan di luar kelompok keomunis. Tan Malaka sebagai pemimpin palung terkemuka
PKI saat itu, menganjurkan untuk sementara waktu pemimpin-pemimpin gerakan
memperkuat organisasi-organisasi, dan tetap melakukan aksi-aksi “pemanasan” dan
agitasi di tempatnya masing-masing.
Terkurung di bawah wacana “persatuan
nasional”, agenda radikal tersisih dan sunyi. Terutama dari sebuah partai yang
mewakili sebuah minoritas yakni proletariat di sebuah negeri yang tak punya
mayoritas kaum buruh. Tan Malaka sendiri mencoba mengelakkan ketersisihan itu
dengan tak hendak mengikuti garis Moskow, ketika pada 1922 ia menganjurkan
perlunya Partai Komunis menerima kaum “Pan Islamisme, yang bagi kaum komunis
adalah bagian dari “borjuasi” guna mengalahkan imperialisme.
Tan Malaka memiliki nama alias
(nama samaran) selama masa dipelarian di luar negeri, dia menggunakan 13 alamat
rahasia dan sekurangnya memiliki tujuh nama samara. Di Manila (Filipina)
dikenal nama Elias Fuentes, dan Estahislau Rivera, sedangkan di Filipina
Selatan dia menjadi Hasan Gozali. Di Shanghai (Cina) dan Amoy dia adalah
Ossario, wartawan Filipina. Ketika menyelundup ke Burma, dia mengubah namanya
menjadi Oong Soong Lee, orang Cina keturunan Hawaii. Di Singapura, ketika
mengajar bahasa Inggris di sekolah menengah atas, dia bernama Tan Ho Seng,
setelah masuk kembali ke Indonesia, dia bekerja di pertambangan Bayah, Banten
dan menjadi namanya Ilyas Hussein.
Pelarian dan penyamaran itu
dimungkinkan, salah satunya dia piawai menguasai bahasa-bahasa setempat dengan
baik. Dia menguasai bahasa Belanda, Inggris, Jerman, Perancis, Tagalog
(Filipina), Tionghoa, dan Melayu. Dalam penyamaran itu pekerjaan sudah
dilakukannya untuk menghidupi dirinya agar tidak kelaparan. Misalnya di Kanton
(Cina) dia menerbitkan bahasa Inggris, The Dawn. Di Manila dia mendirikan Foreign Languages Schoolyang mendapat banyak peminat
dan memberinya cukup uang. Di Singapura dia menjadi guru bahasa Inggris meski
tanpa ijazah. Di Amsterdam dan Rotterdam dia berkampanye untuk partai komunis
Belanda, pada waktu diadakan pemilu legislatif dan ditempatkan pada urutan
ketiga. Di Moskow Rusia menjadi pejabat Komintern dengan tugas mengawasi
perkembangan partai komunis di negara-negara Selatan, yang mencakup Burma,
Siam, Annam, Filipina, dan Indonesia. Sebelum terbuang ke luar negeri, dia
dipenjarakan tiga kali oleh pemerintahan kolonial, di Bandung, Semarang, dan
Jakarta. Dalam pelariannya ke luar negeri, dia dipenjarakan di Manila dan
Hong Kong. Setelah kembali ke Indonesia, dia dimasukan penjara oleh pemerintah
Indonesia di Mojokerto (1946-1947).
Namun apapun itu, meski Tan
Malaka tersingkir selama 20 tahun mengembara ke luar negeri sebagai pelarian
politik (1922-1942), dan enam tahun belajar di Negeri Belanda. Juga sebagai
berpikiran Marxisme yang radikal, perjuangan Tan Malaka terinspirasi oleh Dr. Sun
Yat Sen (kemerdekaan Tiongkok). Sun Yat Sen, menurut Tan Malaka bukan seorang
Marxis, tapi seorang nasionalis yang tidak berfikir dialektis, tapi logis.
Kesanggupan analis dan menulisnya sangat baik sekali, serta seorangeffective
speaker. Kekuatan Dr Sun Yat Sen terdapat dua hal, yakni satunya kata dan
tindakannya yang tabah menghadapi kegagalan. Usahanya memerdekakan Tiongkok
dari kerajaan Manchu baru berhasil pada percobaan ke-17, setelah 16 gagal
melakukan perlawanan. Serta terinspirasi oleh perjuangan Dr Jose Rizal pahlawan
Filipina melawan kolonialis Spanyol.
Di sini terlihat bahwa Tan
Malaka terinspirasi dua pahlawan Asia melawan kolonialis Eropa, Tan Malaka
bukan seorang Marxisme Fundamentalis, karena menghargai dan berusaha mengikuti
dua pahlawan tadi. Diketahui Dr. Sun Yat Sen merupakan pengkritik berat
terhadap Marxisme, dan mengagumi seorang Dr Jose Rizal yang seorang sinyo
borjuis dengan berbagai bakat tapi menunjukan sikap satria sebagai pejuang
kemerdekaan melawan kolonialisme yang menyengsarakan rakyat. Inilah yang
membuat Tan Malaka terinspirasi terhadap jiwa nasionalisme selain menjadi
seorang Marxisme. Namun yang selalu terpikirkan dalam beberapa karya buku yang
sudah ditulisnya. Gagasan Tan Malaka tentang pembentukan Republik Indonesia tersebar
di banyak bukunya, meski tidak ada kesempatan untuk mentutaskannya.
Tan Malaka sejatinya tidak
percaya terhadap parlemen. Bagi Tan Malaka, pembagian kekuasan yang terdiri
atas eksekutif, legislatif, dan parlemen hanya menghasilkan kerusakan atau
konflik. Pemisahan antara orang-orang yang membuat undang-undang, dan yang
menjalankan aturan menimbulkan kesenjangan antara aturan dan realitas.
Pelaksana di lapangan (eksekutif) adalah pihak yang berhadapan dengan persoalan
yang sesungguhnya. Eksekutif selalu dibuat repot menjalankan tugas, ketika
aturan dibuat oleh orang-orang yang hanya melihat persoalan dari jauh
(parlemen). Demokrasi dengan sistem parlemen dengan ritual pemilu dalam 4, 5,
dan 6 tahun sekali. Dalam kurun waktu demikian lama, mereka sudah menjelma
menjadi kelompok tersendiri yang terpisah dari masyarakat. Sedangkan kebutuhan
dan pikirian rakyat sudah berubah-ubah. Karena para anggota parlemen itu tak
terlibat dengan rakyat, seharusnya mereka tidak berhak lagi menjadi wakil
rakyat.
Konsekuensinya adalah parlemen
memiliki kemungkinan sangat besar, menghasilkan kebijakan yang hanya
menguntungkan golongan yang memiliki modal, jauh dari kepentingan masyarakat
yang mereka wakili. Menurut Tan, parlemen dengan sendirinya akan tergoda
berselingkuh dengan eksekutif, perusahaan (swasta), dan perbankan. Singkatnya
keberadaan parlemen dalam republik yang diimpikan oleh Tan Malaka tak boleh
ada. Karena itu pula Tan Malaka menentang keras terhadap Maklumat Wakil
Presiden Nomor X pada 1945 tentang pendirian partai-partai politik. Sebab
dengan adanya peraturan tersebut maka partai-partai akan bermuara di parlemen.
Lalu apa wujud negara tanpa
parlemen? Singkatnya apa yang dipikirkan Tan Malaka tentang negara adalah
negara yang dikelola oleh organisasi tunggal. Dalam tubuh organisasi itulah
dibagi kewenangan sebagai pelaksana, sebagai pemeriksa, atau pengawas, dan
sebagai badan peradilan. Anda bisa membayangkan NU atau Muhammadiyah. Bangunan
organisasinya dari tingkat terendah sampai tingkat nasional bisa diandaikan
seperti itu. Tidak ada pemisahan kekuasaan antara pembuat dan pelaksana aturan.
Di dalam organisasi sama pasti ada semacam dewan pelaksana harian, dan ada
sejenis badan kehormatan atau komisi pemeriksa. Begitulah kewenangan di bagi,
tapi tidak dalam badan yang terpisah.
Bagaimana mengontrol organisasi
agar tidak menjadi tirani kekuasaan? Desain organisasi harus dimainkan. Ritual
pemilihan pejabat organisasi tak boleh dalam selang waktu yang terlalu lama,
agar kepercayaan tak berubah menjalankan kekuasaan, agar amanah berubah menjadi
serakah. Kongres organisasi, dari tingkat rendah sampai tinggi, harus dilakukan
dalam jarak terlalu lama. Waktu 2 tahun mungkin ideal untuk mengevaluasi
kinerja para pejabat organisasi. Jika kerja mereka tidak memuaskan, kongres
organisasi akan menjatuhkan mereka.
Barangkali pembaca mengatakan
bangunan ini jauh dari kata demokratis. Hal ini sangat wajar, sebab sudah
sedemikian lama pemikiran otak kita dijejali dan dicekoki oleh trias politika ala Montesquei. Jika bangunan
organisasi tanpa legislatif dianggap tidak demokratis, boleh juga kita
mengatakan bahwa parpol, organisasi kemasyarakatan, ASEAN, PBB, merupakan
lembaga tidak demokratis ?. Namun di luar itu, wajar juga gagasan Tan Malaka
merupakan hal yang naïf dan tidak bisa diikuti. Pendapat ini wajar karena tidak
bisa terlepas dari zamannya ketika itu, akan tetapi tidak salah jika kita
berupaya mengambil hikmah dari seorang pejuang yang berusaha menciptakan bentuk
negara yang terlepas dari kolonialisme dan menciptakan kesejahteraan bagi
rakyatnya.
Kritikal Review
Setelah penulis berupaya untuk
mereview buku-buku dari tokoh pejuang, siapa dan bagaimana Tan Malaka? di mana
letak tertariknya mengapa kita berupaya mengambil sebagai salah satu pemikir
politik Indonesia. Sebelum membaca gagasan dan menggali apa yang coba
diperjuangkan Tan Malaka, bahwa kita menyangka Tan Malaka seorang Komunis
tulen, dan terbukti banyak orang membencinya dan banyak pula orang yang
mencintainya, setelah mencoba mereview dan menganalisis buku tersebut apa yang
kita duga tidak demikian. Ternyata Tan Malaka bukan seorang komunis seperti
yang di bicarakan orang. Meski paham Tan Malaka adalah seorang Marxisme tapi
dia mencoba mendiskusikan dan melobi di tingkat komunis internasional untuk
bergabung dengan Pan Islamisme memerangi imperialisme-kapitalisme.
Bagi mahasiswa, guru, dosen,
pelajar, serta bagi peminat sejarah, politik, dan masyarakat luas.
Catatan review ini dihadapkan sangat bermanfaat sebagai bahan pelajaran
untuk masa depan agar tidak terulang sisi gelap sejarah Indonesia, dan
ini dipersembahkan bagi tokoh pejuang nasional, meski sudah melabeli
sebagai pahlawan nasional, akan tetapi arsipnya dihilangkan begitu saja oleh
pemerintah Soeharto kala itu, dan dianggap sebagai politikus yang tidak
memiliki arti sesungguhnya bagi masyarakat karena dicap sebagai subversi yang
akan menimbulkan semangat komunisme di Indonesia, akan tetapi kenyataannya
sangat jelas bahwa perjuangan Tan Malaka sebagai pemikir bagaimana kita
memahami substansi politik dan implementasinya untuk masyarakat dan negara.
Khususnya jeratan imperialisme kolonialisme yang menyengsarakan rakyat.
