Dakwah di Televisi

Selasa, 05 Maret 20130 komentar


Trend dakwah kini semakin bergeser. Para juru dakwah di masjid/musala yang selalu risau lantaran jamaah pendengar dakwah terus mengerucut hingga yang tetap setia cuma mereka yang berumur uzur, sekonyong-konyong tersentak begitu membuka channel televisi.  Dakwah yang berlangsung di rumah (lazimnya seperti ketika acara syukuran aqiqah dan tepung-tawar haji) memang ramai disebabkan acara tersebut juga menghidangkan kuliner yang lezat citarasanya. 

Namun, jumlah pendengar dakwah dalam acara live televisi jauh lebih ramai, mencapai ratusan orang. Dampak positifnya, pemasang iklan bergairah dan hal itu bermakna keuntungan bagi ”juragan televisi”.  Pernah ada yang bertanya, kenapa tayangan dakwah di televisi selalu saja diselang-seling iklan padahal tayangan sepakbola tak demikian, apakah martabat “dakwah’ lebih murah daripada ”sepakbola”?

Dakwah di televisi memang mengakomodasikan magnet spesial luar biasa, sekaligus menghapus image ustad juru dakwah itu ekonominya melarat hidupnya miskin.  Sebab, ustad yang beruntung dapat tampil di televisi rata-rata punya mobil mahal dan rumah mewah, live style pun mirip selebriti.  Sayangnya, tak banyak juru-dakwah yang berkesempatan tampil di media kaca itu. Sebabnya, ustad-ustad yang tampil telah tekan kontrak dengan juragan televisi, ada yang dikontrak setahun ada pula yang kontraknya selusin tahun, tergantung calon pemasang iklan, kalau pemasang iklan tak berselera, yah, kontraknya pun diperpendek. 

Jangan coba-coba membandingkan dakwah di layar kaca dengan dakwah di masjid/ musala yang pendengarnya cuma hitungan bilangan jari serta mayoritas jompo.  Suatu tayangan dakwah di televisi tak mustahil ditonton jutaan pemirsa, malah kalangan pengamat berasumsi pemirsa dakwah bisa-bisa jauh lebih banyak dari penikmat siaran infotainment. Maklum, jiwa agama bangsa kita sangat kental sekali. 
Terkait itu pula, semua stasiun televisi sengaja mengemas program dakwah mereka semaksimalnya. Antara lain, mewajibkan pendengar dakwah berpakaian mambo alias warna-warni, kemudian melobi butik tertentu supaya berpromosi dengan cara pinjam-pakai busana khusus agar dipromosikan juru dakwah. 

Selain itu, mengatur sesi dakwah pada waktu orang-orang belum ke kantor dan ke pasar atau  ke kampus. Waktu yang jitu adalah antara pukul 05.00-06.00 WIB.  Dan  yang tak kalah pentingnya, ustad juru dakwah musti pintar melawak, melucu, berakting meniru Sule atau Tukul dan improvisasinya harus kaya humor. Malah, ada stasiun televisi yang “memasang host” artis penyanyi atau bintang sinetron, sekalian mengundang pendengar dakwah dari lingkungan selebriti.  Lantas, adakah yang salah? Nah, kesalahan itu sangat terang benderang sekali. Oleh karena dalam berdakwah yang ditentukan agama (Islam) sebagai salah satu kaidah dan koridor yang paling signifikan adalah, semua produk ibadah harus mengacu pada Alquran, Assunnah maupun Ijtihad Ulama Salafiah (senior) jangan mengarang-ngarang atau mengada-ada konsekuensi rujukannya musti terang benderang dan bisa dicek ulang.

Hanya Rasulullah SAW yang berhak menjawab langsung pertanyaan yang disampaikan sahabat beliau, bahkan pada beberapa poin Rasul juga perlu menunggu turunnya ayat, baru menjawab. Lho, kok juru-dakwah di televisi kontan saja menjawab asal ditanya, tanpa perlu mendukung jawaban itu dengan sumber yang jernih (Firman Allah SWT, Sabda Rasul dan fatwa ulama)? Sehingga pernah seorang juru-dakwah itu ketika ditanya apakah isteri Nabi Nuh AS juga ikut naik perahu dan tak durhaka macam putra Nabi Nuh, enak saja dijawab bahwa isteri Nabi Nuh  ikut dalam perahu, cuma putra Nabi Nuh saja mendurhaka.  Jawaban ini menyesatkan, akibat ustad tadi tidak mempedomani Alquran. Sebab, dalam surat At-Tahrim 10 jelas-jelas  Allah SWT memfirmankan bahwa isteri Nabi Nuh itu sama dengan isteri Nabi Luth yang pastinya durhaka dan bakal masuk neraka.  Harap dicatat, sebuah hadits Baginda Rasulullah SAW, bahwa kelak akhir zaman ulama terbagi dua, yakni ada ulama yang menjadi obor dan member petunjuk kepada umat, disamping ada ulama yang justru menyesatkan umat (ulamasuu’). 
Tak kalah pentingnya, para juru dakwah wajib mencermati bagaimana tuntunan Baginda Rasulullah SAW dalam berdakwah dan bertabligh.  Antara lain baginda Rasulullah member keteladanan para juru dakwah hendaklah santun dan tenang ketika menyampaikan dakwahnya. 

Tidak meledak-ledak seperti orator Pilkada, tidak bertele-tele mirip orang mengajar  balita, tidak terlalu memberi bunga terhadap kata-kata, tidak memancing orang tertawa dengan berakting yang dibuat-buat, tidak berteriak-teriak macam suporter sepakbola, serta tidak membuat gerakan-gerakan macam pesilat tengah bertarung. 

Artinya dalam bertabligh atau berdakwah setiap juru dakwah harus mengetahui sekali koridor dakwah dan mematuhinya sesuai sunnah Baginda Rasulullah SAW oleh karena tabligh serta dakwah merupakan bagian dari ibadah, jadi tidak boleh sesuka hati belaka.

Dalam konteks ibadah, sangat perlu ketegasan, ayat Alquran mana yang menyebutkan begitu, sabda Rasul mana yang mengharamkan dan menghalalkan, fatwa Ulama mana yang mengatakan demikian? Seorang Ustad juru-dakwah jangan mengarang-ngarang yang berpotensi menyesatkan  umat, memaparkan dalil ayat Alquran, hadis Rasulullah SAW, juga fatwa ulama. Dakwah harus bisa secara aktual memaparkan referensi yang akurat dan sesuai Alquran dan Assunah, agar umat tidak disesatkan olehnya.

Terkait itu pula, kita logis mengimbau kalangan penyampai dakwah di televisi kecuali harus hati-hati menjawab setiap pertanyaan, seyogianya menyebutkan pula fondasi jawaban tersebut, mana ayat Alquran-nya, mana haditsnya, mana fatwanya agar jangan nanti terkesan mengarang-ngarang fatwa sendiri. 

Para penyampai dakwah di televisi itu selain patut bersyukur mereka bisa tekan kontrak dengan juragan televisi, juga mengarifi betapa dakwah di layar kaca itu ditonton berjuta juta pasang mata, yang tak semuanya memiliki wawasan keberagamaan secara baik dan memiliki nalar selektif yang sensitif. 

Lebih dari itu sadarlah bahwa Anda bukanlah pelawak, melainkan juru dakwah yang menyampaikan pesan-pesan religi.

Ibrahim Muhammad, Penulis buku ”Seribu Masjid di Bumi Melayu”
Share this article :
 
Support : http://mutiara-florist.blogspot.com | www.pendidikanriau.com
Copyright © 2014. ARMEN SAPUTRA, S.Kom - Hak Cipta Dilindungi UU