Trend dakwah kini semakin bergeser. Para juru dakwah di
masjid/musala yang selalu risau lantaran jamaah pendengar dakwah terus
mengerucut hingga yang tetap setia cuma mereka yang berumur uzur,
sekonyong-konyong tersentak begitu membuka channel televisi. Dakwah
yang berlangsung di rumah (lazimnya seperti ketika acara syukuran aqiqah dan
tepung-tawar haji) memang ramai disebabkan acara tersebut juga menghidangkan
kuliner yang lezat citarasanya.
Namun, jumlah pendengar dakwah dalam acara live televisi jauh
lebih ramai, mencapai ratusan orang. Dampak positifnya, pemasang iklan
bergairah dan hal itu bermakna keuntungan bagi ”juragan televisi”. Pernah ada yang bertanya, kenapa tayangan dakwah di televisi
selalu saja diselang-seling iklan padahal tayangan sepakbola tak demikian,
apakah martabat “dakwah’ lebih murah daripada ”sepakbola”?
Dakwah di televisi memang mengakomodasikan magnet spesial
luar biasa, sekaligus menghapus image ustad juru dakwah itu ekonominya melarat
hidupnya miskin. Sebab, ustad yang beruntung dapat tampil di televisi
rata-rata punya mobil mahal dan rumah mewah, live style pun mirip selebriti.
Sayangnya, tak banyak juru-dakwah yang
berkesempatan tampil di media kaca itu. Sebabnya, ustad-ustad yang tampil telah
tekan kontrak dengan juragan televisi, ada yang dikontrak setahun ada pula yang
kontraknya selusin tahun, tergantung calon pemasang iklan, kalau pemasang iklan
tak berselera, yah, kontraknya pun diperpendek.
Jangan coba-coba membandingkan dakwah di layar kaca dengan
dakwah di masjid/ musala yang pendengarnya cuma hitungan bilangan jari serta
mayoritas jompo. Suatu tayangan dakwah di televisi tak mustahil
ditonton jutaan pemirsa, malah kalangan pengamat berasumsi pemirsa dakwah
bisa-bisa jauh lebih banyak dari penikmat siaran infotainment. Maklum, jiwa
agama bangsa kita sangat kental sekali.
Terkait itu pula, semua stasiun televisi sengaja mengemas
program dakwah mereka semaksimalnya. Antara lain, mewajibkan pendengar dakwah
berpakaian mambo alias warna-warni, kemudian melobi butik tertentu supaya
berpromosi dengan cara pinjam-pakai busana khusus agar dipromosikan juru
dakwah.
Selain itu, mengatur sesi dakwah pada waktu orang-orang belum
ke kantor dan ke pasar atau ke kampus. Waktu yang jitu adalah antara
pukul 05.00-06.00 WIB. Dan yang tak kalah pentingnya, ustad juru dakwah musti pintar
melawak, melucu, berakting meniru Sule atau Tukul dan improvisasinya harus kaya
humor. Malah, ada stasiun televisi yang “memasang host” artis penyanyi atau
bintang sinetron, sekalian mengundang pendengar dakwah dari lingkungan
selebriti.
Lantas, adakah yang salah? Nah, kesalahan itu
sangat terang benderang sekali. Oleh karena dalam berdakwah yang ditentukan
agama (Islam) sebagai salah satu kaidah dan koridor yang paling signifikan
adalah, semua produk ibadah harus mengacu pada Alquran, Assunnah maupun Ijtihad
Ulama Salafiah (senior) jangan mengarang-ngarang atau mengada-ada konsekuensi
rujukannya musti terang benderang dan bisa dicek ulang.
Hanya Rasulullah SAW yang berhak menjawab langsung pertanyaan
yang disampaikan sahabat beliau, bahkan pada beberapa poin Rasul juga perlu
menunggu turunnya ayat, baru menjawab. Lho, kok juru-dakwah di televisi kontan saja menjawab
asal ditanya, tanpa perlu mendukung jawaban itu dengan sumber yang jernih
(Firman Allah SWT, Sabda Rasul dan fatwa ulama)? Sehingga pernah seorang
juru-dakwah itu ketika ditanya apakah isteri Nabi Nuh AS juga ikut naik perahu
dan tak durhaka macam putra Nabi Nuh, enak saja dijawab bahwa isteri Nabi
Nuh ikut dalam perahu, cuma putra Nabi Nuh saja mendurhaka.
Jawaban ini menyesatkan, akibat ustad tadi tidak
mempedomani Alquran. Sebab, dalam surat At-Tahrim 10 jelas-jelas Allah
SWT memfirmankan bahwa isteri Nabi Nuh itu sama dengan isteri Nabi Luth yang
pastinya durhaka dan bakal masuk neraka. Harap dicatat, sebuah hadits Baginda Rasulullah SAW, bahwa kelak akhir
zaman ulama terbagi dua, yakni ada ulama yang menjadi obor dan member petunjuk
kepada umat, disamping ada ulama yang justru menyesatkan umat (ulamasuu’).
Tak kalah pentingnya, para juru dakwah wajib mencermati
bagaimana tuntunan Baginda Rasulullah SAW dalam berdakwah dan bertabligh. Antara lain baginda Rasulullah member keteladanan para
juru dakwah hendaklah santun dan tenang ketika menyampaikan dakwahnya.
Tidak meledak-ledak seperti orator Pilkada, tidak
bertele-tele mirip orang mengajar balita, tidak terlalu memberi bunga
terhadap kata-kata, tidak memancing orang tertawa dengan berakting yang dibuat-buat,
tidak berteriak-teriak macam suporter sepakbola, serta tidak membuat
gerakan-gerakan macam pesilat tengah bertarung.
Artinya dalam bertabligh atau berdakwah setiap juru dakwah
harus mengetahui sekali koridor dakwah dan mematuhinya sesuai sunnah Baginda
Rasulullah SAW oleh karena tabligh serta dakwah merupakan bagian dari ibadah,
jadi tidak boleh sesuka hati belaka.
Dalam konteks ibadah, sangat perlu ketegasan, ayat Alquran mana yang menyebutkan begitu, sabda Rasul mana yang mengharamkan dan menghalalkan, fatwa Ulama mana yang mengatakan demikian? Seorang Ustad juru-dakwah jangan mengarang-ngarang yang berpotensi menyesatkan umat, memaparkan dalil ayat Alquran, hadis Rasulullah SAW, juga fatwa ulama. Dakwah harus bisa secara aktual memaparkan referensi yang akurat dan sesuai Alquran dan Assunah, agar umat tidak disesatkan olehnya.
Terkait itu pula, kita logis mengimbau kalangan penyampai dakwah di televisi kecuali harus hati-hati menjawab setiap pertanyaan, seyogianya menyebutkan pula fondasi jawaban tersebut, mana ayat Alquran-nya, mana haditsnya, mana fatwanya agar jangan nanti terkesan mengarang-ngarang fatwa sendiri.
Dalam konteks ibadah, sangat perlu ketegasan, ayat Alquran mana yang menyebutkan begitu, sabda Rasul mana yang mengharamkan dan menghalalkan, fatwa Ulama mana yang mengatakan demikian? Seorang Ustad juru-dakwah jangan mengarang-ngarang yang berpotensi menyesatkan umat, memaparkan dalil ayat Alquran, hadis Rasulullah SAW, juga fatwa ulama. Dakwah harus bisa secara aktual memaparkan referensi yang akurat dan sesuai Alquran dan Assunah, agar umat tidak disesatkan olehnya.
Terkait itu pula, kita logis mengimbau kalangan penyampai dakwah di televisi kecuali harus hati-hati menjawab setiap pertanyaan, seyogianya menyebutkan pula fondasi jawaban tersebut, mana ayat Alquran-nya, mana haditsnya, mana fatwanya agar jangan nanti terkesan mengarang-ngarang fatwa sendiri.
Para penyampai dakwah di televisi itu selain patut bersyukur
mereka bisa tekan kontrak dengan juragan televisi, juga mengarifi betapa dakwah
di layar kaca itu ditonton berjuta juta pasang mata, yang tak semuanya memiliki
wawasan keberagamaan secara baik dan memiliki nalar selektif yang sensitif.
Lebih dari itu sadarlah bahwa Anda bukanlah pelawak,
melainkan juru dakwah yang menyampaikan pesan-pesan religi.
Ibrahim Muhammad, Penulis buku ”Seribu Masjid di Bumi Melayu”
