Kepala Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Pekanbaru Fritz Aritonang berharap Pemerintah Indonesia bisa selamatkan pengungsi asal Rohingya. Hal ini menurt Fritz dikarenakan hubungan emosianal antara masyarakat Indonesia dengan masyrakat muslim rohingya. "Disinilah saatnya kita pemerintah Indonesia membuktikan jika negara ini berjiwa besar dan peduli sesama khususnya bagi masyarakat korban ketikadilan itu," ujar Fritz kepada Tribun Kamis (2/8).
Menurut Fritz, para pengungsi rohingya tersebut bisa ditampung dalam satu daerah kemudian diminta badan PBB untuk memberikan bantuan. "Selanjutnya pemerintah bisa melatih mereka agar bisa mandiri, nantinya mereka ini menjadi penduduk Indonesia," jelas Fritz. Fritz menambahkan untuk segi kualitas dan skil keahlian para pengungsi rohingya tersebut memang jauh dibawah, dikarenakan mereka tidak pernah mengenyam dunia pendidikan dan pengetahuan. "Tapi saya yakin jika Indonesia bisa menampung ribuan pengungsi Rohingya ini, negara kita akan dihormati dan disegani dunia. Satu hal lagi yang penting, kita jangan cuma bisanya mengomentari dan mengecam namun kepedulian langsung kita yang penting
Sementara itu Said Husin (31) , seorang pengungsi muslim Rohingya yang saat ini di Rumah Detensi Imigran Pekanbaru mengaku selalu teringat kampung halaman dan keluarganya yang masih bertahan diwilayah konflik tersebut. Dia mengatakan sudah empat bulan tinggal di rudenim. Ia bercerita, dirinya dan ratusan warga rohingya yang lain terpaksa meninggalkan kampung halaman karena mendapatkan perlakuan tidak adil dari pemerintah Myanmar. Kami tidak bisa sekolah dan kami tidak bisa cari makan, pokonya hidup kami disana sangat sulit," ujarnya dengan bahasa melayu Rohingya kepada Tribun.
Sebelum kabur dari Myanmar, Sahid mengaku pernah dipenjara di Thailand, karena menjadi Imigran gelap, lalu di lepas, kemudian dirinya masuk ke Malaysia, dan kerja 5 tahun di Negara Mahatir Muhammad tersebut. Tapi seiring dirinya bekerja di Malaysia pihak Pemerintah Myanmar tidak memboleh warga rohingya membuat paspor. Dirinya memutuskan untuk melakukan pelarian karena sudah tidak sanggup dengan penindasan yang dilakukan oleh pemerintah setempat. Akhirnya Sahid bersama 20 temannya lari ke Medan, dengan menjadi manusia perahu, setelah sebulan di Medan dia berangkat ke Jakarta dan akhirnya tertangkap di bandar lampung, kemudian dirinya dibawa ke Rudenim Pekanbaru. Sahid mengaku sebenarnya ingin mencari suaka di Indonesia, karena menurutnya Indonesia merupakan sebuah negara yang menghormati sesama ras dan agama. "Saya suka dengan Indonesia karena negaranya saling menghargai antara kaum mayoritas dan minoritas," ujarnya.
Selama di rudenim, Sahid mengatakan sempat bekerja menjadi kuli bangunan bersama empat orang temannya yakni Rahmatullah bin Rahimullah (25), Rahimuddin (29), Anwar bin Abdul Hakim (22) dan Kobi Ahmad bin Abul Hussain (33) yang juga pengungsi dari Rohingya tersebut. "Kami dapat gaji 50 ribu sehari, waktu itu kami sering mengirim uang ke saudara yang di Rohingya," katanya.
Selama bulan puasa ini, para imigran asal Rohingya tersebut mengaku sangat nyaman berada di Rudenim, karena mereka merasa di Rudenim tersebut seperti berada di rumah sendiri. Meskipun tidak bisa berkumpul dengan keluarga serta berpuasa dikampung halaman, namun Sahid Husin dan beberapa temannya yang lain tetap merasakan kenyamanan di Rudenim tersebut jika dibandingkan berada dikampung halamannya.
Sementara itu, Kepala Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Pekanbaru Fritz Aritonang membenarkan adanya lima pengungsi Rohingya di Rudenim, sebelumnya berjumlah sepuluh orang dan lima orang lainnya memilih untuk melanjutkan perjalanan mereka ke daerah tujuan.
jumlah pengungsi asal Rohingya, Myanmar yang mencari suaka ke Indonesia diperkirakan akan terus bertambah. Hal itu disebabkan, masih belum kondusifnya keamanan di perkampungan muslim di Myanmar tersebut. "Kita perkirakan akan masih bertambah pengungsi yang mencari suaka ke Indonesia. Itu tergantung situasi di Rohingnya, Myanmar sendiri," kata Kabag Humas Ditjen Imigrasi Maryoto saat dihubungi, Selasa (31/7/2012).
Maryoto mengatakan, saat ini para pengungsi itu menyebar di sejumlah daerah di tanah air. Mereka terbagi menjadi dua bagian, yaitu pengungsi yang masih ditampung di Rudenim (Rumah Detensi Imigrasi) dan yang di luar Rudenim. "Perbedaannya, yang di luar Rudenim itu sudah dinyatakan sebagai pengungsi oleh UNHCR (lembaga di bawah PBB yang menangani pengungsi) dan yang masih di Rudenim masih diurus statusnya oleh UNHCR," terangnya.
Di Pekanbaru sendiri terdapat 10 orang pengungsi Rohingya yang berada di Rudenim.
Lebih lanjut, Maryoto mengatakan, biaya akomodasi mereka yang masih di Rudenim ataupun di luar Rudenim akan ditanggung Ireguler Organization Migran (IOM) atau lembaga swadaya yang diberikan masing-masing negara donor yang membiayai para pencari suaka. "Imigrasi hanya menampung mereka saja. Tapi, kita terus melakukan koordinasi dengan lembaga-lembaga tersebut," ujar Maryoto. Maryoto menjelaskan, mereka masuk ke Indonesia melalui beberapa jalur. Namun, kebanyakan masuk dari jalur laut.
Berikut jumlah pengungsi asal Rohingya berdasarkan data Ditjen Imigrasi.
Pengungsi yang masih berada di Rudenim :
Belawan : 22 orang
Pekanbaru : 10 orang
Tanjung Pindang : 107 orang
Pontianak : 1 orang
Balikpapan : 1 orang
Kupang : 5 orang
Manado : 35 orang
Makassar : 7 orang
DKI Jakarta : 10 orang
Pusat (Ditjen Imigrasi) Jakarta : 3 orang
Pengungsi yang sudah berada di luar Rudenim :
Medan : 130 orang
Lampung : 19 orang
Kalianda : 4 orang
Bogor : 12 orang
Yogyakarta : 1 orang
Makasar : 48 orang
