Mengikuti rapat lebih dari dua jam membuat sebagian orang mulai terlihat gelisah. Bila kita rekam, adegannya kira-kira seperti ini: Ada peserta rapat yang mulai menekan-nekan tuas ballpoint, ada yang duduknya mulai melorot, ada yang wajahnya mulai tampak murung, dan ada pula yang senyum-senyum GJ.
Adegan tersebut menunjukkan beragamnya respons peserta terhadap rapat yang tengah berjalan. Saya dihinggapi rasa ingin tahu, apa sebenarnya yang sedang mereka pikirkan. Saya mereka-reka apa yang sedang berpendar di benak masing-masing peserta rapat.
Sesungguhnyalah saya tidak sedang usil, melainkan sedang melatih kemampuan melihat suatu fenomena dari berbagai sudut pandang. Ini bagian dari pelatihan kemampuan berpikir divergen dalam memecahkan persoalan, seperti yang disarankan kawan saya. Sebagian orang mungkin segera menyimpulkan bahwa peserta rapat tadi sudah dihinggapi rasa bosan. Saya menganggap kesimpulan itu sebagai salah satu kemungkinan.Kemungkinan lainnya, ada peserta yang tidak sabar lagi untuk mengerjakan tugas yang lain.
Rasa ingin tahu, kata kawan saya, merupakan salah satu unsur yang mewarnai berpikir secara divergen. Mereka yang berpikir divergen berusaha mencari berbagai kemungkinan dalam memecahkan suatu persoalan. Ini berbeda dengan mereka yang cenderung mengikuti alur yang kaku: setelah ini harus begitu, sesudah begitu mesti begini, hingga akhirnya mereka sampai kepada sebuah ujung.
Tapi, apakah ini satu-satunya ‘jawaban yang tepat’ atas sebuah persoalan? Bila ya, apakah proses yang lurus tadi merupakan satu-satunya ‘jalan’ menuju jawaban yang tepat?
Mungkinkah ada jawaban-jawaban lain yang sama tepat atau bahkan lebih tepat? Berpikir divergen memungkinkan kita menemukan jawaban-jawaban alternatif. Berbeda dengan alur linier yang cenderung kaku, berpikir divergen mengikuti alur yang mengalir bebas dan lebih spontan. Berpikir divergen memungkinkan kita berjumpa dengan berbagai kemungkinan jawaban yang bahkan tidak terduga.
Alih-alih menggunakan langkah-langkah yang mengikuti garis lurus, dengan berpikir divergen kita diajak untuk melihat aspek-aspek lain dari situasi. Kita diajak menggunakan sudut pandang yang tidak biasa, betapapun abstrak dan tak lazim kelihatannya saat pertama kali.
Hal itu dapat dilakukan bila kita berpikir lebih bebas saat bekerja, menghimpun beragam gagasan sekalipun relasi gagasan tersebut dengan persoalan yang berusaha kita pecahkan mungkin terlihat tipis. Kedengarannya seperti membuang-buang waktu, namun penggunaan cara ini akan mendatangkan jawaban-jawaban yang mungkin lebih tepat.
Terdapat banyak alat yang dapat dipakai dalam berpikir divergen, di antaranya brainstorming dan mind mapping. Melalui brainstorming kita dapat menghasilkan asosiasi-asosiasi yang bersifat acak. Dengan mind mapping, kita membelah gagasan menjadi gagasan-gagasan yang lebih kecil hingga kita memperoleh gambar yang utuh mengenai sebuah persoalan.
Dengan berpikir secara divergen, terbuka kemungkinan untuk menghasilkan pool of ideas. Mungkin saja, tidak semua gagasan itu dipakai sekarang, tapi niscaya bermanfaat untuk lain waktu. Langkah selanjutnya: mengatur gagasan-gagasan tersebut—yang mungkin saja sebagian di antaranya tidak betul-betul baru—agar kita bisa memperoleh jalan keluar yang inovatif dari persoalan yang sedang kita hadapi.
Sumber : http://blog.tempointeraktif.com
