Tentang Palestina, Mari Bercermin Pada Musisi Jazz Dunia

Kamis, 29 November 20120 komentar


Serangan zionis yahudi ke wilayah Palestina, khususnya kota Gaza, usai sudah. Hanya 8 hari mereka berani menyerang. Dari beragam berita di media cetak maupun elektronik, Israel mengalami kerugian materi sangat besar. Tapi, kerugian terbesr mereka sesungguhnya adalah potensi kehilangan dukungan dari sekutu-sekutu mereka di Barat dan juga di Timur. Tanpa dukungan sekutu-sekutu itu, Israel dipastikan tidak bisa berbuat apa-apa.

Musisi Jazz Dunia Bicara Palestina

Adalah Buya Ahmad Syafi’i Maarif yang pertama kali memperkenalkan sosok Gilad kepada khalayak Indonesia pada tahun 2008 silam. Hal itu kemudian diperdalam dalam buku mutakhirnya “Gilad Atzmon, Catatan Kritikal tentang Palestina dan Masa Depan Zionisme” (Mizan, 2012)

Gilad adalah musisi jazz tingkat dunia, mantan anggota angkatan udara zionis Israel dan cucu tokoh kelompok sayap kanan teroris Irgun Zevai Leumi yang telah mengusir dan membunuh rakyat Palestina pada 1948. Gilad telah lama larut dalam penderitaan Palestina, dan karena itu dengan kesadaran sendiri melalui telinga batin musik ia harus mengucapkan sayonara kepada zionisme, sebuah pilihan yang semula tidak mudah. Sekarang, setelah melalui upaya keras, Atzmon telah mahir memainkan musik Arab yang sebelumnya terdengar sangat aneh di telinganya.

Setelah melalui pengembaraan spiritual yang panjang, Gilad mengambil sikap yang sangat berani, berbanding terbalik dengan sikap dan tindakan kakeknya: “zionis Israel harus hengkang dari negara yang sejak 1948 dinamakan Israel itu. Dengan hengkangnya zionisme, akan tercipta sebuah negara Palestina merdeka yang di dalamnya warga Yahudi dan Palestina dapat hidup damai dalam iklim demokrasi yang sehat dan modern, persis seperti era sebelum membanjirnya migran asing ke sana”
Pernyataan yang tidak kurang beraninya adalah manakala Atzmon rindu pulang kampung, yang teringat bukan Tel Aviv, Haifa, atau Yerusalem, melainkan Palestina yang teraniaya. Sebelum terjadi titik kisar dalam perjalanan batinnya, Atzmon tidak pernah merasa tertarik oleh seruan azan di masjid di bukit-bukit. Nyanyian Ummi Kaltsum, Farid el-Atrash, Abdel Hakim Hafez, yang sering didengarnya, tidak punya pengaruh apa-apa terhadap dirinya.

Dalam artikelnya "On Music, War and Empathy" seperti yang dikutip oleh Buya Syafii empat tahun lalu (Gatra, 10/1/2008), Gilad menulis, "Saya besar di Israel dalam sebuah keluarga zionis agak sekuler. Nenek laki-laki saya adalah seorang veteren teroris karismatik puitik, mantan komandan sayap kanan organisasi teror Irgun. Saya mesti mengakui bahwa ia punya pengaruh dahsyat atas diri saya di masa-masa awal. Kebenciannya terhadap apa saja yang gagal untuk menjadi Yahudi merupakan sebuah inspirasi penting.

Sebagai veteran teroris sayap kanan, selain bangga sebagai seorang dari suku Yahudi, ia (sang kakek) sangat maklum bahwa paham kesukuan tidak akan pernah damai dengan humanisme dan universalisme... Bangsa Arab pada umumnya dan Palestina khususnya harus dihadapi tanpa takut dan dengan kekerasan. Sambil mengutip lagu Betar, ia (sang kakek) berulang kali mengatakan: 'Dalam darah dan keringat, kita akan membangun ras kita'... Kami memandang dunia melalui teropong rasis dan syofinis.

Saya mulai menyadari bahwa saya sebenarnya hidup di bumi orang lain. Saya mulai berpendirian bahwa fakta yang menghancurkan yang terjadi tahun 1948, pada saat rakyat Palestina tidak rela pergi, tapi yang sebenarnya berlaku adalah pembersihan etnis secara brutal oleh nenek saya dan teman-temannya. Saya mulai menyadari bahwa pembersihan etnis tidak pernah berhenti di Israel, hanya bentuk dan formatnya yang berbeda."

Dengan pernyataannya tersebut Gilad hendak memahamkan kita bahwa zionisme tidak akan pernah berdamai dengan Palestina, juga tidak dengan kemanusiaan. Zionisme adalah ideologi rasis yang brutal telah berjaya menipu public dunia, khususnya  Amerika dan bangsa Barat lainnya. Kejahatan kemanusiannya sudah terlalu jauh melampaui batas toleransi dan telah berlangsung lama, berkat dana besar dan kelicikannya mengelabui dunia. Otak-otak cerdas, tetapi licik, yang dimiliki tokoh zionis sama sekali tidak didampingi oleh hati yang cerdas. Akibatnya, otak-otak itu malah selalu menciptakan kekacauan dan malapetaka.

Generasi yang Tercerahkan

Menurut Abdillah Toha (Maarif, 2012; 25), Gilad hanyalah salah satu dari banyak keturunan Yahudi yang makin sadar bahwa eksistensi dan perilaku rezim Israel di tanah Palestina melanggar semua hokum moral, kemanusiaan, internasional dan bahkan hokum agama mereka. Inilah oang-orang pemberani dan berprinsip yang melawan arus besar penguasa, media, korporasi, politisi, intelijen dan opini Barat yang dibentuk dan diintimidasi oleh lobi-lobi Israel dengan dukungan kekuatan keuangan raksasa.
Gilad mencontohkan secara gamblang tentang Law of Return (Undang-Undang Pulang Kampung) yang sepenuhnya berorientasi rasial. Dalam undang-undang ini, orang Yahudi yang sudah menghilang selama dua ribu tahun boleh saja pulang ke Israel, sedangkan rakyat Palestina yang baru dua tahun pergi tidak boleh lagi pulang ke desanya. Gilad tidak bisa menerima semuanya ini. 

Apalagi, ia menyadari bahwa kaum zionis tidak punya hak tinggal di tanah Palestina. Itulah sebabnya, Gilad mengasingkan diri secara sukarela untuk tinggal di Eropa, mengembara dalam dunia musik yang telah mengajarkannya kearifan spiritual: "Doktrin keangkuhan ras Yahudi adalah sebuah kepalsuan."

Dalam “No Choice but to Speak Out – Israeli Musician” yang dimuat oleh Gisborne Herald online (23/1/2009), Gilad kembali mempertegas pendapatnya, “Saya pikir ideology Yahudi (zionisme) sedang mendorong planet kita ini menuju sebuah malapetaka, dan kita harus berani menghentikannya”.

Dua Negara, Bukan Solusi!

Zionis Israel telah merampas kemerdekaan tanah air Palestina  dengan cara-cara biadab yang tidak menghiraukan sisi-sisi kemanusiaan dan hokum internasional. Sekiranya Amerika Serikat tidak memberikan dukungan kuat kepada Israel, baik dalam bentuk dana maupun persenjataan, negara Yahudi itu sebenarnya cukup rapuh dan tidak mungkin meneruskan sikap kepala batunya terhadap tuntutan rakyat Palestina yang tidak mungkin takluk sampai kapan pun. Mengapa? Karena tanah yang dituntut itu 100 persen adalah milik sah mereka. Nenek moyang orang Yahudi yang pernah tinggal di Palestina telah diusir Imperium Romawi sejak 2.000 tahun yang lalu.

Bagi Gilad, satu-satunya jalan keluar yang akan menjamin perdamaian adalah solusi satu negara dimana kedua bangsa bermukim di bawah persamaan hokum dan suatu pemerintahan yang berdasarkan kedaulatan rakyat. Bukan dua negara. Apa lagi dua negara dengan konsep yang diinginkan oleh Barat –termasuk Presiden Susilo Bambang Yudoyono; palestina hanya akan menjadi negara “Bantustan” yang perbatasannya terpisah oleh kawasan Israel di tengah-tengah, dan setiap kali warga Palestina akan berkunjung ke kawasan lain di dalam negerinya harus melewati pos jaga Israel.
Sudah menjadi sebuah aksioma, bagi Gilad, bahwa perdamaian dunia tidak mungkin terwujud selama Zionisme masih punya kesempatan untuk menebarkan racun mautnya. Karena bukan berasal dari rahim kemanusiaan, zionisme dan pendukungnya harus dihalau ke planet lain atau ke sebuah nasib tanpa peta.

Ungkapan-ungkapan seperti ini, menurut Buya Syafii, memang terasa kejam, tetapi karena yang dihadapi adalah makhluk yang tak mungkin berdamai dengan kemanusiaan, Gilad terpaksa menggunakan semuanya demi kecintaannya untuk menyelamatkan spesies manusia di muka bumi. Proyek awalnya adalah kemerdekaan Palestina!

Ahmad Arif
Penulis adalah pendiri pustaka komunitas RUMAN (Rumoh Baca Aneuk Nanggroe) Banda Aceh
Share this article :
 
Support : http://mutiara-florist.blogspot.com | www.pendidikanriau.com
Copyright © 2014. ARMEN SAPUTRA, S.Kom - Hak Cipta Dilindungi UU