Pedagang Musiman Keluhkan Banyak Pungutan

Senin, 17 September 20120 komentar


Sejumlah pedagang musiman yang memadati kawasan Sport Center Rumbai dan yang berada di areal depan Stadion Kaharudin Nasution keluhkan banyaknya pungutan dari panitia dan Pemerintah terhadap mereka yang berjualan saat perhelatan Pekan Olahraga Nasional tersebut.

Adapun pungutan tersebut menurut beberapa pedagang mulai dari pungutan untuk uang kebersihan yang mengatasnamakan Dinas Kebersihan, pungutan Keamanan dari Pemuda dan uang setoran buat panitia perhari.

Padahal dari awal pedagang tersebut sudah membayar biaya sewa tempatnya selama acara PON berlangsung kepada Panitia, sewa tempat tersebut bervariasi tergantung ukuran. Mulai dari Rp.700 ribu hingga Rp.4 juta selama PON. Akibat banyaknya pungutan tersebut beberapa pedagang memilih untuk berhenti berjualan dilokasi pertandingan itu.

"Untung sehari saja pendapatan kami nggak sampai dengan pungutan yang dipungut. Makanya pedagang lain banyak yang tutup. Nggak ada hasilnya jualan disini,"ujar Rizal seorang penjual minuman dan rokok di areal Stadion Kaharudin Nasution.

Para pedagang tersebut meminta pungutannya dikurangi jadi Rp 5000 setiap hari namun panitia dan petugas kebersihan lainnya tidak mau dikurangi, sementara bukti pembayaran ataupun kwitansinya tidak pernah didapat pedagang tersebut. "Kata petugasnya untuk kebersihan, sementara lingkungan ini tidak pernah dibersihkan. Petugas hanya bersihkan dipinggir jalan saja. Lokasi jualan kami sendiri yang bersihkan,"ujar Rizal sambil menunjuk sapu yang berada di kedainya tersebut.

Rizal dan beberapa pedagang lainnya mengaku sangat kecewa dengan sikap para oknum yang mengatasnamakan panitia dan pemerintah tersebut, karena mereka menilai sama saja menindas masyarakat kecil bukan membantu masyarakat kecil.

"Katanya membantu ekonomi masyarakat kecil saat PON ini tapi kok membunuh masyarakat jadinya kalau seperti ini,"ujar Rizal.

Selain Rizal, Hanum seorang janda yang berjualan di lokasi pertandingan juga mengaku sangat kecewa dengan banyaknya pungutan oleh petugas kepada para pedagang tersebut. Menurut ibu dua anak ini, tindakan yang dilakukan oleh petugas sudah berlebihan.

"Kalau seharinya Rp.5000 wajar-wajar saja, kami tidak keberatan. Tapi kalau nyampe 30 ribu sehari mau apa lagi kami. Sedangkan pendapatan sehari aja cuma segitu,"ujarnya. Akibat tindakan para petugas dan panitia PON tersebut saat ini pantauan Tribun terlihat beberapa kios tempat berjualan warga sudah banyak ditinggal pedagangnya.

Kemudian, pemandangan aneh juga terlihat di stan-stan yang didirikan panitia hampir lebih dari setengah stan tersebut tidak ada isinya, alias tidak ada yang berjualan, hal ini disebabkan tingginya harga yang dipatok oleh panitia. Adapun harga yang dipatok panitia tersebut dikisaran harga mulai dari Rp.3 juta hingga Rp 5 juta.

Padahal dari awal Panitia sudah menargetkan lebih dari 250 stan akan diisi oleh UKM-UKM yang ada di Pekanbaru, baik itu Souvenir, kuliner dan jajanan lainnya. Namun rencana tersebut hanya berpihak kepada kepentingan segolangan pihak tanpa memikirkan kepentingan masyarakat kecil yang ingin meraup keuntungan saat PON.

"PON yang katanya membantu ekonomi masyarakat kecil tidak ada buktinya, cuma omongan belaka, kenapa juga harus kami yang diberatkan terus,"ujar Amri yang juga pedagang di Areal Sport Center Rumbai.

Sementara itu, Panitia pelaksana Bidang promosi dari PBPON, Dewi mengatakan sejauh ini pihak Panitia tidak pernah memungut biaya apapun kepada para pedagang yang berada di luar areal stan yang disediakan oleh PBPON.

"Kami dari Panitia PBPON hanya menyediakan stan yang sebelum-sebelumnya sudah di pesan oleh pedagang dan sudah didaftarkan. Tenda kami berwarna putih kerucut, Kalau selain itu bukan wewenang kami, jikapun ada yang meminta itu oknum,"ujar Dewi kepada Tribun.

Dewi juga mengakui jika stan-stan selain milik panitia PON tersebut sebelumnya mau digusur karena dianggap ilegal dan tidak sah dari PBPON.

"Kita sudah menyediakan stan-stan untuk pedagang yang ingin berjualan harga stannya dimulai dari Rp.3 juta hingga Rp. 5 juta dan yang diluar kawasan kita itu bukan wewenang panitia. Jika ada pungutan setiap hari yang mengatasnamakan Panitia itu berarti oknum,"ujar Dewi.

Sumber : pekanbaru.tribunnews
Share this article :
 
Support : http://mutiara-florist.blogspot.com | www.pendidikanriau.com
Copyright © 2014. ARMEN SAPUTRA, S.Kom - Hak Cipta Dilindungi UU