Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie (Ical), mengancam akan memberhentikan kadernya jika mencalonkan diri sebagai presiden yang diusung oleh partai politik lain. Hal itu juga dibenarkan oleh Ketua DPP Partai Golkar Hajriyanto Tohari. Yang mengejutkan adalah ancaman pemecatan tersebut juga seakan tertuju pada mantan Ketua Umum Partai Golkar Jusuf Kalla (JK). Pasalnya, JK yang juga mantan wakil presiden tersebut dikabarkan telah diincar oleh beberapa partai untuk diusung dalam Pilpres 2014 mendatang.
"Dalam AD/ART disebutkan bahwa anggota Partai Golkar itu berhenti karena meninggal dunia, mengundurkan diri dan diberhentikan. Diberhentikan itu ada beberapa syarat. Salah satunya adalah tidak mentaati keputusan munas dan rapimnas," ujarnya kepada wartawan di DPR, Jakarta, Rabu (18/7/2012).
Dalam peraturan yang lama, kata dia, terdapat mekanisme tata urut proses dimana pihak yang bersangkutan diberikan kesempatan untuk melakukan pembelaan diri dalam sebuah forum untuk memberikan penjelasan.
Namun, sambung Hajriyanto, dalam Rapimnas Partai Golkar beberapa waktu lalu dibuat keputusan baru dimana proses itu lebih dipertegas. "Tidak menggunakan forum dimana yang bersangkutan dapat menyampaikan pembelaan terhadap keputusan itu. Keptusan itu bisa diambil begitu saja oleh DPP," sambung Wakil Ketua MPR ini.
Sementara itu, saat dikonfirmasi terkait hal ini, JK terkesan tenang, santai, dan bahkan tidak terlalu serius untuk menanggapinya. Hajriyanto berpendapat sangat wajar jika JK sangat tenang dalam menyikapi hal itu. "Saya rasa untuk tokoh sekaliber Pak JK kan sudah tokoh nasional, tokoh bangsa, dan karena itu untuk seorang dengan kapabilitas Pak JK itu sudah lintas partai. Jadi wajar sekali kalau Pak JK itu tidak terlalu serius menanggapi ancaman sanksi tersebut," pungkasnya.
Kekalahan Partai Golkar dalam Pemilihan Presiden 2004 dan 2009 berpotensi terulang pada Pemilu 2014. Sebab, kemungkinan besar tidak hanya satu kader Golkar yang akan ikut bertarung memperebutkan kursi RI 1 dan RI 2. Praktis, bila dibiarkan begitu saja, situasi semacam ini bisa mengakibatkan suara partai berlambang pohon beringin di level akar rumput terbelah. "Ketakutannya itu lebih pada trauma masa lalu. Dalam dua kali pemilihan presiden 2004 dan 2009 Golkar mengalami kekalahan. Kekalahan itu akibat dari tidak adanya soliditas partai. Itu tesis utamanya. Trauma itulah yang dijadikan tesis penting dalam rapimnas," terang Ketua DPP Partai Golkar, Hajriyanto Tohari, kepada wartawan di DPR, Jakarta, Rabu (18/7/2012).
Sehubungan dengan kemungkinan munculnya situasi semacam ini, jauh-jauh hari Partai Golkar telah menetapkan Aburizal Bakrie sebagai calon presiden. Sehingga mesin partai bisa melakukan sosialisasi secara massif hingga level paling bawah.
Hajriyanto mengaku tidak terlalu takut dengan potensi adanya perpecahan suara atau dukungan bila terdapat kader lain yang maju sebagai capres atau cawapres. Dia berdalih, ketokohan seseorang yang akan menjadi penentu kemenangan dalam Pilpres. "Pilpres itu kan faktor figur yang terpenting. Karena itu maka mobilisasi parpol berhasil atau tidaknya tergantung pada figur yang diusung," ungkapnya.
Namun, belakangan Partai Golkar juga melakukan pemantauan terhadap kemungkinan Jusuf Kalla diusung partai lain menjadi capres atau cawapres pada Pemilu 2014 mendatang. Sehingga bisa dibuat formula khusus untuk tidak mengulang kekalahan Golkar pada Pilpres 2004 dan 2009. "Karena kita tahu Pak JK juga masih melakukan penjajakan dengan partai lain. Parpol-parpol yang menyebut nama Pak JK juga masih penjajakan. Bahkan juga ada yang masih sebatas wacana," kata Hajriyanto.
sumber : news.okezone.com
