Masjid Sejarah, begitulah kadang orang mengenalnya yang terletak di Kecamatan Senapelan Pekanbaru. Masjid di pinggiran sungai Siak ini, sudah ada sejak zaman kesultanan Siak sekitar ratusan tahun yang lalu. Masjid ini dibangun atas sumbangan masyarakat Pekanbaru tempo dulu. Lokasi masjid ini dikelilingi sejumlah ruko dan berdekatan dengan Pasar Bawah atau pasar wisata yang menyajikan berbagai barang asal luar negeri itu. Tiga tahun sudah renovasi Masjid Raya Pekanbaru berjalan. Namun hingga tahun ketiga ini, proses renovasi masjid ini belum juga selesai.
Masjid ini dianggap masjid sejarah karena tidak terlepas semasa kesultanan Siak ke IV dan ke V ketika memindahkan pusat kerajaan dari Mempura (Kabupaten Siak) ke Senapelan yang belakangan disebut Pekanbaru.
Masjid ini masuk salah satu cagar budaya yang mestinya dilestarikan. Sayangnya, semasa kepemimpinan Herman Abdullah sebagai Walikota Pekanbaru yang menjabat dua kali berakhir pada tahun 2011 lalu merenovasi habis bangunan itu. Renovasi ini memang menuai pro dan kotra di kalangan masyarakat. Mengingat nyaris sisa dari masjid kuno ini hanyalah tiang-tiang panjang yang kini berada di tengah masjid. Seluruh bangunannya utamanya sudah tidak tersisa lagi.
Masjid ini pun dipoles sedemikian apiknya dengan luas lebih dari 40 meter per segi itu hingga kini masih terbengkalai. Sudah tiga kali puasa dan akan memasuki tiga lebaran pula, masjid ini masih ngangkrak. Tak jelas apa masalahnya, hingga begitu lamanya menuntaskan renovasi masjid tersebut. “Sudah tiga tahun masjid ini tak rampung juga. Apa masalahnya kita kurang tahu, Memang, andaikan masjid ini rampung, tentunya enak untuk dipandang. Dinding luar dan dalam masjid ini, dibentuk relif bercorak kaligrafi melayu. Begitu juga dengan langit-langit masjidnya juga berkaligrafi yang terlihat belum rampung diselesaikan.
Masjid ini di rombak total dari bentuk awalnya sehingga nyaris tidak menyisahkan bukti sejarahnya jika masjid ini telah berusia lebih dari 100 tahun. Lantai satu dan dua sama sekali belum dikeramik. Tiang-tiang penyanggah yang tersisa dari bangunan lamanya terpajang di bagian tengah. Masih terlihat kayu-kayu bangunan yang mengapit tiang-tiang tersebut yang menunjukan pekerjaan belum tuntas. Lantainya pun berdebu di sana-sini.
Pemerintah Kota Pekanbaru dan Pemprov Riau memang berencana menjadikan masjid ini sebagai bukti sejarah yang akan dipoles sedemikian apik. Rencananya, dari batas jalan hingga mencapai ke sungai Siak, akan dijadikan satu kawasan cagar budaya. Bangunan masjid ini nantinya akan memiliki lahan parkir bawah tanah. Di sebelah masjid, terdapat makan para Sultan Siak yang menggagas Pekanbaru menjadi nama ibukota Riau. Dulunya, kesultanan ini dikenal berada di bukit Senapelan, karena memang keberadaan masjid dan rumah sultan berada di atas bukit tersebut.
Di pinggiran sungai Siak inilah, sultan membuka perdagangan di sungai Siak yang diadakan sepekan sekali. Perdagangan yang dibuka sultan ini tidak hanya mencakupi perdagangan lokal, melainkan internasional. Para saudagar Timur Tengah, Malaysia dan sejumlah negara Eropa lainnya singgah di pekan tersebut. Munculnya pekanan yang baru di kawasan Senapelan, membuat denyut nadi perekonomian masyarakat setempat terus berkembang. Dari sanalah maka muncullah nama Pekan dan Baru artinya ada pekanan baru. Dari kata Pekan dan Baru akhirnya dijadikan nama ibukota Riau, Pekanbaru.
Kembali ke persoalan bangunan masjid tersebut, wajar jika sekarang banyak masyarakat mempertanyakan mengapa begitu lamanya untuk merampungkan bangunan yang terbengkalai itu. Pemeritan setempat terkesan seakan tidak bertanggungjawab atas idenya yang merenovasi masjid Raya Pekanbaru itu.
Kini masjid yang penuh sejarah berdirinya ibukota Riau itu pun ngangkrak tak jelas kapan akan dituntaskan. Masjid Raya Pekanbaru sudah tiga kali puasa dan akan tiga kali lebaran nanti juga tak kunjung selesai renovasinya. Nasibmu, wahai masjid yang penuh dengan sejarah kebesaran Islam di bumi Kota Bertuah.
sumber : detikRamadan
