Pihak
pro rokok mengatakan bahwa pemerintah sangat menekan kepentingan petani
rokok, sedangkan para penggiat antirokok mengatakan bahwa aturan
tersebut sangat ringan dan tidak ada apa-apanya bila pemerintah
berkeinginan menekan bahaya dampak buruk rokok bagi bangsa ini. Sebenarnya,
substansi utama RUU ini sering disalahartikan secara paranoid bahwa
akan membunuh kepentingan para petani tembakau. Misi utama RUU tersebut
yang harus disosialisasikan adalah dampak buruk rokok bagi masyarakat
yang sehat dan non perokok khususnya anak, remaja, ibu hamil dan orang
sehat lainnya. Dua pihak pihak saling berkontroversi itu diikuti
pro kontra masyarakat lainnya. Pro Rokok pasti diikuti oleh orang yang
terancam kenikmatan dan kehidupan ekonominya. Sedangkan kelompok
antirokok bukan demi kepentingan individu tetapi demi kepentingan dan
kepedulian kesehatan orang lain khususnya orang bukan perokok yang
terancam bahaya dampak rokok khsusnya anak, ibu hamil dan orang sehat
lainnya. Beda pendapat tersebut tidak akan pernah berujung.
Masing-masing mengemukakan argumentasi yang berbeda dan berseberangan.
Para perokok dan produsen rokok sebagai pihak yang pro rokok karena
terdesak kenikmatan dan kehidupan ekonominya melakukan segala cara untuk
mempertahankan diri.
Karakteristik umum pihak ini selalu
paranoid, melakukan analogi yang tidak rasional, tidak ilmiah dan
cenderung menyalahkan fakta ilmiah yang telah dilakukan oleh para ahli
kesehatan dunia di bidangnya. Sehingga demi kenikmatan pribadinya,
mereka cenderung melakukan pembelaan diri dengan melakukan kampanye
hitam "Merokok itu Aman dan Sehat" yang justru akan menjeremuskan
masyarakat ke dalam bahaya yang lebih besar.
RUU Pengendalian Dampak Produk Tembakau Terhadap Kesehatan (RUU
PDPTK) yang telah diajukan pemerintah untuk disetujui DPR periode
2004-2009 belum juga disahkan dan terus bergulir menjadi kontroversi.
Hal ini karena mendapat intervensi dan tekanan dari berbagai pihak.
Sedangkan pihak
antirokok dengan kepedulian sosialnya juga melakukan kampanye kepada
masyarakat. Meski kelompok terakhir ini kadang juga menggunakan
rasionalistas yang tidak ilmiah, tetapi sebagian besar mereka merujuk
kepada para ahli kesehatan.
Setidaknya ada 10 kampanye hitam melawan kampanye bahaya rokok yang kerap dilancarkan para pendukung rokok :
1.
Pemerintah dan Organisasi Anti Rokok hanya mengurusi rokok padahal
banyak masalah kesehatan dan masalah bangsa lainya yang belum diurusi.
Perokok selalu curiga dan paranoid setiap masalah merokok selalu diangkat sebagai hal yang menganggu kesehatan. Para
merokok selalu berdalih bahwa mengapa kolesterol, alkohol, korupsi,
kecelakaan lalu lintas atau berbagai hal yang mengancam jiwa lainnya
tidak diurus. Tetapi hanya rokok yang selalu disorot dan dijadikan
kambing hitam. Hal ini merupakan sifat mekanisme pembelaan diri yang
paling sering dialami bila seseorang terdesak apabila kenikmatan
kehidupan dan penghasilan hidupnya terancam. Karena mekanisme
pembelaan diri inilah, seringkali para perokok atau produsen rokok
sering paranoid dan memberikan argumen yang tidak rasional ketika
kenikmatannya terancam. Mereka selalu menyalahkan fakta ilmiah yang ada
bahwa memang rokok berbahaya mereka selalu mengatakan fakta atau opini
dengan berdasarkan "katanya" atau "kata seseorang" atau mungkin menunjuk
kasus per kasus bahwa seorang kasus tidak apa dan sehat selama puluhan
tahun meski merokok.
Kampanye anti rokok selama ini justru
bergerak pada sasaran orang yang sehat yang belum terpapar rokok yang
terancam terkena rokok. Karena untuk menyadarkan para perokok sangat
sulit dan sudah tidak bisa lagi. Mungkin para perokok hanya bisa
disadarkan bila musibah sudah mulai terjadi pada dirinya dan berdampak
pada anggota keluarganya.
2. Rokok membantu petani tembakau dan kepentingan bisnis Amerika menghancurkan rokok Indonesia.
Sebagian
pihak mencurigai sebagian dana asing membantu yayasan nirlaba untuk
bergerak social dalam bidang anti rokok. Tetapi bila hal itu benar dan
demi kesehatan bangsa ini, maka sebaiknya para perokok dan produsen
rokok harus bisa menyadari. Kalaupun itu berdampak pada produksi rokok
nasional adalah dampak akhir yang bisa terjadi. Sebaliknya, para
perokok tidak menyadari telah dimanfatkan produsen rokok yang selalu
mengatakan demi membantu kehidupan petani tembakau. Saat
regulasi merokok diatur demi kesehatan orang yang bukan perokok para
produsen rokok belingsatan dan meradang. Para perokok selalu saja
paranoid dengan mengatakan bahwa RUU pengendalian tembakau disponsori
oleh kepentingan bisnis luar negeri.
Bila hal ini benar demi
kesehatan masyarakat Indonesia mengapa perokok masih resah. Tetapi
sebaliknya para perokok tidak disadari telah dimanfaatkan para produsen
rokok dan dengan dalih demi kepentingan petani tembakau. Indonesia
adalah "surga bagi perokok dan produsen rokok, neraka bagi orang yang
tidak merokok". Padahal, faktanya duapuluh tahun belakangan jumlah
produksi rokok meningkat sangat pesat tetapi jumlah produksi tembakau
nasional tetap.
Hal ini terjadi karena import tembakau semakin
besar. Impor tembakau oleh produsen rokok Indonesia telah dilakukan
beberapa tahun terakhir sebesar 30% dari total kebutuhan. Produksi
tembakau domestik hanya men-support suplai 70% terhadap kebutuhan
tembakau sebagai bahan baku rokok. Para produsen rokok semakin
kaya tetapi kehidupan petani rokok justru semakin merosot kualitas
tembakaunya lebih mahal dan kualitasnya lebih buruk dibandingkan
kualitas impor seperti dari Brazil dan Cina. Selain itu karyawan buruh
rokok linting sudah banyak di PHK dengan diganti mesin canggih demi
efisiensi biaya dan mengeruk keuntungan lebih besar lagi.
3. Perokok berat merasa sehat buktinya beberapa kali foto Rontgen normal.
Perokok
menganggap dirinya sehat setelah beberapa kali mengalami foto rontgen.
Inilah salah satu kesalahan terbesar para perokok. Rokok
dapat menyebabkan gangguan pembuluh darah yang dapat berakibat stroke,
jantung, impotensi, kanker paru atau gangguan kanker lainnya. Dalam
tahap awal gangguan yang diakibatkan rokok mungkin hanya menganggu
pembuluh darah atau permukaan saluran napas atas . Dalam keadaan seperti
ini foto rontgen normal. Saat terjadi gangguan pembuluh darah
mungkin para perokok tidak mengalami gangguan sedikitpun atau mungkin
hanya gangguan ringan seperti nyeri dada, sakit kepala atau badan lemah
dan hal ini dianggap hal lain seperti kecapekan atau masuk angin..
Itulah sebabnya mengapa banyak orang sakit jantung meninggal mendadak
saat melakukan medical check up normal dan merasa tidak mengalami
gangguan penyakit sebelumnya.
Sedangkan untuk kanker paru awalnya
juga tidak didapatkan gangguan sedikitpun pada foto rontgen dan paru.
Banyak penderita kanker paru justru sudah ketahuan menjalar ke seluruh
organ tubuh, hanya di awali dengan keluhan batuk-batuk ringan. Gangguan
permukaan saluranaan nafas yang dialami para perokok hanya mengalami
batuk ringan dan dalam keadaan ini foto paru bahkan CT Scan masihn
sangat bagus dan normal. Disamping itu banyak perokok saat mengalami
batuk lama, sesak, impotensi atau badan lemah mengingkari hal itu bukan
karena rokok tetapi karena terlalu capai, stres atau mekanisme pembelaan
diri lainnya.
4. Rokok Aman Bagi Kesehatan
Sebagian
besar perokok selalu dengan bangganya masih menganggap bahwa merokok
itu aman dan sehat. Dengan jumawanya perokok mengatakan, saya lebih
sehat dibandingkan tetangga saya yang kemarin mati muda tetapi bukan
perokok. Hal tidak rasional inilah yang sering diungkapkan para perokok.
Perokok tidak menyadari mungkin saja dengan kondisi fisik yang sama
dengan orang sehat lainnya perokok tersebut biasa akan mati 15 tahun
lebih dulu. Atau bila dibandingkan orang sehat lainnya yang bukan
perokok maka kecepatan lari dan kekuatan fisiknya akan kalah jauh.
Banyak penelitian dan dokter memastikan bahwa rokok itu berbahaya. Ratusan
penelitian yang telah diakui kevalidannya di dunia ilmiah elah banyak
riset yang membuktikan bahwa rokok sangat menyebabkan ketergantungan, di
samping menyebabkan banyak tipe dan jenis kanker, penyakit jantung,
penyakit pernapasan, penyakit pencernaan, efek buruk bagi kelahiran,
emfisema, dan memperberat penyakit lainnya. Penelitan banyak
menunjukkan bahwa perokok pasif bisa terkena dampak kesehatan sama
dengan perokok aktif. Uniknya dibalik pendapat "ngawur" yang keluar dari
mulutnya bahwa rokok aman, tetapi sebagian para perokok takut merokok
di dekat anaknya sendiri. Meski sebagian kecil orangtua masih ada yang
tidak peduli tetap merokok terus di dekat anak dan cucunya. Tetapi
sebgian para perokok yang egois atau memang benar-benar tidak tahu itu
memang tidak peduli kesehatan orang lain di sekitarnya saat dia merokok
dalam ruangan, dalam kendaraan umum, atau dalam rumah makan yang banyak
terdapat anak, ibu hamil dan orang sehat bukan perokok lainnya.
5. Rokok belum terbukti sebagai penyebab kanker.
Banyak para perokok masih tidak yakin bahwa rokok dapat menyebabkan kanker. Bahkan
sebagian kelompok kampanye hitam rokok mengatakan bahwa penelitian
rokok penyebab kanker adalah bohong besar. Sebagian lainnya mengatakan
sebaliknya bahwa rokok sebagai anti kanker karena terdapat zat
antikarsinogenik. Memang mungkin saja ada kandungan baik hijaunya
daun segar tembakau bila diteliti. Tetapi saat berupa asap rokok akan
banyak didominasi ratusan bahan karsinogenik lainnya. Perokok sering
menganalogikan bahwa menteri kesehatan atau si Ponari tetangga sebelah
meninggal karena kanker paru juga bukan perokok. Tetapi dengan contoh
kasus perkasus seperti itu, tidak bisa disimpulkan bahwa rokok bukan
penyebab kanker.
Analogi salah lainnya, sebagian besar orang
meninggal sakit jantung dengan kolesterol yang normal. Tetapi mereka
tidak tahu bahwa sebagian besar penderita kanker paru adalah perokok.
Memang kanker paru dan penyakit jantung disebabkan berbagai faktor bukan
hanya rokok. Faktor penyebab lainnya termasuk kolesterol, diabet,
genetik atau faktor lainnya. Sudah puluhan atau mungkin ratusan
penelitian yang dilakukan dengan benar secara ilmiah telah menunjukkan
bahwa rokok penyebab kanker dan dampak kesehatan lainnya. Sebagian
besar penelitian yang telah dipublikasikan di jurnal online pubmed
tentunya sudah berdasarkan kaidah penelitian yang baik dan benar dengan
memperhitungkan bukan hanya rokok sebagai penyebab tetapi berbagai
faktor resiko atau penyebab lainnya dan juga dibandikan dengan kelompok
orang sehat. Risiko kematian akibat kanker paru-paru pada laki-laki yang
merokok lebih besar 23 kali sedangkan untuk wanita yang merokok sebesar
13 kali lipat dan sepertiga dari perokok tersebut meninggal dengan
rata-rata waktu meninggal 15 tahun lebih cepat dibandingkan yang tidak
merokok. Hal ini didukung oleh ratusan penelitian ilmiah lainnya
6. Perokok adalah bentuk kemerdekaan seseorang.
Perokok dengan bangganya bahwa merokok merupakan bentuk kemerdekaan seseorang dan tidak melanggar hak asasi. Para
perokok dianggap sebagai orang yang merdeka karena mereka berani
menempuh bahaya dibandingkan orang lain. Padahal bagi orang rasional
mungkin secara ektrim perokok bukan orang yang merdeka tetapi orang
nekat dan tidak waras karena berani bertarung nyawa. Perokok
menganggap dirinya merdeka bisa menghisap asap rokok dengan menganggu
kemerdekaan orang yang butuh udara sehat. Tidak disadari para perokok
justru hanya mengagungkan hak asasi pribadi dengan mengorbankan hak
asasi orang lain dengan merokok di sembarang tempat. Bahkan sebagian
lain para perokok sudah keblabasan ketika ditegur merokok di sembarang
tempat dan menganggu sekitarnya menjadi amrah.
Inilah bentuk
ketidakwarasan para perokok yang dilabelkan banyak orang ketika mereka
terganggu ulah perokok. Beranikah para perokok menyuruh anak
perempuannya untuk merokok sebagai bentuk kemerdekaan perempuan. Bahkan
para perokok dengan egoisnya sering mengatakan mengapa anda tidak
mengingatkan ketika saya makan makanan mengandung kolesterol. Substansi
utamanya bila memang perokok tidak bisa disadarkan bahwa rokok berbahaya
tidak usah menggunakan berbagai istilah yang tidak rasional. Tetapi
bila itu tidak bisa disadarkan sebaiknya kampanye anti rokok ini hanya
untuk menyelamatkan yang bukan perokok dengan jangan merokok di dekat
orangn lain. Seharusnya mereka berterimakasih dengan orang lain yang
mengingatkan dan peduli dengan kesehatannya. Tetapi hal itu dijawab
dengan cemoohan dan ketidak pedulian terhadap orang di sekitarnya
7. Perokok dianggap melestarikan kebudayaan bangsa
Benarkah
merokok adalah budaya Indonesia? Sesungguh budaya merokok justru datang
dari Amerika. Budaya merokok sebenarnya berasal dari Amerika. Merokok
untuk pertama kalinya adalah suku bangsa Indian di Amerika, untuk
keperluan ritual seperti memuja dewa atau roh. Pada abad 16, ketika
bangsa Eropa menemukan benua Amerika, sebagian dari para penjelajah
Eropa itu ikut mencoba-coba menghisap rokok dan kemudian membawa
tembakau ke Eropa. Kemudian kebiasaan merokok mulai muncul di kalangan
bangsawan Eropa. Tapi berbeda dengan bangsa Indian yang merokok untuk
keperluan ritual, di Eropa orang merokok hanya untuk kesenangan
semata-mata. Abad 17 para pedagang Spanyol masuk ke Turki dan saat itu
kebiasaan merokok mulai masuk negara-negara Islam. Rokok tanpa filter
atau kretek bukan hanya milik bangsa ini.
Jaman dahulu para
merokok menggunakannya tanpa filter atau cerutu. Tetapi dengan semakin
majunya pengetahuan disadari berbahaya akhirnya rokok tanpa filter sudah
mulai ditinggalkan. Sayangnya, bangsa ini masih terlena oleh budaya
kuno Amerika yang sudah mulai ditinggalkan tetapi tetap terus
dibudayakan di negeri ini dengan tetap meyakini bahwa kretek adalah
budaya bangsa.
Tetapi apabila para perokok tetap bersikeras
menganggap sebagai budaya bangsa seharusnya bila budaya tersebut
mengganggu kehidupan dan kualitas hidup bangsa apakah harus mati-matian
dipertahankan demi harga diri bangsa. Sama juga dengan budaya negatif
bangsa ini lainnya, seperti minum tuak, tari dangdut porno, budaya tidak
disiplin atau budaya korupsi.
Bangsa besar ini memang harus
mati-matian mempertahankan budaya tinggi bangsa ini. Tetapi jangan
terlalu bangga dengan budaya buruk bangsa ini. Para perokok selalu
paranoid bahwa mereka dipengaruhi oleh tekanan asing untuk menghenntikan
kebiasaan merokoknya. Tetapi tidak menyadari bahwa budaya buruk merokok
itu justru datang dari Amerika dan saat ini kalau ada orang Amerika
yang menghentikan budaya buruk mereka tersebut malah dicurigai membunuh
budaya Indonesia.
8. Perokok sebagai penyumbang terbesar negara sebagai cukai rokok.
Pendapat
klasik inilah yang selalu timbul ketika rokok diusik sebagai bahan
berbahaya. Cukai rokok yang diterima oleh negara tidak sebanding dengan
biaya kesehatan yang harus dibayar oleh negara dan masyarakat akibat
rokok. Cukai produk tembakau seperti rokok sekitar Rp 40 triliun tahun
2006 dan Rp 77 triliun tahun 2011. Namun, pendapatan APBN tersebut
sangatlah kecil bila dibandingkan dengan uang yang harus dikeluarkan
untuk biaya pengobatan penyakit akibat rokok. Biaya kesehatan yang harus
ditanggung oleh masyarakat akibat rokok diperkirakan sebesar Rp 120 -
180 triliun. Bila seluruh pengobatan nantinya akan dibiayai oleh Jaminan
Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas), maka Jamkesmas harus menanggung Rp 80
triliun sisa biaya pengobatannya.
9. Rokok dapat digunakan sebagai obat.
Para
perokok bak "ahli kesehatan" mengatakan dengan seuara percaya diri
bahwa secara tradisonal rokok kretek adalah baik untuk kesehatan. Bahkan
perokok dengan bangganya mengatakan bahwa "katanya" banyak dokter yang
mengatakan bahwa rokok bisa jadi obat. Dengan bangganya mperokok
mengatakan, bahwa "katanya" dokter yang praktek di Salemba telah
melakukan praktek dengan melakukan terapi rokok untuk menyembuhkan
kesehatan.
Tidak ada penelitian satupun yang menunjukkan bahwa
merokok dapat terbukti sebagai obat. Isu bahwa rokok untuk baik
kesehatan itu dicurigai dihembuskan oleh berbagai pihak khususnya
produsen rokok yang justru menyesatkan para perokok. Jadi, kalau ada
dokter yang berpraktek terapi rokok untuk menyembuhkan penyakit pasti
akan ditindak oleh Komisi Etik Ikatan Dokter Indonesia karena menyalahi
kaidah ilmu kedokteran karena menyesatkan dan membahayakan penderita.
Kalaupun
ada penelitian mungkin saja tembakau atau bahan narkoba yang digunakan
sebagai obat tetapi bukan dalam bentuk rokok tetapi dalam bentuk
tembakau segar dan dalam jumlah yang berlebihan. Justru tidak bisa
dibantahkan osedikitpun bahwa hampir semua penelitian tentang rokok
menunjukkan dampak buruk rokok bagi kesehatan.
10. Fidel Castro sudah tua perokok berat masih sehat-sehat saja.
Dokter
dan orang kesehatan di dunia bohong besar dan tidak tahu apa tentang
bahaya merokok. Buktinya Fidel Castro sudah tua perokok berat masih
sehat-sehat saja. Beberapa orang perokok bahkan dengan kasar dan "sok
pintar" sering menuduh bahwa dokter tidak tahu apa-apa tentang
kesehatan. Buktinya Fidel Catro, Mao Ze Dong atau Mbah Parto kakeknya
telah berusia 60 tahun telah merokok tetapi sampai sekatrang masih hidup
sehat.
Dengan sombongnya para perokok mengatakan bahwa tetangga
saya bukan perokok meninggal dalam usia muda sedangkan saya sehart-sehat
saja. Memang banyak faktor mengapa seseorang mengalami usia panjang.
Ternyata beberapa gen dalam setiap individu juga berperanan mengapa
seseorang dapat tahan dengan berbagai penyakit dan paparan berbahaya di
sekitarnya. Tetapi bila ini terjadi bisa saja kelompok ini mungkin Fidel
Castro, Mao Ze Dong atau Mbah Parto meski perokok baru meninggal usia
90 tahun tetapi mereka tidak menyadari bahwa teman Fidel Castro yang
bukan perokok baru meninggal usia 105 tahun atau 15 tahun lebih lama
hidup di dunia.
Penelitian telah membuktikan bahwa diantara ribuan
orang yang diteliti usia perokok 15 tahun lebih muda dibandingkan bukan
perokok. Sebaliknya dalam kelompok yang rentan bisa saja berumur tidak
panjang bila terjadi paparan bahan berbahaya di lingkungannya. Bila
pendapat ini terekam oleh otak kelompok individu yang rentan, maka
hidupnya akan seumur jagung padahal ingin hidup seperti Fidel Castro.
Tua, kaya raya, banyak isteri dan merokok banyak secara bebas.
sumber : kompas.com
