Kisah Toni, Operator Mesin Keruk di Jalan

Rabu, 23 Januari 20130 komentar

Beghu yang digunakan untuk merapikan tanggul jebol (Foto: Bagus S/Okezone)
Lima hari ini, Toni Hutapea (35), harus bolak-balik dari Bulak Kapal, Bekasi ke Jalan Latuharhary, Jakarta Pusat. Namun, Selasa malam merupakan waktu terakhir dia berada di Jalan Latuharhary. Wajahnya tampak sumringah, dengan mengenakan pakaian rapi, kemeja biru dan celana bahan hitam, dia bercerita soal pekerjaannya.

"Malam ini saya akan pulang," kata Toni mantap, saat ditemui di Jalan Latuharhary, Selasa 22 Januari malam.

Tak jauh dari tempat Toni bercerita, tujuh excavator berjejer. Alat berat pengeruk tersebut terparkir rapi di bantaran Kali Ciliwung, tepat di bawah fly over Latuharhary. Berlumpur dan kotor akibat tanah yang basah. 

Bukan tanpa sebab alat yang dikenal dengan nama Beghu tersebut terparkir di tempat itu. Sejak Rabu pekan lalu, alat-alat berat ini memang disiagakan untuk merapikan tanggul Kali Ciliwung yang jebol. Tanggul yang disebut-sebut menjadi petaka banjir di pusat Ibu Kota, terutama Bundaran Hotel Indonesia. 

Rabu (23/1/2013), alat berat tersebut urung digunakan dan akan dipulangkan. Pembenahan tanggul yang jadi tugas alat berat ini, kini hampir rampung. Tinggal polesan tangan-tangan terampil hingga tanggul tersebut 100 persen berfungsi menahan arus Kali Ciliwung.

Tidak mudah mengeruk tanah, batu dan pasir menggunakan Beghu. Toni, merupakan salah satu yang andal mengoperasikan alat tersebut. Tangannya sudah hafal betul untuk menggerakan delapan tuas yang ada di ruang kemudi. Empat di kanan dan empat di kiri. Naik-turun, tarik-ulur, tutup-buka danswing (putar) kiri-kanan.

"Susah-susah gampang sih mengoperasikannya," jelas Toni.

Sejak 2000, Toni akrab dengan alat-alat seperti ini. Bukan hanya Beghu yang biasa dia gunakan, tapi juga alat berat lainnya, seperti crane atau bulldozer. Pekerjaan itu dipilih untuk menghidupi keluarganya dan menyekolahkan anak perempuan yang kini duduk di kelas empat SD, serta membeli susu untuk anak laki-laki yang berumur tiga tahun. Dan alasan penting lain adalah, karena inilah keahliannya.

Tono menceritakan, awalnya dia hanya seorang kenek Beghu atau navigator alat berat. Tugas Toni saat itu hanya memberitahukan arah kepada operator, kapan Beghu mengeruk, dan kemana membuang. Namun lama kelamaan, dia memperhatikan cara mengoperasikannya dan belajar. Hingga akhirnya andal mengoperasikan alat tersebut.

Di Jalan Latuharhary, dia bekerja hampir 24 jam, dari pukul 7.00 WIB hingga keesokan harinya pukul 04.00 WIB, tentunya sudah termasuk waktu istirahat. Sejak Jumat pekan lalu, dia membantu menangani masalah tanggul jebol ini. Setelah pekerjaannya selesai, dia pun pulang menemui dua anaknya. Keesokan harinya, dia pun kembali bekerja.

"Kerjanya shift-shift-an, kalau sudah selesai ya saya pulang. Soalnya di sini nggak ada tempat untuk tidur," ujarnya.

Dia memang biasa bekerja dalam proyek-proyek pembangunan dan ahli dalam keruk-mengeruk tanah. Namun, penanganan tanggul jebol Latuharhary ini merupakan salah satu pekerjaan yang dia sebut sulit. Lokasi yang sempit, tepat di bawah fly over Latuharhary, dan banyaknya kabel yang terburai membuat dia harus bekerja ekstra hati-hati.

"Di sini cukup sulit, karena banyak kabel, takut nyangkut kan," ujarnya.

Meski tangannya sempat mengalami kecelakaan, namun dia tidak kapok mengoperasikan alat berat ini. Dua jari tangan kanannya terputus satu ruas, yakni jari tengah dan manis.

Pada 2004 lalu, saat banjir bandang di Subang, Jawa Barat, dia kehilangan dua ruas jarinya. Saat itu, dia diperbantukan untuk mengoperasikan Beghu untuk memperbaiki tanggul jebol. Namun, air bah tiba-tiba datang. Dia yang berada di dalam Beghu harus menyelamatkan diri.

"Waktu itu saya harus dievakuasi, saya dibantu menggunakan tambang. Tapi dua jari saya terjepit di tambang dan akhirnya putus," ceritanya.

Akibat kejadian ini, dia juga sempat trauma. Selama sekian bulan dia tidak mau mengendarai alat berat lagi. Dua ruas jarinya yang terputus juga membuat dia tidak bisa mengoperasikan Beghu. "Saya sempat trauma," tuturnya.

Meski begitu, kebutuhan hidup harus terus dipenuhi. Dia pun memutuskan kembali mengoperasikan Beghu. Dari proyek ke proyek, dia makin lihai. Jarinya yang tak sempurna tidak menghambat dia bekerja. Delapan tuas Beghu masih bisa dioperasikan dengan luwes.

“Tapi sekarang nggak apa-apa, saya bisa mengoperasikan Beghu lagi,” ungkapnya bangga.

Pekerjaannya memang sangat berisiko. Karena itu, dia berharap, dua anaknya tidak meneruskan pekerjaan orangtua yang berbahaya ini.

"Saya berharap anak saya tentunya ada peningkatan, jangan seperti ayahnya," ujanya lirih

Sumber :  Okezone
.
Share this article :
 
Support : http://mutiara-florist.blogspot.com | www.pendidikanriau.com
Copyright © 2014. ARMEN SAPUTRA, S.Kom - Hak Cipta Dilindungi UU