Apa kabarnya Sipadan Kini ...?

Rabu, 19 Desember 20120 komentar


MASIH ingatkah dengan Sipadan? Pulau kecil di selat makasar yang diperebutkan oleh Indonesia dan Malaysia. 17 Desember 2012 tepat 10 tahun lalu Mahkamah Internasional memutuskan Sipadan menjadi milik Malaysia. 16 hakim dari 17 hakim Mahkamah Internasional menjatuhkan pilihannya pada Malysia atas dasar efektifitas. Malaysia dan kolonial Inggris dianggap lebih efektif merawat dan menjaga Sipadan dibanding Indonesia. Padahal sebenarnya Indonesia memiliki peluang yang sama besar dengan Malaysia untuk memiliki Sipadan dan Ligitan.

10 tahun berlalu kini nama pulau Sipadan kembali menjadi perhatian dunia. Situs wisata Lonely Planet menempatkan Sipadan sebagai salah satu dari sepuluh destinasi selam terbaik di dunia. Begitupun dengan koran Inggris The Telegraph yang menempatkan Sipadan menjadi salah satu dari 10 tempat wisata terbaik di dunia, bersanding dengan Blue hole di Belize dan pulau Cocos di Costa Rica.

Penasaran dengan kemasyurannya kini, akhirnya saya memutuskan untuk menyelam di Sipadan. Baru 3 meter saya memasuki lautnya, saya langsung disambut dengan ribuan jack fish yang sedang berenang berputar- putar. Begitu banyak jumlahnya hingga membuat laut menjadi gelap. Saya belum pernah melihat jack fish sebanyak ini, karena jack fish merupakan tangkapan yang diincar oleh nelayan maka jumlahnya biasanya tidak terkumpul hingga sebanyak ini.

Belum surut kekaguman saya, saya kembali dikejutkan dengan ribuan baracuda yang berenang berputar-putar tidak jauh dari lokasi jack fish. Banyaknya baracuda hingga tampak seperti angin puyuh besar yang sedang berputar. Saya juga banyak sekali menjumpai penyu hijau dan hawksbill turtle. Hewan langka yang dilidungi ini tampak tenang berenang diantara coral yang tumbuh sehat. Selain itu saya juga menjumpai banyak sekali hiu coral, jenis black tip dan white tip. Padahal kini hiu sudah jarang bisa ditemui oleh para penyelam karena penangkapannya yang tidak terkendali untuk diambil siripnya. Belum lagi berbagai jenis ikan lain yang tak kalah banyaknya.

Terdata ada 3000 jenis ikan dan ribuan jenis coral yang hidup di laut Sipadan. Ternyata inilah harta karun tersembunyi dari Sipadan yang selama ini diincar Malaysia.

Terlihat rantai makanan di laut Sipadan terjaga dengan baik, hingga laut Sipadan menjadi rumah yang nyaman bagi aneka mahluk hidup itu. Kekayaan yang luar biasa inilah daya tarik dari Sipadan, hingga mampu membawa pemasukan bahari nomor 1 bagi Malaysia. Namun kekayaan Sipadan ini tentunya tidak hanya anugrah alam semata namun juga merupakan hasil dari kepiawaian Malaysia dalam mengelola pariwisata yang berwawasan lingkungan.

Pemerintah Malaysia berani untuk mengambil langkah-langkah yang tidak populer bagi industri pariwisata demi menjaga lingkungan. Misalnya pemerintah merelokasi 6 resort yang sarat tamu untuk mengosongkan Sipadan dan memindahkannya ke pulau-pulau sekitar. Langkah ini diambil untuk meminimalisir pencemaran laut sipadan dari aktivitas resort.

Sementara di tengah godaan untuk meraih keuntungan maksimal dari banyaknya jumlah wisatawan, pemerintah Malaysia justru membatasi jumlah wisatawan menjadi hanya 120 orang saja perhari, demi menjaga lingkungan. Jumlah ini menurun drastis dari jumlah penyelam yang biasanya mencapai 800 orang perhari. Pemerintah juga menerapkan berbagai pembatasan bagi wisatawan untuk menjaga lingkungan laut. Pengawasan jumlah wisatawan ini termasuk ketat. Wisatawan yang masuk dicatat secara manual di sebuah papan tulis yang dapat dibaca oleh umum.

Selain itu pemerintah Malysia juga menetapkan larangan memancing di laut Sipadan. Menurut pengakuan Abdul nelayan Bajou Malaysia, jika melanggar area larangan memancing tersebut maka kapal mereka akan dikejar oleh petugas jaga yang menggunakan speed boat, maka sanksi denda sera kurungan penjarapun menanti para nelayan.

Pemerintah Malaysia memang menetapkan strategi wisata yang berwawasan lingkungan, ecotourism ke dalam kebijakan nasional sejak tahun 1995 ( The National Ecotourism Plan). Kebijakan nasional itu terus dipertajam setiap lima tahun sekali hingga kini.

Menurut kepala WWF Sabah, Moniq Alwine Sumampow, yang menarik dari strategi ecotourim Malaysia adalah, Malaysia tidak memiliki peraturan yang selengkap dan sebagus Indonesia. Namun Malaysia menetapkan law enforcement yang kuat dan tegas. Moniq mencontohkan larangan memancing bagi nelayan di laut Sipadan sebenarnya tidak memiliki dasar hukum yang kuat, karena laut Sipadan tidak dilindungi dengan status taman nasional. Namun walau tidak ada aturanya namun nelayan tidak berani mengambil ikan karena law enforecement yang tegas dari para penjaga pulau. Hal inilah yang menurut Moniq perbedaan signifikan dari pengembangan pariwisata berwawasan lingkungan Malaysia jika dibandingkan dengan Indonesia.

Bahkan penetapan pembatasan wisatawan juga ditanggapi positif oleh industri pariwisata. Robert Lo seorang pemilik resort mengatakan pembatasan jumlah wisatawan justru memberikan kepastian berinvestasi bagi para investor. Karena investor merasa diyakinkan bahwa kekayaan alam Sipadan akan tetap terjaga sehingga pariwisata terus berkelanjutan di Sipadan.

Sebenarnya strategi pengelolaan wisata ecotourism juga merupakan kunci sukses dari perkembangan pariwisata Indonesia. Indonesia memiliki keunggulan kekayaan dan keindahan alam yang merupakan daya tarik wisatawan. Sebut saja Raja Ampat, Wakatobi, Tanjung Puting atau kawasan Pulau Komodo.

Dalam beberapa tahun belakangan ecotourism terus menjadi trend wisata dunia. Wisata berbasis ecotourism kini meningkat tiga kali lebih cepat dibandingkan wisata massal (mass tourism). Bahkan diperkirakan pasar ecotourism akan meningkat sampai 25% di tahun 2012. Fenomena ini merupakan peluang yang harus digarap dengan serius, karena memang inilah keunggulan wisata Indonesia.

Mengingat pepatah belajarlah ke negeri seberang, marilah kita dengan kerendahan hati mencoba belajar dari kesuksesan negara tetangga mengelola potensi wisatanya agar terus berkelanjutan dan memberi kehidupan bagi warganya. Semoga Sipadan juga menjadi pelajaran berharga bagi Indonesia untuk merawat dan mengenal potensi pulau-pulau terluarnya. (Prita Laura)

Sumber : http://www.metrotvnews.com
Share this article :
 
Support : http://mutiara-florist.blogspot.com | www.pendidikanriau.com
Copyright © 2014. ARMEN SAPUTRA, S.Kom - Hak Cipta Dilindungi UU