PKL Tutup Jalan Cut Nyak
Dien Untuk Jualan Dimalam hari
Meskipun mendapat protes
dari sejumlah warga dengan keberadaan Pedagang Kaki Lima yang berada di Jalan
Cut Nyak Dien atau tepatnya di antara Gedung Pustaka Wilayah dan Kantor
Gubernur akibat ditutupnya jalan itu untuk tempat berjualan. Namun menurut PKL
tersebut mereka sudah mendapatkan dukungan dari masyarakat sehingga berani
berjualan.
"Kami berjualan disini karena mendapat restu dari
masyarakat. Kalau tidak ada restu kami tidak berani berjualan disini (Jalan Cut
Nyak Dien),"ujar Antoni Fitra perwakilan pedagang jalan cut nyak dien
kepada Tribun.
Menurut Antoni, pihak Pemko
hanya memikirkan kepentingan segolongan yakni pengusaha-pengusaha yang memiliki
modal besar dan ingin memusnahkan para pedagang kaki lima dengan membuat isu
penataan kota dan keindahan kota menuju metropolitan madani.
"Dulu
ada kita buat kain sepanjang 5 meter yang dibentangkan di jalan cut nyak dien
untuk meminta dukungan dari masyarakat. Nayatanya lebih dari 300 masyarakat
sudah menabuhkan tandatangannya sebagai bentuk dukungan terhadap PKL, coba paka
walikota tanya langsung kepada masyarakat,"ujar Antoni.
Jika
alasan Pemko mengganggu lalu lintas dan pusat perkantoran, menurut para
pedagang tersebut tidak mengganggu aktivitas perkantoran dan lalu lintas,
karena masih ada jalan alternatif lain bagi pengendara yang ingin melintas.
"Kami
melakukan aktivitas jualan dari pukul 18.00 sampai pukul 00.00 wib. Jadi tidak
ada mengganggu aktivitas masyarakat baik itu pegawai dan sebagainya. Malah
masyarakat lebih senang kami berjualan di sana (Cut Nyak Dien) karena
masyarakat lebih mudah belanja kebutuhan mereka,"ujar Bambang Irawan yang
juga merupakan pedagang kaki lima di Cut nyak dien.
Menurut sejumlah pedagang tersebut ada sebuah tawaran yang diberikan mereka terhadap Pemko yakni kota dua wajah, Yang mana disiang harinya diperuntukkan untuk jalan dan malamnya dijadikan sebagai tempat berjualan yang akan menghasilkan PAD buat Pemerintah.
"Kita sepakat konsep kota metropolitan madani. dengan keberadaan kita disana, saya rasa tidak mengganggu konsep itu, karena pada malamnya usai kita berjualan, lokasi itu bersih tidak ada bekasnya. Kita siap untuk membantu pemerintah dalam pendapatan, untuk itu segera dibuat Perwako mengenai keberadaan kami. kami secara tegas tolak relokasi yang diajukan Pemko, sekarang ketegasan pemerintah yang dibutuhkan," ujar Bambang Irawan.
Menurut sejumlah pedagang tersebut ada sebuah tawaran yang diberikan mereka terhadap Pemko yakni kota dua wajah, Yang mana disiang harinya diperuntukkan untuk jalan dan malamnya dijadikan sebagai tempat berjualan yang akan menghasilkan PAD buat Pemerintah.
"Kita sepakat konsep kota metropolitan madani. dengan keberadaan kita disana, saya rasa tidak mengganggu konsep itu, karena pada malamnya usai kita berjualan, lokasi itu bersih tidak ada bekasnya. Kita siap untuk membantu pemerintah dalam pendapatan, untuk itu segera dibuat Perwako mengenai keberadaan kami. kami secara tegas tolak relokasi yang diajukan Pemko, sekarang ketegasan pemerintah yang dibutuhkan," ujar Bambang Irawan.
Dilain
pihak, keberadaan pedagang kaki lima tersebut juga mendapatkan protes dari
sejumlah pengguna jalan yang melintas dijalan tersebut, Ririn misalnya warga
Jalan Balam ini yang setiap malamnya melintas dijalan itu mengaku terganggu
dengan keberadaan pedagang tersebut.
"Setiap melintas selalu saja macet karena banyaknya pedagang itu. Ditambah lagi banyaknya kenderaan yang parkir akhirnya macet,"ujar Ririn kepada Tribun.
"Setiap melintas selalu saja macet karena banyaknya pedagang itu. Ditambah lagi banyaknya kenderaan yang parkir akhirnya macet,"ujar Ririn kepada Tribun.
Tidak
hanya Ririn, warga lain Rasyid (36) warga yang selalu melintas dijalan itu juga
keberatan, karena semenjak keberadaan pedagang tersebut dirinya tidak bisa
melintas di jalan Cut Nyak Dien itu.
"Nggak apa-apa kalau mau jualan disana, tapi jangan ditutup dong jalannya, karena itu jalan umum yang diperuntukkan untuk masyarakat luas,"ujar Rasyid.
"Nggak apa-apa kalau mau jualan disana, tapi jangan ditutup dong jalannya, karena itu jalan umum yang diperuntukkan untuk masyarakat luas,"ujar Rasyid.
Hal
serupa juga diucapkan Heni (22) mahasiswi sebuah perguruan tinggi di Pekanbaru
ini mengaku keberatan dengan ditutupnya ruas jalan Cut nYak dien oleh pedagang
kaki lima tersebut. "Kalau mau jualan ya jualan saja. Jangan ditutuplah
jalannya,"ujar Heni.
Sementara
itu, menanggapi permasalahan tersebut Kapolresta Pekanbaru melalui Kasat Lantas
Kompol M Mustofa dengan didamping Kanit Dikyasa AKP Sunarti, apa yang terjadi
di ruas Jalan Cut Nyak Dien memang mengganggu kelancaran lalu lintas. Ditambah
lagi, pedagang beroperasi di situ secara ilegal.
Namun,
walaupun menutup jalan tersebut, pihak Sat Lantas tidak bisa menertibkan
pedagang yang beroprasi di Jalan Cut Nyak Dien. Pasalnya, kewenangan
menertibkan pedagang berada di tangan pemerintah dalam hal ini Sat Pol PP.
Ditambahkan
lagi, apabila ruas jalan ini hendak dijadikan tempat wisata, sebaiknya
dikoordinasikan dengan instansi terkait. Pasalnya, kata Sunarti, di wilayah
lain ada yang menerapkan sistem seperti itu. "Di Solo misalnya. Pada waktu
tertentu, sebuah ruas jalan ditutup kemudian menjadi areal wisata kuliner yang
dikenal sebaga Gladak Langen Bogan (Galabo)"ujar Sunarti.
Sumber : Tribun Pekanbaru

.jpg)