Setiap orang mengimpikan pasangan yang harmonis. Baik tua maupun muda. Pasangan yang harmonis tentu akan menciptakan rumah tangga bak surga dunia. Selalu hidup rukun tanpa ada konflik yang berarti.
Menjaga hubungan harmonis memang sangat sulit. Tidak heran jika sejumlah media massa menayangkan retaknya pasangan sejumlah artis. Ini menandakan bahwa hidup bergelimang harta bukan jaminan terjalinnya hubungan harmonis. Konflik muncul ketika dua pasangan saling mengetahui kekurangan masing-masing. Bahkan tidak jarang, mereka harus mengakhirinya dengan sebuah perpisahan.
Rasa kehilangan dapat membangkitkan berbagai macam emosi negatif seperti malu, sedih, takut, kesepian, marah, cemburu, dendam, dll. Kondisi seperti ini kadang menyebabkan orang larut dalam kesedihan. Mereka merasa tidak memiliki harapan masa depan yang cerah. Patah hati yang meraka rasakan telah menguasai alur pemikirannya bahwa mereka telah gagal.
Howard Bronson dan Mike Riley memberikan panduan dan tips mengatasi patah hati. Melalui buku Menyembuhkan Patah Hati dalam 30 Hari, mereka mengajak pembaca agar tidak berlarut dalam kesedihan.
“Salah satu cara terbaik untuk mencegah kesedihan adalah mengambil tindakan” (hlm. 7). Langkah-langkah yang harus dimasukkan dalam tindakan tersebut adalah perubahan diet, tidur yang cukup, relaksasi dan meditasi, olahraga, bernafas dengan benar, menimbang badan, manajemen marah, paradoks, rencana waktu, dan humor.
Merencanakan poin-poin tersebut memang tidak mudah. Pikiran yang labil seringkali dikuasai rasa emosional yang tinggi. Akibatnya, tindakan yang diambil seringkali menyalahi akal sehat. Tak jarang, orang yang mengalami patah hati harus mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.
Orang yang bijaksana selalu mengandalkan logikanya dalam bertindak. Dalam hal patah hati, mereka berusaha berfikir jernih dan menata masa depannya. Salah satu yang terbersit di benaknya adalah mereka masih memiliki harapan untuk bangkit dan memperbaiki kehidupannya.
“Kemampuan untuk memiliki harapan adalah bagian dari kemampuan untuk menerima perubahan. Harapan menerima bahwa gairah mungkin saja hilang atau berubah seiring berjalannya waktu. Harapan melihat bahwa meskipun mimpi kemarin tidak sesuai dengan kenyataan hari ini, petualangan keesokan hari masih memberikan harapan” (hlm. 108).
Memiliki harapan sama dengan memiliki kekayaan yang luar biasa. Tumbuhnya semangat hidup dan menjalani kehidupan demi masa depan yang lebih baik bisa terwujud jika dilandasi dengan sebuah harapan. Namun, harapan yang muncul dalam hati harus disertai dengan doa.
Sebagai orang yang beriman, doa memiliki peranan penting atas keputusan Tuhan di atas rencana kita. Berdoa adalah cara terbaik untuk memasrahkan diri kepada Tuhan terhadap peristiwa yang akan terjadi. Penulis buku ini juga memercayai adanya kekuatan yang lebih tinggi di atas kekuatan manusia.
“Masyarakat dari segala lapisan dapat menemukan kedamaian dan kesunyian untuk perenungan yang mereka butuhkan untuk melakukan penyerahan diri tersebut dengan pergi ke mesjid, gereja, pura, biara, atau kuil...” (hlm. 159).
Sebuah peluang besar menunggu siapa saja yang ingin menggapainya. Hidup bisa memberikan masa depan yang cerah. Seperti kata pepatah, orang sukses bukan orang yang tidak pernah gagal, tetapi sebarapa lama ia bangun dari kegagalan.
Menyadari adanya kegagalan adalah bagian dari proses, langkah berikutnya yang harus ditempuh adalah menggunakan rasio dalam bertindak. Hormon endorfin bisa berfungsi secara optimal. Hormon tersebut merupakan hormon di otak yang sama dengan morfin, sebuah obat pembangkit perasaan senang yang Anda produksi sendiri.
Buku ini tidak hanya membahas tentang penyembuhan, tetapi tentang belajar bagaimana agar tidak terlalu luka karena kehilangan, serta berbagai cara agar pikiran dan tubuh Anda jauh lebih kuat dari yang pernah Anda rasakan sebelumnya.
Intinya, buku ini menyajikan langkah solutif mengatasi rasa patah hati; mulai dari yang paling sederhana hingga mengadakan hubungan dengan Yang Maha Ghaib. Sebagaimana yang ditulis penulis buku ini, tujuan awal dari buku ini adalah memberi alat untuk menghilangkan stres dan depresi. Sedangkan tujuan kahir adalah menemukan kekuatan yang dibutuhkan untuk menyembuhkan luka hati.
Nah, bagi Anda yang terlanjur patah hati, buku ini layak dibaca. Jika Anda cermat mengikuti setiap tips yang tertera dalam buku ini, rasa sakit hati yang mendera batin Anda bisa sembuh hanya dalam jangka 30 hari. Mengikuti aturan main buku ini berarti mengubah sudut pandang peristiwa negatif menjadi sesuatu yang mampu membangkitkan semangat hidup menuju masa depan yang lebih cerah.
Peresensi: Suhairi Rachmad
Pecinta buku, tinggal di Ganding, Sumenep, Madura.
